Sabtu, 27 Mei 2017

Luka itu..

ternyata luka itu belum sembuh benar.

Dulu aku bertahan diatas kaki sendiri, dengan semua luka dan sebuah lubang kasat mata di hati, dengan semua perih dan sakit yang sebenarnya tak pernah bisa aku tahan.

Dulu doa ku selalu sama, meminta kepada-Nya untuk kamu kembali kepada ku. Pikir ku dengan kamu kembali semua luka ku akan sembuh. Dan mindset itu yang aku tanam selama ini. Doktrin untuk diri ku sendiri.

______

Malam ini, aku mencoba untuk bertaruh pada peruntungan hati. Mencoba sudah sejauh mana luka itu sembuh, dengan kamu yang saat ini kembali "pulang ke beranda rumah" ku, dengan kamu yang saat ini mengaku benar-benar ingin bersama ku.

Tindakan bodoh? Ya, memang.

Aku sengaja menelusuri salah satu akun media sosial mu, menggeser beberapa foto yang dulu pernah kau unggah sebelum kita berpisah. Ku buka beberapa foto yang dulu sempat aku komentari dan kemudian kamu hapus. Ku pikir aku akan baik-baik saja, tapi nyatanya tidak sama sekali.

Ternyata luka itu belum sembuh benar, masih ada perih yang menjalar. Masih ada sakit yang terasa. Dan masih ada beberapa butir air di pelupuk mata yang masih belum bisa tertahan agar tak terjatuh.

Kamu sudah kembali padaku. Bukankah seharusnya luka ini sembuh?
Kamu sudah berkata akan sungguh-sungguh dengan ku. Bukankah seharusnya perih ini tak terasa lagi?
Peluk hangatmu seharusnya menjadi rumah untuk ku. Bukankah seharusnya tak ada lagi bulir air dipelupuk mataku?

......................................

Lalu malam ini apa?
Adakah yang salah, yang tak kusadari?

Minggu, 21 Mei 2017

Memorable~

Senja..
Entah sudah berapa aksara ku yang menceritakan tentang senja. Aku mencintai senja sebesar aku membencinya.

Aku mencintai senja. Dan kamu sama seperti senja.
Untuk bisa menyentuh mu bukan hal yang mudah tentu saja. Aku lama menunggumu namun kamu hanya hanya  singgah sebentar. Terlalu sebentar hingga ku harus menahan keinginan untuk bertemu kembali.

Lalu kamu hanya tersenyum. Senyum yang paling hangat untuk satu harus yang aku lalui. Senyum yang telah meluluhkan ego ku. Senyum yang harus yang membuat ku harus repot-repot menerima semuanya tentang kamu. Senyum yang bahkan sangat aku rindukan.

Singgahmu mengajarkan arti rindu.

Bagiku, pernah jatuh cinta padamu itu seperti mengagumi senja; kamu yang datang entah dari mana, dan aku pun suka.

Tapi...

Bila mencintai senja juga sebesar aku membencinya, pun dengan mu.
Untuk ku senja adalah sebuah pembatas antara siang dan malam. Ya, senja adalah pemisah agar keduanya tidak berjumpa. Senja, sebuah penanda berakhirnya cerita. Hadirnya seperti sebuah kata pinta agar sang mentari meredup dan membiarkan awan gelap menjadi penguasa langit.

Seperti kamu; kamu pernah menjadi pemisah antara aku dengan hal yang biasa aku sebut; bahagia. Lalu kamu memilih untuk pergi. Kepergianmu adalah sebuah penanda berakhirnya sebuah cerita. Kerpegian mu seperti sebuah kata pinta agar cahaya ku redup dan berganti dengan awan gelap.

Kamis, 18 Mei 2017

Untuk Kamu yang (juga) Mencintai Lelakiku

Maaf bila aku harus menuliskan ini untuk mu..

Aku hanya ingin membicarakan perihal yang telah menggagu pikiranku akhir-akhir ini. Aku tak mengenalmu dengan baik. Namun, ada satu titik dimana aku bisa mengetahuimu ada sesuatu yg mungkin bisa aku anggap keliru.  Lewat laki-laki kesayanganku. Mungkin kamu memang menaruh harapan padanya. Beberapa kali aku memergoki kalian sedang saling berbalas komentar. Awalnya aku sama sekali tak keberatan. Bukannya sama sekali tak memikirkan hal-hal atau prasangka buruk, tetapi auramu sama sekali tak menunjukkan hal negatif.

Teman Biasa

Aku pun berpikir kalian hanya berteman biasa. Lama kelamaan, aku mendapatimu mulai memanggilnya dengan sebutan mu dan sebaliknya.

Curiga memang, jelas betul memang. Aku mulai merasa kamu mulai menaruh harapan padanya. Kamu tahu? Aku pernah membahas ini dengannya, tapi ia meyakinkan aku bahwa kamu tahu aku sudah miliknya.

kamu mengaku mencintai dia; lelaki ku.

Aku dan kamu sama, sama-sama wanita. Aku memahami gerak gerikmu, gerak tanda minta diperhatikan. Tapi maafkan aku jika ini menyinggung mu. Aku tak bermaksud untuk tidak menghormatimu. Namun bisakah kaau menjaga perasaan ku?

Menjaga perasaan wanita yang aku yakin kau juga  merasakannya; perasaan seorang wanita yang kekasihnya dicintai oleh wanita lain.

Sungguh bukan aku mau membatasi sebuah pertemanan, bahkan aku selalu setuju dengan pernyataan "kamu tidak boleh melarang orang jatuh cinta dengan siapa". Hanya saja caramu berteman dengannya yang yang menurut ku salah. Hak mu untuk mencintai lelaki ku, tapi kewajiban mu pula ketika kau harus bisa menahan diri untuk tidak melanjutkan, karena lelaki itu sudah menjadi milik perempuan lain selain ibunya.

Mungkin saat ini aku tak mampu melepas segenggam kerinduannya, tak mampu terhuyung dalam aroma tubuhnya, atau mungkin tak mampu menemani dia hanya untuk melepas lelah menikmati sacangkir kopi panas, seperti kau yang dengan mudahnya keluar malam, mengajak lelaki ku untuk bersantai di area publik yang kebetulan dekat dengan rumahnya. Kamu tahu kenapa?

KARENA AKU WANITA BAIK-BAIK, 
YANG TIDAK BISA KELUAR HINGGA LARUT MALAM

Tapi aku rasa dia tak mendambakan perhatianmu sedikitpun. Cobalah kita gunakan logika, mulai membangun akal sehat bahwa seorang yang telah memiliki kekasih jangan kau ganggu peraduannya. Mungkin sosoknya sering tertandang di pikiranmu, terserah menyelinap atau bagaimana kau ingin masuk ke pikirannya. Tapi jangan berharap itu bisa terjadi!

Aku minta maaf kalau prasangka ku salah, bukan karena aku tak membiarkan dia untuk bisa berteman denganmu. Tapi aku tak tahan melihatnya. Maafkan aku yang egois dan tak memberimu kesempatan sedikitpun. Aku percaya di luar sana banyak yang membutuhkan dan menginginkan mu. Namun, maaf mereka itu bukan lelakiku.

Senin, 27 Maret 2017

Lalu, haruskah?

Kemudian hati ku patah utk kesekian kalinya
Dan pagi masih memberi harap untuk hal yang mungkin tak bisa aku gapai (lagi); hatimu.

Terkadang ketika kita terlalu mencinta, kita sering kali terlupa bahwa tidak semua hati patut diperjuangkan. Sebab, ada hati yang tak mungkin diluluhkan, sekalipun kita sudah berjuang mati-matian. Seperti aku kepada hatimu, misalnya.

Menujumu; sebuah frasa yang sedang aku lakukan dan itu sudah setengah jalan. Namun separuh hati mu saja seakan tak mungkin aku dapatkan.

Aku sadar, terkadang aku terlalu berusaha untuk menciptakan getaran-getaran itu tampak nyata. Seperti rasa yang tak pernah habis kehilangan asa. Lalu, haruskah "kita" yang sudah aku rangkai dan belum sempat dimulai, harus menemui kata selesai?

Kusebut kamu dengan debar tanpa usai. Sebab, meski cinta ini tak pernah diberi balasan, tetap pada hatimu aku selalu menginginkan. Kusebut kamu satu-satunya penantian; sebab, untukmu, aku selalu menjaga hati, tanpa pernah tahu bagaimana membuat harap ini mati.

Aku mengejarmu, kamu mengejar bukan aku. Kita seperti berlari dilingkaran berliku yang ujungnya tak akan pernah berbalik menujuku.

Adakah kiranya setitik aku dalam lubuk hatimu yang terdalam? Sama seperti keinginanku akan kamu yang tak pernah bisa diam.  Pernah ku coba menyerah, namun hati sudah tak bisa mengubah arah. Entah apa yang akan terlintas dibenakmu jika tahu bahwa aku telah menginginkan mu sedalam ini. Aku pernah melupakan harga diri demi mendapatkanmu di sisi. Dan aku merasa tak keberatan tersakiti hanya untuk menjadi milikmu.

.......


Aku layaknya seorang bodoh yang bahagia. Ah, biar saja.

....


Dan kamu disana, tidak tahu memikirkan apa. Entah di bagian mana aku disepanjang garis pedulimu. Mungkin aku hanyalah semu..

Padamu, aku masih saja menggantungkan harap yang entah kapan akan terjawab.
Padamu, aku masih saja mendamba segala sesuatu yang indah tentang kita.
Entah akan sampai kapan? mungkin hingga pada suatu hari itu, kamu menyadari (kembali) segala perasaan dan berkeinginan (kembali) untuk membuka "pintu" itu (lagi) secara perlahan - yang entah kapan.



----------
Kamu sedang siang ini? Semoga semesta masih berbaik hati untuk membagi kebahagiaan itu kepada mu.


Kamis, 23 Maret 2017

Semoga

Hari ini, beberapa daripadaku telah tampak tak kasat mata di kepunyaan mu. Disaat aku ingin menjadi satu-satunya titik yang kau pandang lekat-lekat, kenyataan menjawabnya dengan pahit yang teramat pekat. Sebab, yang ada pada ku memang tidak untuk menjadi sesuatu yang menarik perhatianmu.
Teriakan yang tak terdengar atau memang kamu enggan menoleh lalu sadar?
Keberadaan yang tak terlihat atau memang kamu yang enggan untuk kita menjadi terlalu dekat..

Rasanya aku tak begitu berbeda dengan yang lainnya. Namun mengapa tak kamu berikan aku tatapan yang sama? Harus sejauh mana aku menyentuh hatimu, agar setidaknya kamu tak buru-buru berlalu dari sisiku? Ku kira mencintai lewat mimpi tak pernah senyata ini, kecuali padamu.

Lalu, ketika kini aku terlanjur cinta, rasa ini harus dibawa kemana? Sementara ke hatimu saja tak kutemukan jalannya.

Kamu seperti terlalu jauh untuk ku rengkuh atau kedekatan memang tak pernah kau inginkan? Sebab berulang kali aku menunjukkan diri, namun tak sekali pun kamu menyadari bahwa aku selalu ada. Bagaimana bila rasa ini bukanlah untuk sementara? Bagaimana bila aku tak sanggup lagi untuk menunggu lebih lama? Barangkali terlalu sulit bagimu untuk menaruh peduli, sedangkan terlalu mudahnya aku memberi hatiku.

Meski kamu mulai memilih jalan ke pintu hatiku namun dengan memutar jalan begitu jauh, ingatlah bahwa itu tak berarti aku tak menunggumu di balik pintu itu. Bisa jadi, di suatu waktu yang entah kapan, kamu tersesat kemudian berteduh di beranda rumah ku. Bisa jadi, ketika perjalananmu sudah terlalu jauh dan lelah, kamu menemui nyaman nan hangat pada peluk ku.

Meski yang mereka lihat ialah aku selalu menerima, ingatlah, tak berarti aku tidak berusaha.
Barangkali disuatu waktu yang entah kapan, kamu akan mendengar..
Barangkali disuatu titik yang entah dimana, aku akan terlihat..

Semoga suatu hari entah kapan, kamu akan tahu bahwa aku pernah sebegitunya ingin untuk diinginkan.
Semoga suatu hari entah kapan, kamu akan tahu bahwa aku pernah sebegitunya ingin untuk terlihat.
Semoga pada suatu hari itu, segala sesuatunya belumlah terlambat

Rabu, 22 Maret 2017

Hanya singgahkah?

Tidak semua orang siap dengan pengakuan..

Baru terhitung 5 senja terlewati, koreksi aku bila aku salah. Sejak aku memberanikan diri mengutarakan segalanya.

Kemudian aku menyebutmu sebagai rumah; dan jelas bukan persinggahan. Kamu menyamankan, mengamankan dan menyenangkan. Kamu alasan dibalik segala kepulangan ku. Melewati malam-malam sulit dengan menemukan mu ada disana saja sudah meringankan ku. Menghabiskan berjam-jam dalam diam atau percakapan  yang tak kenal pemberhentian adalah beberapa hal yang tak pernah bisa ku tolak darimu.

Terlalu tinggikah jika bahagia yang paling sederhana buatku itu, kamu? Terlalu egoiskah jika aku hanya ingin kamu, bukan yang lain?

Karena dekat dengan mu, kesedihan ku tidur dengan lelap; di-ninabobo-kan oleh rasa nyaman yang terlalu sulit ku gambarkan.
Senyummu, sudah memasuki dosis manis yang terlalu kritis. Aku terlalu suka dan tak bisa ku cegah untuk bersikap lebih biasa dari biasanya.
Perlakuanmu magis, mengusir tangis jadi tawa paling manis.
Dan akhirnya aku semakin dibuat jatuh untuk cinta yang semoga saja tak salah.

Sampai lupa mempertanyakan satu hal paling fatal, yang membuat segala luka menjadi kekal.

termasuk apakah aku buatmu?
sebuah tempat kamu pulang atau hanya singgah?

