Rabu, 07 Desember 2016

Merindukan kamu, Cinta Pertama ku

Hari panjang, melelahkan namun dengan banyak proses akhirnya terlewati. Ya, panjang dan lelah.

Hidung bumpet, pekerjaan menggunung dan hujan. Lengkap rasanya bila meromatisir sebuah kenangan. Rindu sebenarnya. Merindukan seseorang bukan hal menyenangkan memang. Terlebih ketika rindu tak bermuara pada temu.

All I hear is raindrops
Falling on the rooftop
Oh baby tell me why’d you have to go
Cause this pain I feel

Ya, tulisan ini sepertinya salah satu cara ku untuk bercerita sedikit dengan mu, cinta pertama ku.

Kamu tahu? aksara ku kali ini ku buat berawal dari sebuah unggahan foto salah satu rekan kerja ku di salah satu media sosialku, Bertuliskan "7years". Ya, mengingatkan ku tentang kamu.

Kepada mu, cinta pertama ku..Apa kabar kamu? Aku berharap kamu selalu berada didalam lindungan-Nya. Tak kekurangan satu pun. Tenang saja, sampai saat ini kamu masih menjadi urutan teratas ketika percakapan ku dengan-Nya. Memeluk mu dalam doa masih aku pertahankan.

Sedikit ingin bercerita, semoga disana kamu tak lelah mendengarnya. Untuk ku, kamu selalu menjadi konsep cinta pertama yang begitu indah. Cinta pertama yang tak pernah lekang oleh era. Cinta pertama yang selalu indah, seindah senja yang penghujung hari. 

Maafkan aku karena pernah sejenak aku melupakan cintamu. Bodohnya aku karena mencari cinta diluar sana. Dungunya aku karena mencari cinta dari orang asing, padahal cinta sebenar-benarnya cinta sudah ada pada dirimu selama ini..

Aku ingat bagaimana kening berkerut semakin dalam, ketika kita mulai berselisih pendapat. Atau bila aku tak berkabar seharian ketika aku sudah telalu lama berkegiatan diluar. Sosok mu mungkin terlihat kaku untuk seorang laki-laki yang hidup di era semua serba cepat. Tapi dari semua itu, kamu selalu tahu, apa dan bagaimana semua hal terbaik untuk ku.

...

 

Dan ya, malam ini aku rindu, Pak. Rindu yang tertahan, hingga akhirnya buliran kristal tak henti menerobos benteng pelupuk mata.

Menyebut namamu, mengalunkan vibrasi dalam denyut nadiku, memenuhi rongga tubuhku dengan getaran. Jutaan getaran yang ditimbulkan oleh perasaan-perasaan yang berbeda, menyatu, membuatku terpekur dalam kerinduan. Rindu pada segala hal tentang mu, Pak.

Bukan waktu yang singkat untuk sebuah perasaan kehilangan, dan bukan waktu yang terlalu lama untuk sebuah tahapan pendewasaan. Rindu pada setiap canda dan tawa yang kau tawarkan, cerita-cerita konyol, nasihat klasikDan ketika itu, semua hanya biasa, tak pernah ada kesan istimewa. Tapi sekarang, yang biasa itulah justru yang sangat aku rindukan.

Kamu selalu menjadi lelaki pertama yang menatapku dengan penuh bangga. Saat ini anakmu sekarang sudah berusia hampir seperempat abad. Pikiran tentang masa depan jelas memerlukan arahan dan diskusi serius. Bapak hanya berpesan, “Lakoni apa yang kamu cintai.” Mengerjakan hal atas dasar cinta biasanya akan lebih memuaskan dan berharga daripada dicampuri dengan keengganan yang berujung pada keterpaksaan. Pun tentang urusan masa depan. Aku ingat kau pernah berkata bahwa masa depan bukan melulu soal penghidupan yang berbasis kerja, tapi juga tentang hati yang perlu hidup berdampingan alias pasangan.

Meski tidak secara langsung kuceritakan tentang perjalanan cintaku, tapi pada akhirnya Bapak mendengarnya dari Ibu. Kali ini, beberapa penggal kisah cinta belum sukses terselesaikan. Ada yang kandas di tengah jalan karena pengkhianatan, ada juga cinta yang tak kesampaian. Ah Bapak, harus kuakui. Belum ada bahu senyaman milikmu untuk menjadi tempat sandaran saat putus cinta. Tapi aku ingat pesanmu, “Yang meremukkan hati anak Bapak, akan diganjar oleh Tuhan.”

