ternyata luka itu belum sembuh benar.
Dulu aku bertahan diatas kaki sendiri, dengan semua luka dan sebuah lubang kasat mata di hati, dengan semua perih dan sakit yang sebenarnya tak pernah bisa aku tahan.
Dulu doa ku selalu sama, meminta kepada-Nya untuk kamu kembali kepada ku. Pikir ku dengan kamu kembali semua luka ku akan sembuh. Dan mindset itu yang aku tanam selama ini. Doktrin untuk diri ku sendiri.
______
Malam ini, aku mencoba untuk bertaruh pada peruntungan hati. Mencoba sudah sejauh mana luka itu sembuh, dengan kamu yang saat ini kembali "pulang ke beranda rumah" ku, dengan kamu yang saat ini mengaku benar-benar ingin bersama ku.
Tindakan bodoh? Ya, memang.
Aku sengaja menelusuri salah satu akun media sosial mu, menggeser beberapa foto yang dulu pernah kau unggah sebelum kita berpisah. Ku buka beberapa foto yang dulu sempat aku komentari dan kemudian kamu hapus. Ku pikir aku akan baik-baik saja, tapi nyatanya tidak sama sekali.
Ternyata luka itu belum sembuh benar, masih ada perih yang menjalar. Masih ada sakit yang terasa. Dan masih ada beberapa butir air di pelupuk mata yang masih belum bisa tertahan agar tak terjatuh.
Kamu sudah kembali padaku. Bukankah seharusnya luka ini sembuh?
Kamu sudah berkata akan sungguh-sungguh dengan ku. Bukankah seharusnya perih ini tak terasa lagi?
Peluk hangatmu seharusnya menjadi rumah untuk ku. Bukankah seharusnya tak ada lagi bulir air dipelupuk mataku?
......................................
Lalu malam ini apa?
Adakah yang salah, yang tak kusadari?
Sabtu, 27 Mei 2017
Minggu, 21 Mei 2017
Memorable~
Senja..
Entah sudah berapa aksara ku yang menceritakan tentang senja. Aku mencintai senja sebesar aku membencinya.
Aku mencintai senja. Dan kamu sama seperti senja.
Untuk bisa menyentuh mu bukan hal yang mudah tentu saja. Aku lama menunggumu namun kamu hanya hanya singgah sebentar. Terlalu sebentar hingga ku harus menahan keinginan untuk bertemu kembali.
Lalu kamu hanya tersenyum. Senyum yang paling hangat untuk satu harus yang aku lalui. Senyum yang telah meluluhkan ego ku. Senyum yang harus yang membuat ku harus repot-repot menerima semuanya tentang kamu. Senyum yang bahkan sangat aku rindukan.
Singgahmu mengajarkan arti rindu.
Bagiku, pernah jatuh cinta padamu itu seperti mengagumi senja; kamu yang datang entah dari mana, dan aku pun suka.
Tapi...
Bila mencintai senja juga sebesar aku membencinya, pun dengan mu.
Untuk ku senja adalah sebuah pembatas antara siang dan malam. Ya, senja adalah pemisah agar keduanya tidak berjumpa. Senja, sebuah penanda berakhirnya cerita. Hadirnya seperti sebuah kata pinta agar sang mentari meredup dan membiarkan awan gelap menjadi penguasa langit.
Seperti kamu; kamu pernah menjadi pemisah antara aku dengan hal yang biasa aku sebut; bahagia. Lalu kamu memilih untuk pergi. Kepergianmu adalah sebuah penanda berakhirnya sebuah cerita. Kerpegian mu seperti sebuah kata pinta agar cahaya ku redup dan berganti dengan awan gelap.
Entah sudah berapa aksara ku yang menceritakan tentang senja. Aku mencintai senja sebesar aku membencinya.
Aku mencintai senja. Dan kamu sama seperti senja.
Untuk bisa menyentuh mu bukan hal yang mudah tentu saja. Aku lama menunggumu namun kamu hanya hanya singgah sebentar. Terlalu sebentar hingga ku harus menahan keinginan untuk bertemu kembali.
Lalu kamu hanya tersenyum. Senyum yang paling hangat untuk satu harus yang aku lalui. Senyum yang telah meluluhkan ego ku. Senyum yang harus yang membuat ku harus repot-repot menerima semuanya tentang kamu. Senyum yang bahkan sangat aku rindukan.
Singgahmu mengajarkan arti rindu.
Bagiku, pernah jatuh cinta padamu itu seperti mengagumi senja; kamu yang datang entah dari mana, dan aku pun suka.
