Rabu, 25 Maret 2015

hijrah..

Menulis adalah cara gue buat tetap waras ditengah rutinitas "perkuliahan hidup" yang kerjaannya yang numpuk.

Akhir bulan ini adalah keputusan "hijrah" yang cukup sulit. Yaps, ini adalah salah satu keputusan sulit selama 23 Tahun terakhir ini setelah memutuskan cabut gigi graham atau gak pertengahan tahun lalu. Hahaha. Ini keputusan dimana passion yang jadi ujung tobak  hidup gue harus gue lepas. Yaps, ngajar. 

Pekerjaan dimana gue bisa stress sambil ketawa, dimana kertas setumpuk gunung rinjani hanya terlihat lebaran kertas tanpa massa yang berat, dimana Silabus jadi mamahan kayak buble gum buat gue. Atau harus faced mahasiswa yang amit-amit level ketok-ketok pinggir meja, tapi ya mau gimana? gue cinta mati sama salah satu pekerjaan yang katanya mulia tanpa pamrih; NGAJAR. Banyak orang berpikir bahwa mengajar adalah salah satu kegiatan/pekerjaan yang dimana kita sebagai guru/fasilitator/dosen/pembina/dll dituntut harus pinter, cerdas, sakti mandraguna dalam hal ilmu pengetahuan, tapi in case, itu adalah pemahaman yang salah. Kata siapa kalau mengajar adalah pekerjaan yang mengerikan? Kata siapa kalau mengajar itu sulit? Di agama yang gue anut, salah satu pahala terus mengalir adalah ilmu yang bermanfaat. Koreksi kalau gue salah, pemahman gue adalah salah satu ilmu yang bermanfaat itu ya dengan menyalurkan ilmu yang kita punya. Salah satu caranya ya ngajar.

Gue selalu berprinsip yang ngajar bukanlah seorang yang jenius dibanding dengan orang lain. Bedanya adalah kita lebih tahu duluan ketimbang mereka yang baru belajar suatu hal. Ya..memang..Kita cuma tahu lebih dulu ketimbang mereka. Sisanya sedikit banyak kita juga bisa belajar dari mereka. Kita banyak ambil pelajaran hidup yang dari mereka.

Kayaknya terlalu banyak basa-basi gue soal ngajar.

Yaps, kenapa diawal gue bilang HIJRAH? Sekarang cara gue untuk cari pundi-pundi melunasi CC adalah sebagai pegawai back office. Sesuai permintaan Ibuk yang selalu beliau panjatkan setiap dua-per-tiga-malam beliau.

Hijrah pekerjaan ini adalah salah satu dari banyak mimipi buruk yang gue takutkan. Mimpi buruk yang sebenernya gue hindarin. Tapi biar gimana pun restu orang tua pula yang gue pegang.


Senin, 16 Maret 2015

Senja

Aku. Aku hanyalah perempuan yang begitu menyukai senja dan matahari terbenam. Rasanya tak ingin sekalipun melewati warna jingga yang selalu terlukis indah dari sapuan kuas Sang Pelukis di kanvas langit-Nya. Ya, meski aku tahu senja itu hanya sementara. Warnanya akan pudar. Dan kemudian akan digantikan dengan hitam malam yang merenggut segalanya. Hitam yang tak aku sukai, tapi aku tetap menikmati malam, walau tak suka hitam. Tapi bukanlah itu hakikatnya? Yang indah yang tak selamanya ada, bahagia yang tak selamanya tinggal, dan sebuah senyuman pun tak selamanya bertahan. Bukankah semesta mengajarkannya dengan jelas kepada kita?

Aku selalu menikmati senja ku sendiri. Sembari menikmati hazellnut favoritku. Tapi analogi kopi hitam sepertinya lebih sesuai dengan kisah kali ini. Hitam dan pahit. Mungkin karena rasanya. Ya rasanya mengingatkan ku pada sebuah kenangan. Pahit.

Tapi, hei! Kenapa kopi ini rasanya dingin? Ah, tunggu! Padahal seingat ku, baru ku buat seminggu lalu. Sial! Kemana asap-asap tipis itu pergi? Mungkinkah mereka pergi ke langit, merajut awan dan berencana menurunkan hujan untuk mengacaukan senja ku hari ini? Tidak tidak. Itu tidak boleh terjadi. Aku sedang ingin menikmati senja bukan hujan. Walau aku juga mencintai hujan, tapi aku sedang ingin melihat senja hari ini.

Langit turunkan asap-asap tipis itu kembali ke sini. Dan aku masih membenci rasa kopi hitam ini, seperti sikap seorang kepada ku di masa lalu. Pahit namun hangat.