Karena aku terlalu takut, bahwa bukan hanya aku saja yang mencicip manis yang saat ini kamu ciptakan. Karena aku terlalu takut terburu-buru menetapkan hati pada yang sebenarnya menganggapku dengan setengah hati.

Jika nanti ada jarak yang menggagalkan kita untuk bersama, bolahkah aku tetap memanggil mu rumah?
Tempat kemana aku mengirimkan rindu meski jauhnya jarak memisahkan.
Dan tempat kemana hati yang lelah ini ingin selalu pulang..


Jumat, 10 Maret 2017

Apa kau... ?

apa kau sanggup meninggalkan ku?
Kau pernah sanggup mencintai ku..

Apa kau perlu membenci aku?
Aku pernah kamu perlukan..

Apa kau ingin melupakan ku?
Kau pernah ingin aku ingatkan..

Apa kau mampu menyakiti ku?
Kau pernah mampu melindungi ku..

Apa kau bisa hidup tanpa ku?
Kau pernah bisa hidup dengan ku..

Apa kau mau menjauhi ku?
Kau pernah mau mendekati dan bertahan dengan ku ..

Apa kau merasa harus memaki aku?
Aku pernah merasa memuji kamu..

Apa kau rela aku bersedih?
Kau pernah rela menahan air mata ku..

Apa kau tidak percaya aku?
Dulu kau pernah meyakinkan ku..

apa kau tidak merindukan ku?
kau pernah sangat rindu padaku..

Apa yang tidak hidup, kadang akan memberi kehidupan. Ia begerak seperti angin mengangkat air lautan. Ia bergerak seperti angin mengajak daun menari. Namun inilah hidup, hidup ku. Kumpulan yang membawa mimpi jadi kenyataan.

Langkah-langkah kecil yang kau kuatkan. Suatu hari aku percaya, aku akan menjadi aku yang kau impikan. Biar lepas emas dari tangan ku, tapi tidak kamu dari hati ku. Tetaplah disisiku, jangan menjauh, sebab cinta itu baik di kedekatan.

Peluk mu itu menguatkan, demi peluk mu juga aku berjuang..




*disclamire copy right of..with a little beat change

Sabtu, 04 Maret 2017

Memang diabaikan..

Seperti tersisihkan, padahal pada kenyataannya memang diabaikan.
Terlihat bodoh? Mungkin lebih tepatnya bukan bodoh, hanya belum bisa menentukan mana pilihan yang terbaik. Ketika semuanya terlihat nyata, namun kenyataannya abstrak dan hanya angan-angan yang terlampau tinggi.

Ketika kita pernah mengharapkan sesuatu yang indah, namun semuanya hanya impian yang tidak pernah menjadi kenyataan. Terkadang kita hanya butuh sepi, sendiri. Bukan..bukan untuk menghindar, hanya untuk menjaga jarak saja.

Siang ini, aku hanya duduk diam bersama serpihan perih.

Waktu terasa berjalan begitu cepat hingga membuat ku jatuh dan tak sadarkan diri. Bodoh aku yang percaya ajakan mu. Bodoh aku yang percaya kalimatmu.

Nyatanya apa? Mungkin dia masih menjadi yang utama untuk mu.. Posisi yang dulu selalu aku banggakan di depan mereka. Posisi yang dulu selalu aku jaga, tapi sepihak kamu menggantinya dengan dia.

Kamu tahu betul bagaimana aku bisa jatuh tersungkur hanya dengan senyum mu, dan hal itu kamu lakukan (lagi) hingga akhirnya terjerembab, menahan perih yang belum kering.

Kamu membuat ku berkorban untuk diri mu. Diam-diam kamu melakukan hal-hal yang dulu pernah kamu kutuk.

Bodoh ku merusak semuanya hingga saat ini.

Sedang kamu? Mungkin menari dibawah hujan denganya. Dan bahagia.

Jumat, 24 Februari 2017

Tentang Rencana Kepergian mu :') (2)

“Every meeting led to a parting, and so it would, as long as life was mortal. In every meeting there was some of the sorrow of parting, but in everything parting there was some of the joy of meeting as well.”
― Cassandra Clare, Clockwork Princess

There are not enough words to even describe how important you are in my life, Mom, and you continue to influence how I live mine. I am forever grateful.


Dulu aku pernah bercerita tentang rencana kepergianmu
Dulu doa ku masih sama, semoga kamu tak pernah memilih untuk pergi. 
Dulu harapan ku masih sama, kamu tetap memilih kami untuk kamu dampingi.

Hari ini, hanya dalam hitungan jam saja, ternyata kepergian mu benar-benar terjadi. 
Mungkin cukup kemarin dan hari ini aku tersedu untuk itu.

Mandiri. "Kamu bisa. Kamu sekarang udah mandiri. Jangan sedih, nanti aku ikut sedih.."
Peluk terakhir dengan usapan punggung yang munkin juga akan menjadi terakhir.

For all of the support, the friend, and love you have given me


Untuk ku dan mereka, kamu;

Wanita kuat dengan tawa yang tak terbatas. 
Wanita hebat dengan tangan dan peluk hangat, yang selalu terbuka ketika aku dan mereka berada di situasi sulit.
Kamu selalu menjadi pagar paling depan ketika banyak dari mereka memandang kami sebelah mata.

...

Kamu mengajarkan aku dan mereka tentang cinta dan sayang tanpa syarat pun segala bentuknya yang bukan hanya pujian.

...

Terimakasih untuk kesempatan untuk membuat ku dan mereka menjadi sebuah keluarga. Sebuah keluarga yang akhirnya memahami arti sebuah cinta, persahabatan, ikatan yang dibangun atas dasar rasa tulus.
Terimakasih untuk semua yang sudah dilakukan untuk aku dan mereka. 
Terima kasih untuk cinta mu yang tak pernah berbatas.
Terim kasih untuk semua cerita yang pernah kita buat bersama.

-

Bu Nora..Bunda..Bun..Ibuuunn..
Seperti apapun mereka memanggil mu, satu hal yang harus tetap kamu tahu.
KITA SAYANG BUNDAAA..



Dari kami,
23 orang (yang selalu kamu anggap) anak
dengan isi kepala yang harus selalu Bunda selaraskan.

with Love

Minggu, 19 Februari 2017

Jangan terlalu lelah .....

Malam, hujan dan secangkir coklat hangat untuk menutup hari.

Sekarang aku lebih memilih menikmati coklat hangat ketimbang secangkir kopi panas.
Kamu tahu? Menurut penelitian yang sudah dipublikasi oleh WHO, secangkir coklat seduh mengandung zat anandamide yang dapat membuat kerja otak lebih tenang dan ada kandungan phenethylamine (zat yang mampu menghasilkan hormon endorfin dalam tubuh).

Mungkin aku butuh anandamide lebih banyak dari sebelumnya. Menjadi sangat menyenangkan ketika tidurku berjalan tanpa bunga tidur. Sungguh aku lelah terjebak dalam situasi seperti ini.

Hujan mulai sering singgah dilangit yang -mungkin- menjadi payung kita bersama.
Tiba-tiba aku ingat kebiasaan mu ketika tempo hari kita tak sengaja berpapas. Disiang yang cerah, kamu malah pakai sweater.
Aku masih ingat, kamu selalu kalah dengan cuaca, khususnya hujan. Kamu sedikit tidak bersahabat dengan hujan. Hujan mulai sering singgah, maka tak lama imun tubuh mu akan menurun. Dulu aku sering kesal ketika kamu mulai masuk masa imun menurun, tapi aku ingin bersama. Haha, maaf kalau dulu aku terlalu memaksakan kehendak.

Jangan terlalu lelah, Mas.
Mungkin sekarang kamu harus mengantar dia yang saat ini bahagia dengan mu, pulang ke rumahnya, tapi jangan pulang terlalu malam.
Pulanglah lebih awal dari kantor,  agar kamu tidak terlalu malam sampai rumah.
Kamu mungkin sedang bosan dengan menu makan di kota perantauan, mungkin rindu masakan rumah, Ibu mu. Tapi tetaplah jaga pola makan di cuaca yang seperti ini.
Pakai jaket yang lebih tebal, Mas, ketika berkendara malam. Jaket hitam mu itu, Mas..aduuuh gak bisa diganti sama jaketnya mas Wawan aja? Yang tebel itu, lhoo..

Aku tahu, sudah bukan kapasitas ku mengingatkan mu hal ini-itu.


....


Tapi ingat, Mas.
Jangan terlalu lelah.

Kamis, 09 Februari 2017

Aku kira, aku sudah berhasil ...

Aku kira, aku sudah berhasil melupakan segala macam tentangmu. Ku pikir aku siap membuka hatiku untuk orang lain. Aku yakin bahwa aku siap membuka mata dan hatiku pada orang baru yang mampu membahagiakan aku. Usaha ku begitu keras untuk mematikan perasaan ini. Segalanya memang tak mudah karena perjuangan yang ku lakukan terus berlanjut. Bukan hal mudah mematikan perasaan seseorang yang bisa kita temui setiap hari. Kamu sudah jadi bagian dari hari-hari ku, hampir setiap ari aku melihat mu. Perubahan yang begitu berbeda membuat ku sulit menerima bahwa kita tak lagi sama...Aku melihatmu setiap hari dan untuk menganggap kita tak pernah punya perasaan spesial bukan hal yang mudah untuk ku.

Apa saja yang kita lakukan selama rentetan bulan kebersamaan kita. Mungkinkah dulu hanya aku yang berjuang sendirian? Mungkin dulu hanya aku yang inginkan kejelasan?