Pak..rinduuu...


Dari gadis mu, 
yang tergugu karena rindu

Senin, 05 Desember 2016

Juanda, 5 Desember 2016 Yaps, Now im Independent Women

Surabaya hari ini masih berteman dengan mendung dan gerimis.

Asap roko masih menari di udara. Dan aku masih saja merindukan dirimu. Padahal kamu sudah punya kebahagiaan mu sendiri. Bodoh memang aku. Tapi biarlah, aku masih menikmati masa-masa patah hati ku. Ya, mungkin tak seperti mu dengan kecepatan 1000tahun cahaya, dengan mudah mendapatkan pengganti ku, atau mungkin memang dari awal sebelum kita selesai, kamu sudah mengincarnya.

Menyedikan memang nasib hati ku yang sudah ku pasrahkan kepada mu.

Tidak, sore ini aku duduk pojok sebuah kedai kopi di Juanda bukan untuk menye-menye tentang hati ku yang belum sembuh benar. Kumpulan aksara ku kali ini tentang bagaimana saat ini aku sudah menjadi perempuan mandiri, karena sudah pernah patah hati.

......

Patah hati ku dengan mu benar-benar mengajarkan ku menjadi perempuan lebih mandiri.

.
.
.

Bicara tenang menjadi peremuan mandiri. Dewasa ini kita hidup dimana mempertimbangkan untuk bisa sejajar dengan laki-laki, dimana menjadi kebanggan tersendiri ketika wanita dalam beberapa setara dengan laki-laki, yang sungguh tabu bila konsep ini diterapkan dibeberapa abad lalu. Bayangan tersebut pada abad-abad sebelumnya bahwa perempuan harus selalu di dapur dan mengurus semua urusan rumah,  bukan lagi hal mutlak ditengah perkembangan kemutakhiran saat ini. In another word it has been proven that females can perform just as well, better in some cases, as males in their occupations.

Ya, keadaan seperti inilah yang membuat ku mengerti, perempuan tak melulu memerlukan bantuan. Aku tahu, aku tidak membutuhkan seorang laki-laki hanya untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya bisa dilakukan sendiri.

Sebagai perempuan seharusnya bisa membuat sesuatu sendiri, membantu diri sendiri dengan berbekal apa yang sudah dimiliki saat ini. Dan kita sebagai perempuan punya banyak keahlian.

But, seberapapun aku berpikir bahwa aku tidak membutuhkan laki-laki dalam hidupku, but i like having one. It is nice to have someone reach the things on the top shelf. It is easier to have him kill the spiders and open jars. Hahaha. Tapi, its doesn't mean that i am dependent on him.


Also, i know i would be fine without him. i’ve done it before. I know that i can survive, and even thrive, on my own. But, i don’t want to. I don’t think this makes me any less of a woman. I don’t think this makes me any less independent. I firmly believe that independence isn’t doing everything for yourself all the time. It is knowing that you can but allowing someone to help you. It is knowing you can still be your own person while in a relationship.

 Independence is different for every person. I just happen to think that you can be independent with others. 

Rabu, 23 November 2016

Tak Perlu Bersumpah tentang Karma

Aku tak perlu mendoakanmu mendapatkan karma. Aku cukup menyadari, Tuhan akan melakukan sesuatu yang adil. Sama sepertimu, aku hanyalah makhluk tak sempurna, yang bisa saja melakuka kesalahan. Maka dari itu, aku tidak ingin melempar sumpah kedapamu agar kamu mendapat karma.

Aku hanya percaya di dunia ini ada sistem tabur-tuai, dimana kamu akan memetik sendiri buah dari apa yang kamu tanam.

Dan sekarang aku lebih memilih untuk melanjutkan hidupku.

Tak terlihatkah dulu aku begitu tersakiti dengan sikapmu?
Aku tak habis pikir, sadarkah kamu dulu aku begitu terluka?

Dengan semua perlakuanmu, tak sadarkah kamu bahwa aku juga manusia yang punya hati, bisa merasa tersakiti dan terluka.

Jika kamu dulu dengan sengaja menyakitiku, dimana perasaanmu, sayang? Sudah matikah hatimu? 

ini bukan karena aku tak bisa mencari orang lain yang lebih bisa mencintaiku
ini karena aku tak cukup mengerti, mengapa aku layak kamu 

tak pelu bersumpah akan ada karma, Sayang..

Aku cukup sadar ada Tuhan yang melihat segalanya. Dan aku tahu Dia tak pernah tidur dan meninggalkan aku sekalipun sering menyakitinya (mungkin hati) Dia. Ia Maha Adil, aku meyakini itu. Akan ada saat dimana yang bersedih akan dihibur.

Bagaimana, senyum ku masih indah kan? Meski sudah terluka..

Kamu yang sudah mendatangkan hujan dan angin di hatiku. Membuat sebuah lubang disana dan mengacaukan isinya, semoga kamu bahagia. Memang hingga saat ini aku masih berusaha untuk meletakkan kembali semua pecahan itu ke tempatnya semula. Ya seperti lukisan puzzle  ku yang pernah lepas dari papannya. Berantakan. Semoga senyumku tak terlihat palsu. 
Bagaimana senyum ku sekarang? Masih terlihat baguskan? Ya, benar. Aku menampilkan sisi terbaikku pada orang lain meski hati hampir menyerah untuk melajutkan ini semua. 

aku memaksa diriku,
 untuk menyadari bahwa aku bukanlah pribadi yang sebenarnya kamu inginkan

Btw, terimakasih untuk pelajaran hidup yang sudah kamu berikan. Aku tidak menyesali semua proses yang pernah terjadi. Kalau saja kamu tak menyakitiku terlalu jauh seperti ini, mungkin aku tak akan menjadi pribadi yang sekuat ini.

Terima kasih untuk pelajaran yang telah kamu berikan dengan cara seperti ini. Semoga kamu cepat disandingkan dengan dia yang kamu anggap pantas mendampingimu.

akan tiba masanya dimana tawa berubaha menjadi air mata, pun dengan sebaliknya
akan selalu ada harga seimbang yang akan Dia bayar sesuai dengan apa yang kamu lakukan
 

Malam Tak Pernah Cocok Untuk ku

Kamu tahu betul aku membenci gelap, pun dengan malam

Rasanya semakin sulit untuk bertemu malam. Malam merenggut segalanya. Malam datang tanpa pernah permisi. Siklus alam yang tak pernah bisa disanggah.

Malam pantas untuk dibenci. Malam selalu merenggut indahnya hari, cerahnya cuaca, menyenangkannya udara pagi, dan tentu saja indahnya senja.

Nyatanya malam itu busuk, kejam dan seenaknya sendiri. Malam memisahkan matahari dan embun pagi.

Malam pun menghapus relief langit tanpa gundah dengan balutan awan putih. Malam itu kejam bukan?

Karena kau, aku membenci malam. Karena kau, aku tak menyukai malam. Siklus alam yang sebagian orang menantikannya. Siklus alam yang membuat manusia lainnya merasa tenang. Tapi tidak dengan ku. Kau tahu, (sekali lagi) karena kau aku membenci malam.

Malam selalu membuat ku lelah, membuat ingin segera beranjak untuk istirahat. Tapi dengan aku yang terlelap, kau selalu datang. Ya, selalu datang ketika aku terlelap, dan saat aku sudah lelah dan ingin terlelap kau selalu datang membawa mimipi buruk.

Dan kali seperti biasanya, malam selalu datang dan menjadi larut.

Mungkin memang malam tak pernah cocok untuk ku.

Senin, 14 November 2016

Tiba-Tiba Kamu Datang (1)

Tiba-tiba kamu datang..

Ya, mungkin judul itu sudah sangat menggambarkan sebuah situasi ku saat ini. Hampir 1 bulan aku sedang mengumpulka beberapa pecahan hati yang berhamburan entah kemana untuk sembuh. Dan proses itu tidak mudah. Proses dimana aku harus mengikhlaskan dia yang tiba-tiba pergi tanpa aba-aba.

