Jadi bagaimana hari kali di weekend ini? Semoga menyenangkan!
Siang ini tentang Semesta.
Dan Semesta. Untuk ku pertemuan kami bukanlah suatu kebetulan. Aku selalu percaya itu dan entah dengan keajaiban apa, Tuhan dan semestalah yang menyebabkan kami bertemu. Pertemuan itu tidak mengesankan apa-apa pada awalnya. Aku menganggapnya pria biasa. Dia tak pernah benar-benar tau tentangku, begitupun sebaliknya. Yang dia tau aku hanyalah gadis biasa yang tak banyak berdandan.
Kami hanya bercakap lewat pesan singkat yang seperlunya saja. Basa basi yang membosankan sebenarnya; nama, kabar, alamat, pekerjaan, pendidikan, dan kegiatan. Tadinya harapan ku adalah basa basi yang menyenangkan, tapi ku pikir sama saja seperti yang lain. Setelah banyak bercerita akhirnya kami memutuskan untuk bertemu. Langit Depok yang cerah kala itu menjadi saksi bahwa dua anak manusia dipertemukan semesta untuk jatuh cinta. Jatuh cinta. Helaan napas selalu keluar saat mendengar kata itu. Ya harus diakui kisah cinta terakhir ku tidak begitu bagus. Dengan proses move on aku memutuskan untuk bertemu Semesta.
Ketertarikan ku memang tidak begitu menggebu. Entahlah. Kami memang belum mengenal terlalu lama, hubungan ku dengannya tidak begitu berjalan mulus diawal. Malah, aku masih dengan perasaan hancur karena kekasih yang lalu, dia masih pergi dengan perempuan lain, sebut saja perpempuan ini bernama Mega. 3 bulan pertama hubungan kami benar-benar kacau. Jarang bertemu, komunikasi yang tak seteratur orang yang sedang sakit harus mengonsumsi obat, aku yang masih senang dengan “menenggelamkan diri” di sisa-sisa cinta tak terbalas, Semesta yang masih menebar harapan-harapan tinggi kepada SE-MU-A PE-REM-PU-AN yang meharapkannya. Hubungan yang SA-NGAT TI-DAK-SE-HAT. Sungguh tak pernah terbayang hubungan kami akan sejauh dan seserius ini.
Semesta. Seperti pasangan lain, fase hubungan kami naik turun. Apalagi ketika kami hanya bertemua saat weekend. Semesta sibuk dengan pekerjaannya dan aku sibuk dengan pendidikan ku; saat itu. Aku yang tak pernah terbiasa dengan hubungan yang hanya bertemu di akhir pekan, ini seperti kiamat untuk ku. Sifat manja ku ini benar-benar bumerang untuk ku kali ini. Hubungan macam apa ini – pikir ku – bertemu jarang, rumah Semesta yang jauh, sibuk bekerja. Ini benar-benar neraka untuk ku.
Tahun pertama tersulit untuk ku. Ketika aku harus beradaptasi dengan hubungan aneh ini. Merasa tak diperhatikan, tak terakui, tidak menjadi prioritas, tidak menjadi satu-satunya, waktu bertemu sangat-sangat singkat. Ya Tuhan!! Ini kiamat! Dan TAHUN PERTAMA TERSULIT untuk ku, ter-su-lit! Kau tahu Semesta, tahun pertama tersulit untuk ku!
Yah harus aku akui, aku adalah anak satu-satunya dari pasangan suami istri yang sekarang menjadi orang tua ku. Mungkin Bapak dan Ibu keras mendidik ku, berusaha tidak memanjakan ku, tapi tetap saja apa yang aku mau – walau tak langsung diberikan – mereka tetap menuruti. Dan kalau dilihat kisah pacaran ku sebelumnya, aku tak pernah merasa kesulitan ketika ingin bertemu, tidak sulit hanya untuk makan siang bersama, tidak sulit untuk bertemu walau hanya sekedar menemani ku memesan segelas milkshake coklat kesukaan ku. Tapi menjalin hubungan dengan Semesta semua itu menjadi sulit tidak mudah dilakukan.
Semesta adalah sosok yang begitu sabar menghadapi semua tindakan konyol dan kekanak-kanakan ku. Semua keinginan ku yang kadang tak bisa untuk dikatakan “gak”. Hahaha. Kasihan kau nak.
Semesta punya pribadi menyenangkan, walau bukan tipe pencerita. Dia cerdas, dan aku selalu jatuh cinta pada laki-laki pintar. Dia paham betul dengan agama yang dia anut. Dia orang yang selalu optimistis. Semesta selalu punya mimpi. Semesta selalu tahu bagaimana cara meluluhkan hati My Ibu. Hihihi. Sosok yang begitu mencintai Ibunya – yang tak sungkan mencium pipi Ibunya di tempat ramai. Seorang laki-laki yang mempunyai prinsip hidup yang kuat. Anak laki-laki begitu menghormati Ayahnya. Laki-laki tegas yang mempunyai hati lembut. Laki-laki yang tahu bagaimana memperlakukan perempuan. Dia adalah sosok pendengar yang baik, teman cerita yang menyenangkan. Orang yang selalu menantikan cerita kagiatan ku selama seharian beraktifitas.
Semesta adalah orang mengajarkan ku bagaimana hidup yang terus berpikir positif. Mengajari bagaimana menghormati orang lain. Orang yang selalu mengingatkan ku untuk selalu mengahargai dan mengucapkan terima kasih kepada orang lain, walau usaha orang itu sangat kecil.
Semesta adalah sosok yang bisa menerima semua kekurangan ku. Laki-laki yang selalu memberikan semangat untuk ku ketika dunia mulai memojokkan ku. Matahari yang sebenarnya, yang aku rindukan yang selalu memeluk ku hangatnya. Laki-laki yang dengan ikhlas dan tulus mencintai ku. Laki-laki yang rela kemejanya basah ketika aku menangisi kehidupan yang sulit. Semesta, dia yang sabar menghadapi ego ku yang kadang sangat keterlaluan, laki-laki yang sabar mendengar rancauan ku selama berjam-jam. Dia yang selalu mengulurkan tangannya untuk menemani ku berjalan dalam gelap.
Sungguh aku sangat bersyukur dengan hubungan ini. Hubungan tak pernah terbayangkan sebelumnya. Terima kasih untuk semua yang sudah kamu lakukan Sayang. Untuk saat ini yang bisa aku lakukan adalah selalu menyisipkan namamu di setiap sujud ku pada-Nya dan memelukmu dalam doa kepada-Nya ketika dunia sedang terasa sulit untuk kita. Sayang, mungkin peluk ku tak sehangat senja, mungkin kata ku tak seindah lukis pelangi Sang Pelukis, namun aku lah yang akan menjadi orang pertama yang akan menggenggam tangan mu ketika kau mulai kehilangan pegangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar