Sabtu, 27 Mei 2017

Luka itu..

ternyata luka itu belum sembuh benar.

Dulu aku bertahan diatas kaki sendiri, dengan semua luka dan sebuah lubang kasat mata di hati, dengan semua perih dan sakit yang sebenarnya tak pernah bisa aku tahan.

Dulu doa ku selalu sama, meminta kepada-Nya untuk kamu kembali kepada ku. Pikir ku dengan kamu kembali semua luka ku akan sembuh. Dan mindset itu yang aku tanam selama ini. Doktrin untuk diri ku sendiri.

______

Malam ini, aku mencoba untuk bertaruh pada peruntungan hati. Mencoba sudah sejauh mana luka itu sembuh, dengan kamu yang saat ini kembali "pulang ke beranda rumah" ku, dengan kamu yang saat ini mengaku benar-benar ingin bersama ku.

Tindakan bodoh? Ya, memang.

Aku sengaja menelusuri salah satu akun media sosial mu, menggeser beberapa foto yang dulu pernah kau unggah sebelum kita berpisah. Ku buka beberapa foto yang dulu sempat aku komentari dan kemudian kamu hapus. Ku pikir aku akan baik-baik saja, tapi nyatanya tidak sama sekali.

Ternyata luka itu belum sembuh benar, masih ada perih yang menjalar. Masih ada sakit yang terasa. Dan masih ada beberapa butir air di pelupuk mata yang masih belum bisa tertahan agar tak terjatuh.

Kamu sudah kembali padaku. Bukankah seharusnya luka ini sembuh?
Kamu sudah berkata akan sungguh-sungguh dengan ku. Bukankah seharusnya perih ini tak terasa lagi?
Peluk hangatmu seharusnya menjadi rumah untuk ku. Bukankah seharusnya tak ada lagi bulir air dipelupuk mataku?

......................................

Lalu malam ini apa?
Adakah yang salah, yang tak kusadari?

Minggu, 21 Mei 2017

Memorable~

Senja..
Entah sudah berapa aksara ku yang menceritakan tentang senja. Aku mencintai senja sebesar aku membencinya.

Aku mencintai senja. Dan kamu sama seperti senja.
Untuk bisa menyentuh mu bukan hal yang mudah tentu saja. Aku lama menunggumu namun kamu hanya hanya  singgah sebentar. Terlalu sebentar hingga ku harus menahan keinginan untuk bertemu kembali.

Lalu kamu hanya tersenyum. Senyum yang paling hangat untuk satu harus yang aku lalui. Senyum yang telah meluluhkan ego ku. Senyum yang harus yang membuat ku harus repot-repot menerima semuanya tentang kamu. Senyum yang bahkan sangat aku rindukan.

Singgahmu mengajarkan arti rindu.

Bagiku, pernah jatuh cinta padamu itu seperti mengagumi senja; kamu yang datang entah dari mana, dan aku pun suka.

Tapi...

Bila mencintai senja juga sebesar aku membencinya, pun dengan mu.
Untuk ku senja adalah sebuah pembatas antara siang dan malam. Ya, senja adalah pemisah agar keduanya tidak berjumpa. Senja, sebuah penanda berakhirnya cerita. Hadirnya seperti sebuah kata pinta agar sang mentari meredup dan membiarkan awan gelap menjadi penguasa langit.

Seperti kamu; kamu pernah menjadi pemisah antara aku dengan hal yang biasa aku sebut; bahagia. Lalu kamu memilih untuk pergi. Kepergianmu adalah sebuah penanda berakhirnya sebuah cerita. Kerpegian mu seperti sebuah kata pinta agar cahaya ku redup dan berganti dengan awan gelap.

Kamis, 18 Mei 2017

Untuk Kamu yang (juga) Mencintai Lelakiku

Maaf bila aku harus menuliskan ini untuk mu..

Aku hanya ingin membicarakan perihal yang telah menggagu pikiranku akhir-akhir ini. Aku tak mengenalmu dengan baik. Namun, ada satu titik dimana aku bisa mengetahuimu ada sesuatu yg mungkin bisa aku anggap keliru.  Lewat laki-laki kesayanganku. Mungkin kamu memang menaruh harapan padanya. Beberapa kali aku memergoki kalian sedang saling berbalas komentar. Awalnya aku sama sekali tak keberatan. Bukannya sama sekali tak memikirkan hal-hal atau prasangka buruk, tetapi auramu sama sekali tak menunjukkan hal negatif.

Teman Biasa

Aku pun berpikir kalian hanya berteman biasa. Lama kelamaan, aku mendapatimu mulai memanggilnya dengan sebutan mu dan sebaliknya.

Curiga memang, jelas betul memang. Aku mulai merasa kamu mulai menaruh harapan padanya. Kamu tahu? Aku pernah membahas ini dengannya, tapi ia meyakinkan aku bahwa kamu tahu aku sudah miliknya.

kamu mengaku mencintai dia; lelaki ku.

Aku dan kamu sama, sama-sama wanita. Aku memahami gerak gerikmu, gerak tanda minta diperhatikan. Tapi maafkan aku jika ini menyinggung mu. Aku tak bermaksud untuk tidak menghormatimu. Namun bisakah kaau menjaga perasaan ku?

Menjaga perasaan wanita yang aku yakin kau juga  merasakannya; perasaan seorang wanita yang kekasihnya dicintai oleh wanita lain.

Sungguh bukan aku mau membatasi sebuah pertemanan, bahkan aku selalu setuju dengan pernyataan "kamu tidak boleh melarang orang jatuh cinta dengan siapa". Hanya saja caramu berteman dengannya yang yang menurut ku salah. Hak mu untuk mencintai lelaki ku, tapi kewajiban mu pula ketika kau harus bisa menahan diri untuk tidak melanjutkan, karena lelaki itu sudah menjadi milik perempuan lain selain ibunya.

Mungkin saat ini aku tak mampu melepas segenggam kerinduannya, tak mampu terhuyung dalam aroma tubuhnya, atau mungkin tak mampu menemani dia hanya untuk melepas lelah menikmati sacangkir kopi panas, seperti kau yang dengan mudahnya keluar malam, mengajak lelaki ku untuk bersantai di area publik yang kebetulan dekat dengan rumahnya. Kamu tahu kenapa?

KARENA AKU WANITA BAIK-BAIK, 
YANG TIDAK BISA KELUAR HINGGA LARUT MALAM

Tapi aku rasa dia tak mendambakan perhatianmu sedikitpun. Cobalah kita gunakan logika, mulai membangun akal sehat bahwa seorang yang telah memiliki kekasih jangan kau ganggu peraduannya. Mungkin sosoknya sering tertandang di pikiranmu, terserah menyelinap atau bagaimana kau ingin masuk ke pikirannya. Tapi jangan berharap itu bisa terjadi!

Aku minta maaf kalau prasangka ku salah, bukan karena aku tak membiarkan dia untuk bisa berteman denganmu. Tapi aku tak tahan melihatnya. Maafkan aku yang egois dan tak memberimu kesempatan sedikitpun. Aku percaya di luar sana banyak yang membutuhkan dan menginginkan mu. Namun, maaf mereka itu bukan lelakiku.

Senin, 27 Maret 2017

Lalu, haruskah?

Kemudian hati ku patah utk kesekian kalinya
Dan pagi masih memberi harap untuk hal yang mungkin tak bisa aku gapai (lagi); hatimu.

Terkadang ketika kita terlalu mencinta, kita sering kali terlupa bahwa tidak semua hati patut diperjuangkan. Sebab, ada hati yang tak mungkin diluluhkan, sekalipun kita sudah berjuang mati-matian. Seperti aku kepada hatimu, misalnya.

Menujumu; sebuah frasa yang sedang aku lakukan dan itu sudah setengah jalan. Namun separuh hati mu saja seakan tak mungkin aku dapatkan.

Aku sadar, terkadang aku terlalu berusaha untuk menciptakan getaran-getaran itu tampak nyata. Seperti rasa yang tak pernah habis kehilangan asa. Lalu, haruskah "kita" yang sudah aku rangkai dan belum sempat dimulai, harus menemui kata selesai?

Kusebut kamu dengan debar tanpa usai. Sebab, meski cinta ini tak pernah diberi balasan, tetap pada hatimu aku selalu menginginkan. Kusebut kamu satu-satunya penantian; sebab, untukmu, aku selalu menjaga hati, tanpa pernah tahu bagaimana membuat harap ini mati.

Aku mengejarmu, kamu mengejar bukan aku. Kita seperti berlari dilingkaran berliku yang ujungnya tak akan pernah berbalik menujuku.

Adakah kiranya setitik aku dalam lubuk hatimu yang terdalam? Sama seperti keinginanku akan kamu yang tak pernah bisa diam.  Pernah ku coba menyerah, namun hati sudah tak bisa mengubah arah. Entah apa yang akan terlintas dibenakmu jika tahu bahwa aku telah menginginkan mu sedalam ini. Aku pernah melupakan harga diri demi mendapatkanmu di sisi. Dan aku merasa tak keberatan tersakiti hanya untuk menjadi milikmu.

.......


Aku layaknya seorang bodoh yang bahagia. Ah, biar saja.

....


Dan kamu disana, tidak tahu memikirkan apa. Entah di bagian mana aku disepanjang garis pedulimu. Mungkin aku hanyalah semu..

Padamu, aku masih saja menggantungkan harap yang entah kapan akan terjawab.
Padamu, aku masih saja mendamba segala sesuatu yang indah tentang kita.
Entah akan sampai kapan? mungkin hingga pada suatu hari itu, kamu menyadari (kembali) segala perasaan dan berkeinginan (kembali) untuk membuka "pintu" itu (lagi) secara perlahan - yang entah kapan.



----------
Kamu sedang siang ini? Semoga semesta masih berbaik hati untuk membagi kebahagiaan itu kepada mu.


Kamis, 23 Maret 2017

Semoga

Hari ini, beberapa daripadaku telah tampak tak kasat mata di kepunyaan mu. Disaat aku ingin menjadi satu-satunya titik yang kau pandang lekat-lekat, kenyataan menjawabnya dengan pahit yang teramat pekat. Sebab, yang ada pada ku memang tidak untuk menjadi sesuatu yang menarik perhatianmu.
Teriakan yang tak terdengar atau memang kamu enggan menoleh lalu sadar?
Keberadaan yang tak terlihat atau memang kamu yang enggan untuk kita menjadi terlalu dekat..

Rasanya aku tak begitu berbeda dengan yang lainnya. Namun mengapa tak kamu berikan aku tatapan yang sama? Harus sejauh mana aku menyentuh hatimu, agar setidaknya kamu tak buru-buru berlalu dari sisiku? Ku kira mencintai lewat mimpi tak pernah senyata ini, kecuali padamu.

Lalu, ketika kini aku terlanjur cinta, rasa ini harus dibawa kemana? Sementara ke hatimu saja tak kutemukan jalannya.

Kamu seperti terlalu jauh untuk ku rengkuh atau kedekatan memang tak pernah kau inginkan? Sebab berulang kali aku menunjukkan diri, namun tak sekali pun kamu menyadari bahwa aku selalu ada. Bagaimana bila rasa ini bukanlah untuk sementara? Bagaimana bila aku tak sanggup lagi untuk menunggu lebih lama? Barangkali terlalu sulit bagimu untuk menaruh peduli, sedangkan terlalu mudahnya aku memberi hatiku.

Meski kamu mulai memilih jalan ke pintu hatiku namun dengan memutar jalan begitu jauh, ingatlah bahwa itu tak berarti aku tak menunggumu di balik pintu itu. Bisa jadi, di suatu waktu yang entah kapan, kamu tersesat kemudian berteduh di beranda rumah ku. Bisa jadi, ketika perjalananmu sudah terlalu jauh dan lelah, kamu menemui nyaman nan hangat pada peluk ku.

Meski yang mereka lihat ialah aku selalu menerima, ingatlah, tak berarti aku tidak berusaha.
Barangkali disuatu waktu yang entah kapan, kamu akan mendengar..
Barangkali disuatu titik yang entah dimana, aku akan terlihat..

Semoga suatu hari entah kapan, kamu akan tahu bahwa aku pernah sebegitunya ingin untuk diinginkan.
Semoga suatu hari entah kapan, kamu akan tahu bahwa aku pernah sebegitunya ingin untuk terlihat.
Semoga pada suatu hari itu, segala sesuatunya belumlah terlambat

Rabu, 22 Maret 2017

Hanya singgahkah?

Tidak semua orang siap dengan pengakuan..

Baru terhitung 5 senja terlewati, koreksi aku bila aku salah. Sejak aku memberanikan diri mengutarakan segalanya.

Kemudian aku menyebutmu sebagai rumah; dan jelas bukan persinggahan. Kamu menyamankan, mengamankan dan menyenangkan. Kamu alasan dibalik segala kepulangan ku. Melewati malam-malam sulit dengan menemukan mu ada disana saja sudah meringankan ku. Menghabiskan berjam-jam dalam diam atau percakapan  yang tak kenal pemberhentian adalah beberapa hal yang tak pernah bisa ku tolak darimu.

Terlalu tinggikah jika bahagia yang paling sederhana buatku itu, kamu? Terlalu egoiskah jika aku hanya ingin kamu, bukan yang lain?

Karena dekat dengan mu, kesedihan ku tidur dengan lelap; di-ninabobo-kan oleh rasa nyaman yang terlalu sulit ku gambarkan.
Senyummu, sudah memasuki dosis manis yang terlalu kritis. Aku terlalu suka dan tak bisa ku cegah untuk bersikap lebih biasa dari biasanya.
Perlakuanmu magis, mengusir tangis jadi tawa paling manis.
Dan akhirnya aku semakin dibuat jatuh untuk cinta yang semoga saja tak salah.

Sampai lupa mempertanyakan satu hal paling fatal, yang membuat segala luka menjadi kekal.

termasuk apakah aku buatmu?
sebuah tempat kamu pulang atau hanya singgah?

Karena aku terlalu takut, bahwa bukan hanya aku saja yang mencicip manis yang saat ini kamu ciptakan. Karena aku terlalu takut terburu-buru menetapkan hati pada yang sebenarnya menganggapku dengan setengah hati.

Jika nanti ada jarak yang menggagalkan kita untuk bersama, bolahkah aku tetap memanggil mu rumah?
Tempat kemana aku mengirimkan rindu meski jauhnya jarak memisahkan.
Dan tempat kemana hati yang lelah ini ingin selalu pulang..


Jumat, 10 Maret 2017

Apa kau... ?

apa kau sanggup meninggalkan ku?
Kau pernah sanggup mencintai ku..

Apa kau perlu membenci aku?
Aku pernah kamu perlukan..

Apa kau ingin melupakan ku?
Kau pernah ingin aku ingatkan..

Apa kau mampu menyakiti ku?
Kau pernah mampu melindungi ku..

Apa kau bisa hidup tanpa ku?
Kau pernah bisa hidup dengan ku..

Apa kau mau menjauhi ku?
Kau pernah mau mendekati dan bertahan dengan ku ..

Apa kau merasa harus memaki aku?
Aku pernah merasa memuji kamu..

Apa kau rela aku bersedih?
Kau pernah rela menahan air mata ku..

Apa kau tidak percaya aku?
Dulu kau pernah meyakinkan ku..

apa kau tidak merindukan ku?
kau pernah sangat rindu padaku..

Apa yang tidak hidup, kadang akan memberi kehidupan. Ia begerak seperti angin mengangkat air lautan. Ia bergerak seperti angin mengajak daun menari. Namun inilah hidup, hidup ku. Kumpulan yang membawa mimpi jadi kenyataan.

Langkah-langkah kecil yang kau kuatkan. Suatu hari aku percaya, aku akan menjadi aku yang kau impikan. Biar lepas emas dari tangan ku, tapi tidak kamu dari hati ku. Tetaplah disisiku, jangan menjauh, sebab cinta itu baik di kedekatan.

Peluk mu itu menguatkan, demi peluk mu juga aku berjuang..




*disclamire copy right of..with a little beat change