Mungkin kamu bosan bila aku jelaskan apa yang selalu membuat ku jatuh cinta padamu. Kamu mungkin bosan ketika aku mulai memuji mu saat kebersamaan kita. Kamu begitu manis dalam beberapa peristiwa. Genggaman tangan mu begitu mantap tapi lembut, ketika aku berusaha menahan sakit saat infus menjadi jalan terakhir agar aku sembuh. Aku merindukannya.. :')

Aku mencintaimu karena begitulah kamu. Kamu yang sulit kutebak tapi begitu manis dalam beberapa peristiwa. Kamu yang menggemaskan dalam keadaan yang bahkan sulit kujelaskan. Aku sangat mencintaimu dan sekarang pun masih begitu. Sadarkah kamu?

Hari-hari kulewati dengan banyak pertanyaan. Apakah perasaanmu sedalam yang kuharapkan? Aku sedikit menangkap isyarat itu. Kamu mengajakku bicara dalam percakapan manis kita di pesan singkat. Kamu menghangatkanku di tengah dinginnya malam dengan candaan kecilmu. Bagaimana mungkin aku bisa begitu mudah melupakan hal-hal spesial yang sempat kulewati bersamamu?

Kamu bisa dengan mudah melupakan segalanya. Kebersamaanmu dengannya sudah cukup menjawab semuanya. Aku bukanlah sosok yang kauinginkan. Aku bukan sosok yang kauharapkan. Menyakitkan bukan jika keberadaanku tak pernah kauanggap meskipun aku selalu hadir dalam tatapanmu? Aku berusaha semampuku untuk membahagiakanmu, namun nampaknya usahaku tak begitu terlihat di matamu. Tak sadarkah kamu, Mas?

Dulu, kita yang banyak berbincang, kini jadi banyak diam. Setiap hari aku berusaha menerima kenyataan dan perubahan itu. Setiap hari aku mencoba meyakinkan diriku bahwa suatu saat pasti aku bisa melupakanmu. Ketika melihatmu dengannya, ada luka yang tergores lagi. Kamu belum benar-benar kumiliki, tapi mengapa aku bisa sakit begini?

Pertemuan kita tadi seperti semangat yang kembali menemukanku di sudut yang dingin dan gelap. Aku tahu berlebihan.

Kamu tersenyum. Sederhana sekali. Ternyata, dari banyaknya pengabaian dan rasa sakit yang kauberikan; aku masih bisa mencintaimu.

Sabtu, 28 Januari 2017

There something are missing..

Tak ada lagi kamu yang memenuhi kotak inbox handphone-ku. Tak ada lagi sapamu sebelum tidur yang membuncah riuh di telinga ku. Tak ada lagi genggaman tanganmu yang menguatkan setiap langkah ku. Tak ada lagi peluk hangatmu yang meredam segala kecemasan. Tanpamu.. semua berbeda dan tak sama lagi.

Aku membuka mata dan berharap hari-hari ku berjalan seperti biasanya, walau tanpamu. Walau tak ada lagi kamu yaang memenuhi hari-hari ku. Sering kali aku terbiasa melirik layar handphone, namun tak ada lagi ucapan selamat pagi darimu dengan beberapa emote kiss yang memasok energi ku. Pagi yang berbeda. Ada sesuatu yang hilang.

Hasil gambar untuk hold my hand

Lalu, aku menjalani semua aktifitas ku, seperti biasa, kamu tenu tahu itu. Dulu, kamu memang selalu mengerti kegiatan dan rutinitas ku. Namun, sekarang tak ada lagi kamu yang berperan aktif dalam siang dan malam ku. Tak ada lagi pesn singkat yang mengingatkan untuk menjaga pola makan ataupun menjaga kesehatan. Bukan masalah besar memang, aku mandiri dan sangat tahu hal-hal yang seharusnya aku lakukan. Tapi..kamu tentu tahu, tak mudah mengikhlaskan perpisahan.

Rasa ini begitu absurd dan sulit dideskripsikan. Kamu membawa jiwa ku melayang ke negeri antah-berantah dan mengasingkan aku ke dunia yang bahkan aku tak kuketahui. Aku bercermin, memerhatikan setiap lekuk wajah dan tubuh yang terpantul disana. Aku tak mengenal sosok itu. Tak ada lagi sosokku  dalam cermin yang ku perhatikan sejak tadi. Aku berbeda dan lagi lagi aku kenali sosok itu. Seseorang yang aku kenal didalam tubuh ini, kini menghilan secara magis setelah kepergianmu. Kamu merampas habis cinta yang aku miliki, melarikannya ke suatu tempat yang sulit kujangkau. Entah dimana aku bisa menemukan diriku yang telah hilan itu. Entah bagaimana caranya mengembalikan sosok yang ku kenal ke dalam tubuhku. Entah baagaimana aku bisa mengembalilkan sosok yang telah menghilang secara magis