Hati hancur, sudah pasti. Hari berantakan, tentu saja. Jadwal dan rutinitas ku kacau, sudah jelas. Hingga di siang yang cukup sendu, akhirnya aku menangis sejadi-jadinya. Disampingku, kamu hanya melihat ku dengan iba.

Lelah aku menangis. Kemudian random mulai mengajak mu sebuah percakan acak. Mulai dari bagaimana keadaan kekasih mu. Bagaimana pendapatmu tentang beberapa hal. Memperbincangkan tentang sebuah rasa yang ditinggal. Mendengarkan mu membahas banyak hal. Menyenangkan rasanya bagaimana kamu bisa bercerita tentang banyak hal. Dan aku menikmati cerita menarik mu :)


Hingga akhirnya aku meracau tentang pupusnya kisah ku dengan teman mu. Kamu dengan sabar mendengar semua keluhku, menepuk halus punggungku saat akhirnya beberapa bulir air di ujung pelupuk mata ku.


..


..

dan kamu menawarkan pundak mu saat aku tak sanggup mengangkat kepala..


Minggu, 13 November 2016

terima kasih, kamu!

Untuk ku, hari ini sebagai penikmat senja, ia masih datang dengan setiap rona merah dan jingganya yang indah. Pun dengan pagi masih setia datang tepat pada waktunya. Selepas hujan semalam, bau embun masih wangi. Mungkin yang berbeda, dingin agaknya terlalu mengigit membuat gigil ditubuh ku. Mungkin memang sudah musimnya, pagi mulai menjadi terlalu dingin - pikir ku. Atau memang aku yang terlalu meromantisir sebuah kejadian.

Ya, beberapa hari sejak kamu memilih untuk pergi dari ku, aku membiarkan diri ku patah hati. Menangis hingga aku merasa air mata ku tak ada. Membiarkan pikiran ku menyusuri setiap jejak memori yang pernah kita buat. Menikmati semua warnanya yang kemudian kelamaan menjadi kelabu, hingga ku pikir itu menjadi 1 warna - abu-abu. Rasanya seakan dunia ku runtuh. Ya, aku memang cengeng dan kamu tahu benar tentang itu. Menangisi mu, kalau aku pikir lagi yang mungkin sebenarnya tak perlu. Ya, tapi aku yakin kamu tahu rasanya saat pegangan mu menghilang, tapi disaat yang sama perjalanan mu sedang goyah.


-


Dan pada akhirnya, aku tahu, diri ku masih harus bangkit. Masih banyak keperluan yang harus aku kerjakan, ketimbang menangisi kamu. Masih ada kartu kredit yang harus ku bayar tagihannya. Hahaha. Tawa ku terasa aneh, kamu tahu.

Rutinitas ku kembali normal, sama persis seperti saat kamu masih disini. Semua masih sama. Hanya saja, tak ada lagi sapa selamat pagi dari kamu, untuk ku memulai sebuah hari. Tak ada lagi tatapan hangat mu ketika tak sengaja saling tatap. Tak ada lagi tawa renyah kita, saat bercerita dimakan malam kita sepulang mengais rupiah. Dan ya, tak ada lagi peluk hangat selepas hari yang cukup panjang dilalui, dan tak ada lagisenyum yang selalu ku lihat setiap malam saat kamu mengatarkan ku pulang. Ada yang hilang memang, harus ku akui itu.


.

.


Dan, kamu. Sungguh aku mengumbar aksara saat ini bukan karena aku merindukan mu atau mengharapkan kamu kembali dalam peluk ku. Percayalah, aku sudah menerima ini semua. Sesuai keinginan mu. Berdiri diatas kaki ku sendiri, tanpa beban, tanpa terpaksa. Mungkin memang waktu yang menyembuhkan ku. Rindu ku seakan sudah pergi tanpa jejak. Harapan-harapan yang dulu pernah membuncah juga sudah terbang entah kemana. Rasa yang pernah meluber juga sudah menguap dan menghilang begitu saja. Mata ku sudah terbiasa melihat tanpa mu. Telinga ku sudah lebih nyaman tanpa ucap mu. Hidungku sudah tak lagi mencari aroma tubuh mu. Bibir ku sudah tak tertarik lagi menyebut namamu. Kulitku menjadi lebih halus tanpa sentuhan tanganmu. Kamu tahu apa artinya? Ya, mungkin aku sudah bisa berpijak sendiri diatas bumi ku.