Tapi...
Bila mencintai senja juga sebesar aku membencinya, pun dengan mu.
Untuk ku senja adalah sebuah pembatas antara siang dan malam. Ya, senja adalah pemisah agar keduanya tidak berjumpa. Senja, sebuah penanda berakhirnya cerita. Hadirnya seperti sebuah kata pinta agar sang mentari meredup dan membiarkan awan gelap menjadi penguasa langit.
Seperti kamu; kamu pernah menjadi pemisah antara aku dengan hal yang biasa aku sebut; bahagia. Lalu kamu memilih untuk pergi. Kepergianmu adalah sebuah penanda berakhirnya sebuah cerita. Kerpegian mu seperti sebuah kata pinta agar cahaya ku redup dan berganti dengan awan gelap.
Kamis, 18 Mei 2017
Untuk Kamu yang (juga) Mencintai Lelakiku
Maaf bila aku harus menuliskan ini untuk mu..
Aku hanya ingin membicarakan perihal yang
telah menggagu pikiranku akhir-akhir ini. Aku tak mengenalmu dengan baik. Namun, ada satu titik dimana
aku bisa mengetahuimu ada
sesuatu yg mungkin bisa aku anggap keliru. Lewat
laki-laki kesayanganku. Mungkin kamu memang menaruh harapan padanya. Beberapa
kali aku memergoki kalian sedang saling berbalas komentar. Awalnya aku sama
sekali tak keberatan. Bukannya sama sekali tak memikirkan hal-hal atau
prasangka buruk, tetapi auramu sama sekali tak menunjukkan hal negatif.
Teman Biasa
Aku pun berpikir kalian hanya berteman biasa. Lama kelamaan, aku mendapatimu mulai memanggilnya dengan sebutan mu dan sebaliknya.
Curiga memang, jelas betul memang. Aku
mulai merasa kamu mulai menaruh harapan padanya. Kamu tahu? Aku pernah membahas
ini dengannya, tapi ia meyakinkan aku bahwa kamu tahu aku sudah miliknya.
kamu
mengaku mencintai dia; lelaki ku.
Aku dan kamu sama, sama-sama wanita. Aku
memahami gerak gerikmu, gerak tanda minta diperhatikan. Tapi maafkan aku jika
ini menyinggung mu. Aku tak bermaksud untuk tidak menghormatimu. Namun bisakah
kaau menjaga perasaan ku?
Menjaga perasaan wanita yang aku yakin kau
juga merasakannya; perasaan seorang wanita yang kekasihnya dicintai oleh
wanita lain.
Sungguh bukan aku mau membatasi sebuah
pertemanan, bahkan aku selalu setuju dengan pernyataan "kamu tidak
boleh melarang orang jatuh cinta dengan siapa". Hanya saja caramu
berteman dengannya yang yang menurut ku salah. Hak mu untuk mencintai lelaki
ku, tapi kewajiban mu pula ketika kau harus bisa menahan diri untuk tidak melanjutkan,
karena lelaki itu sudah menjadi milik perempuan lain selain ibunya.
Mungkin saat ini aku tak mampu melepas
segenggam kerinduannya, tak mampu terhuyung dalam aroma tubuhnya, atau mungkin
tak mampu menemani dia hanya untuk melepas lelah menikmati sacangkir kopi
panas, seperti kau yang dengan mudahnya keluar malam, mengajak lelaki ku untuk
bersantai di area publik yang kebetulan dekat dengan rumahnya. Kamu tahu
kenapa?
KARENA AKU WANITA BAIK-BAIK,
YANG TIDAK BISA KELUAR HINGGA LARUT MALAM
Tapi aku rasa dia tak mendambakan perhatianmu sedikitpun. Cobalah kita gunakan logika, mulai membangun akal sehat bahwa seorang yang telah memiliki kekasih jangan kau ganggu peraduannya. Mungkin sosoknya sering tertandang di pikiranmu, terserah menyelinap atau bagaimana kau ingin masuk ke pikirannya. Tapi jangan berharap itu bisa terjadi!
Aku minta maaf kalau prasangka ku salah, bukan karena aku tak membiarkan dia untuk bisa berteman denganmu. Tapi aku tak tahan melihatnya. Maafkan aku yang egois dan tak memberimu kesempatan sedikitpun. Aku percaya di luar sana banyak yang membutuhkan dan menginginkan mu. Namun, maaf mereka itu bukan lelakiku.
Langganan:
Postingan (Atom)