Ingin rasanya aku melempari segala macam bend agar bisa memecahkan cermin itu. Agar aku tak bisa melihat diriku lagi dicermin itu. Agar aku tak bisa melihat lagi diriku yang sudah tak ku kenal lagi. Agar aku tak lagi menyadari perubaha yang begitu besar teradi setelah kehilanganmu. Aku bisa berhenti mempercayai cinta jika terlalu sering tenggalam dalam rasa frustasiseperti ini. Aku mungkin akan berhenti mempercayai lawan jenis dan segala janji-janji tololnya. Siksaan mu terlalu besar untukku, aku terlalu lemah untuk merasakan semua rasa sakit yang telah kau sebabkan.

Bagaimana mungkin aku bisa menemukan seseorang yang lebih sempurna jika aku pernah memiliki yang paling sempurna?

Aku benci pada perpisahan, Entah mengapa dalam peristiwa  itu harus ada yang terluka., sementara yang lainnya bisa saja bahagia ataupun tertawa..Kamu tertawa dan aku terluka Kita seperti saling menyakiti, anpa ahu apa yang patut dibenci. Kita seperti saling saling memendam dendam, tanpa tahu apa yang harus dipermasalahkan.

Aku menangis sejadi-jadinya, sedalam-dalamnya atas dasar cinta. Naif mungkin. Tapi aku bisa apa. Kamu tertawa-tawa sekeras-kerasnya, sekencang-kencangnya, atas dasar..entah harus kusebut apa. Aku tak pernah mengerti jalan pikiranmu yang terlampau rumit. Aku merasa sagat kehilangan, sementara kamu dalam hitungan jam telah menemuka yang baru. Bagaimana mungkin aku harus menyebut ini semua adalah wujud dari sebuah kesetiaan? Bagitu sulitnya untuk ku untuk menerima ikhlas. Inikah caramu menyakiti seseorang yang sebenarnya tak pantas untuk kau sakiti.

Jam berganti hari, dan semua berputar..tetap berotasi. Aku jalani hidupku, tentu saja tanpa kamu, Kamu lanjutkan hidupmu, tentu saja dengannya. Aku tak menyangka begitu mudahnya kamu temukan pengganti ku. Begitu gampangnya kamu melupakan semua hal yang telah terjadi. Aku hanya ingin tahu isi otakmu saja apa kamu tak pernah berpikir tentang mendung yang semakin hitam di hatiku.

Tak banyak hal yang bisa kulakukan, selain berproses tentang ikhlas. Tak ada lagi hal yang mampu ku perjuangkan, selain membiarkan mu peri dan tak berharap kamu menoreh luka lagi. Aku hanya berusaha menikmati luka, hingga aku terbiasa dan akan menggapnya tak ada . Kepergiaanmu, merupakan kehilangan yang begitu menyakitkan, dan telah menjadi candu yang kunikmati sakitnya.

Aku mulai suka air mata sejak lebih dari seratus senja yang lalu, yang sering kali jatuh untuk mu. Aku mulai menikmati saat-saat napasku sesak ketika mengingatmu. Aku mulai jatuh cinta pada rasa sakit yang kau ciptakan selama ini.

Terima kasih, Mas..

Dengan luka seperti ini. Dengan rasa sakit sedalam ini, aku jadi tambah sering menulis.

Aku semakin percaya, bahwa Kahlil Gibran butuh rasa sakit agar ia bisa menulis. Lebih banyak dari biasanya.

Sama seperti ku, bahwa butuh rasa sakit agar bisa lancar menulis..terutama yang bercerita tentangmu.





Jumat, 27 Januari 2017

Lebih dari 100 Senja..

Selamat senja..apa kamu masih mengingat ritual ku saat senja tiba?

Ya, benar. Ritual aku suka naik ke lantai paling atas gedung kantor ku untuk menikmati senja dan jingga yang menawan. Sayangnya hari ini senja lebih mengalah untuk tidak nampak, memilih untuk bersembunyi dibalik mendung. Ah, mungkin kamu saat ini sudah membuang jauh dan menganggap untuk menikmati senja dengan dirinya yang telah bersama  mu, yang mungkin saja kamu lebih bahagia selepas meninggalkanku.

Lebih dari 100 senja setelah kepergianmu, tak sama lagi. Kini aku menikmati sendirian. Tanpa kamu, tanpa kita, tanpa harpan, pun tanpa mimpi-mimpi yang dulu pernih kita ceritakan pada senja. Ya, sendirian. Tapi sekarng aku masih saja merasakan aroma mu. Aku menganggap kamu ada disampingku, menikmati senja berdua, lalu bercerita kembali tentang harapan dan mimpi yang ingin kita wujudkan. Tapi, itu hanya perasaan ku saja. Nyatanya, hanya hembusan angin menyentuh lembut kulitku ketika bendung air mata tak bisa ku tahan.