Aku kembali menikmati senja dan jingganya. Kau tau Sayang, aku begitu mencintai senja seakan ia adalah bagian dari sepi, sepi yang berbeda tentu saja.  Mungkin hanya senja, proses menuju malam yang biasa terjadi, namun untuk ku senja selalu punya cerita sendiri. Untuk ku senja mengajarkan aku tentang ketulusan. Bagaimana ia rela tenggelam dan menghilang dan terganti dengan malam. Ia tak pernah meminta untuk lebih lama tinggal, karena ia sadar betul itulah perannya. Hadir sekejap namun menorehkan banyak kesan dan kenangan yang tak pernah terlupakan. Ia pergi namun tak benar-benar pergi. Ia selalu ada untuk membuat hangat bukan membuat panas atau pun dingin. Ya, hangat. Ia masih bersama langit, hanya saja ia sedang berpindah tempat untuk menjadi tak begitu terlihat, namun pada akhirnya ia tetap menunggu untuk kembali datang. Ah, lagi-lagi senja mengajarkan ku tentang satu hal. Kesetiaan.


Dan aku masih menikmati senja seorang diri. Mereka kata baiknya aku mengajak dia yang kini bersama ku untuk menikmati senja, tapi aku tak pernah meng-iya-kan mereka. Hanya tersenyum yang aku lakukan. Apalagi saat senja benar-benar terenggut oleh malam. Dan angin pasti berhembus lebih kencang. Membuat ku semakin merapatkan baju hangat. Tapi entahlah aku tak pernah mengajaknya untuk menikmati senja ku itu. Aku juga tak begitu berharap kalau dia akan menemani ku menikmati senja. Aku hanya ingin dia yang akan menuntunku kepada senja, bukan aku yang menarik lengannya untuk duduk berdua dengan ku. Semoga ia dapat mencintai senja agar kesetiaannya sama halnya dengan kesetiaan senja pada langit. 

Minggu, 15 Maret 2015

Cinta yang menjelma

Di setiap perjalanan seorang manusia, selalu ada lubang-lubang yang jurang menganga. Lubang yang hitam, lubang kelam, lubang yang indah lalu kita jatuhi, namun kadang kita jauhi–banyak yang menyebut lubang itu cinta.

Aku pernah mengarang sebuah cerita bodoh tentang asal-usul dari cinta, di sela waktu antara rindu dan kalimat tanya.

Pada dahulu kala, ada sepetak langit tak bernama, dan hanya terpisahkan satu helai rambut di bawah surga. Di sana, hidup sebuah cinta.

Aku, pada waktu itu menggambarkan cinta sebagai hal yang bisa menjadi apa saja.  Kadang ia menjelma sebagai hujan piatu, mengais-ngais udara dan mencari apa yang tak ada dalam sosok ibu. Dia bisa menjadi tempat yang lebih indah dari ladang-ladang ganja, penjara-penjara fana, atau lautan petaka. Pernah juga kugambarkan cinta sebagai salah satu relikui kematian tanpa nama.

Cinta, bisa menjadi tambang air mata, sesaat setelah ia menjelma perjamuan-perjamuan kecil di saku dada kiri dan sebuah pohon dengan dahan yang hampir menyentuh singgasana Tuhan.

Cinta pernah menjelma sungai tanpa muara, sebelum akhirnya menyerah pada seseorang yang enggan memilih antara kenangan dan aku.

Cinta juga pernah seperti kopi hitam, kita melihatnya hitam, pekat, tanpa bisa melihat dalamnya karena hitam pekatnya, sebelum kita mencium harum aroma asap yang menyeruak, sebelum kita menyruput manis isinya.

Cinta pernah menjelma menjadi madu di hutan liar, sebelum kita dapat mencicip manisnya, kita menjumpai segerombol lebah penjaga yang tak sembarang orang dapat mengecap manis madu.

Kugambarkan juga cinta sebagai lampu jalan yang tak percaya diri untuk menerangi pagi. Lantas sebagai air mata yang tetesnya selalu pergi, dan daun yang mungkin ranggas oleh api.

Kemarin, kugambarkan cinta sebagai waktu yang terselip rapih dalam rak kayu mahoni, menikmati canda yang tergeletak di atas lantai marmer, dan rindu yang terlelap dalam kamar gelap.

Dan yang paling kusukai, aku pernah menggambarkan cinta sebagai kita, duduk berhadapan dengan rindu sebagai penerang yang seadanya. Disaksikan bulan yang cemberut, kita merencanakan ritual-ritual remeh tentang perpisahan, saling melukai, dan saling merindukan. Dan tak ketinggalan dengan kopi kesukaan mu. Seperti banyak anak remaja penggalau mengatakan, kalau cinta itu kita.

Yang terakhir, namun tak mengakhiri, aku menggambarkan cinta sebagai buku tua yang gemar menambah dan mengurangi lembar gelisahnya sendiri. Buku yang gemar bermain dalam sela-sela rumah rayap. Buku yang gemar menangis dalam aku. Buku yang memaksa aku untuk percaya bahwa cinta tidak mengenal kata selesai, berjudul kamu.