Lebih dari 100 senja setelah kepergianmu..Mungkin senja sedang menertawan ku dibalik mendung itu, melihat ku duduk sendirian tanpa kamu dibangku roof top kantor. Aku belum bisa menggantikan dirimu, sedangkan kamu? Begitu cepat menggantikan posisi ku dihati mu dengan dia. Bahagiakah kamu dengannya? Ah, tentu saja, aku melihatmu menikmati senja berdua dengannya, sedangan aku? Hanya sendirian. Lagi dan lagi sendiri. Ah, aku kesal.

Lebih dari 100 senja setelah kepergian mu, senja selalu menertawakan ku melihat aku resah duduk disudut bangku kedai kopi yang biasany kita datangi, sembari melepas lelah usai mengais rupiah, saat bersm mu dulu. Kini, hanyalah kenangan yang merusak sistem  kerja otak kiri ku yan berhasil masuk. Aku pun tertawa, melihat diriku yang seolah tak bisa mengikhlaskan dirimu saat bersamanya. Bodohkah aku yang masih mengharapkanmu? Atau terlalu lemakah aku yang belum rela melihat kamu telah bahagia dengannya?

Lebih dari 100 senja setelah kepergianmu, lagi, lagi, lagi, lagi, dan lagi aku harus menguatkan hati. Lagi dan lagi, kini aku harus menguatkan mata agar ia tak cept mengeluarkan buliran air saat ia melihat dirimu yang bahagia tanpa aku. Lagi dan lagi aku harus menguatkan kaki, agat ia tak terjatuh saat berlari meninggalkan senja serta meninggalkan dirimu saat bersamanya.

Lebih dari 100 senja setelah kepergianmu, aku harap senja berikutnya aku mampu melupakanmu, tidak mengingat kembali bahwa kita pernah bersama saat menikmati senja. Semoga senja ku lebih berwarna lagi, meskipun tanpa kamu dan walaupun kenangan masih menari-nari diingatanku...


Minggu, 22 Januari 2017

She didn’t play games like the others


It’s the texts you answer at your convenience.
It’s the snaps you look at then put down your phone.
It’s every like when you’re bored because you’re wondering what she’s up to.
It’s every canceled plan when something better comes along.
It’s the attention you give that’s the bare minimum. But she takes it.

Because at least for that moment, she has your time and attention when she’s always given you all of hers.

It’s every surprise you take for granted. Even though, she thought a lot about it for a while. It’s not caring enough to even consider reciprocating those things.
It’s the favor if you need one, that always goes answered every time. Even though she’d never ask the same.
It’s the nights she wishes would turn into the morning but you have some sort of other agenda, as you say goodbye.
 
You label her as easy to read. Because the truth is you know if you want her you can have her. And where is the fun in that?
Where is the fun in someone only caring about you?
Where is the fun in honesty?
Where is the fun in love when everyone is chasing after questionable likes?
 
But the truth is you’re losing her and not even realizing it.
You lose her a little more every time you don’t answer.
You lose her a little more every time you cancel plans.
You lose her a little more every time you choose someone else when the only person she’s ever chosen is you.
You lose her a little more every time you don’t appreciate her.
You lose her a little more every time you take her for granted.
You lose her a little more every time she goes to bed wondering, ‘why aren’t I enough for him?’
 
But what she doesn’t realize, as these feelings she has for you, blinds her of the truth. She’s more than enough for you. It’s you that isn’t good enough for her. Because if you were worthy of her, you’d realize her value.



.............


But one day you’ll lose her for good. Because she’s going to get to a point where there’s nothing more she has to offer and she’ll walk away. And it’ll hurt her to do so. Because she looked at you with wide eyes full of faith that depleted over time.
 
One day she’ll be the one not answering.
One day those snaps you send will be ignored and you’ll send another just in case.

It’ll irk the shit out of you, the moment she starts treating you the way you treated her.

You’ll ask her out and she’ll politely decline.
You’ll blow up her newsfeed and begin to become more interested in what she is up to but more than that who she’s with. Because it’s not you that’s making her smile anymore.

You’ll miss the nights when she laid beside you and all she ever wanted to do was talk. The silence will kill you, as you wish for just one more conversation. You’ll hold onto everything she ever got you and it’ll be a hurtful reminder of the girl who loved you just a little too much.

And maybe you’ll look back and remember there wasn’t mystery to her. But there was an honesty you’ve never known in someone.

She didn’t play games like the others. 

She’s the type of girl that ruins people in the best way and you’ve become just another victim. And as you fumble through girl after girl, you’ll find something in them all missing. It’ll be in them you look for her but she will never be found.