Dengan kenyaman yang aku dapatkan sekarang (dg tidak kehadiran mu), maka aku berterima kasih untuk kamu. Terima kasih karena sudah pernah sedekat urat nadi dan kulit. Terimakasih karena atas setiap jengkal hari yang sudah berlalu. Terima kasih untuk tawa yang selalu kamu hadirkan pada setiap kebersamaan kita. Terima kasih untuk pelukan hangat yang selalu kamu berikan setiap aku merasa dunia terlalu berat untuk aku hadapi.


...

..

Terima kasih karena sudah pernah menawarkan masa depan padaku.


-

Sungguh tak ada sedikitpun menyesal di hati ku pernah bertemu dan punya cerita hidup denganmu. Mengenalmu, mejalani sebagian hari-hari ku dengan mu. Belajar dari mu bagaimana kita harus memandang hidup dengan berbagai sudut pandang. Belajar menerima konsekuensi dari setipa perbuatan kita. Ya, banyak hal yang bisa aku pelajari dari hubungan kita.

.
..
...
Terimakasih kamu :)

Mungkin saat ini hidup mu jauh lebih bahagia tanpa aku, karena tidak ada lagi suara cempreng nan bawel yang selalu mengingatkan mu tentang ini itu.

..

Hidupku sekarang tentu lebih bahagia karena tak ada lagi laki-laki yang menawarkan kebahagiaan semu untukku. Kamu sudah pernah memilih bahagiamu bersama ku, dan aku pun menerimanya. Dan sekarang kamu sudah memilih bahagia mu sendiri dengan mundur dari penawaran menjalani masa depan dengan ku. Aku harap, berharap sekali, kamu tak salah jalan memilih bahagiamu untuk mundur dari cerita kita.



Kepergianmu di hidupku juga sudah membuat aku belajar banyak hal, terutama tentang tanggungjawab, komitmen dan sebuah konsistensi. Terima kasih sudah mengajarkanku tertawa saat menangis. Terima kasih sudah membuatku merasa dihargai sebagai wanita. Terima kasih sudah menjagaku dengan penuh rasa sabar. Terima kasih sudah selalu ada setiap aku membutuhkanmu.


..

..

Berbahagialah. Semoga memang dia satu-satunya yang kamu cari, hingga kamu bersedia untuk menyakiti hati dan menginjak-injak harga diri seorang gadis. Terima kasih sudah memilihkan jalan ini untuk ku. Terima kasih sudah memberikan kesempatan untuk aku bisa mendapatkan cinta yang lebih besar dari cintamu di masa depan ku nanti.


Terimakasih sudah memberikan pengalaman berharga ini, yang nantinya bisa aku ceritakan pada anak laki-lakiku nanti tentang bagaimana seharusnya seorang laki-laki bersikap.

Terimakasih untuk kamu, karena kepergian mu, itu artinya kamu memberikan aku kesempatan mendapatkan seorang yang bisa menerima ku dengan semua kondisi ku dan tidak pernah berpikir tentang sebuah tuntutan, menuntut dan dituntut.


Selasa, 04 Oktober 2016

Tentang Rencana Kepergian mu :') (1)


Beberapa waktu yg lalu aku mendengar kabar kalau kamu akan meninggalkan ku. Ku beritahu kamu lewat aksara ku ini, kalau  aku membenci sebuah perpisahan. Aku membenci sebuah kepergian. Maka kabar itu aku anggap sebagai angin aneh dengan hawa menggigit belulang ku, yang hanya numpang lewat. Tanpa ku gubris sepenuhnya.

Jadi aku tetap menyayangi mu seperti biasanya. Tetap mengagumi mu dalam senyum ku. Tetap menyisipkan namamu disela-sela percakapan ku dengan-Nya. Dan tetap menyemogakan kamu agar tetap dalam lindungannya, dilingkupi kebahagiaan yang berlimpa bersama orang-orang yang mencintaimu.

Hingga pada siang itu tangis ku pecah. Mendengar pengakuan mu tentang rencana kepergian mu yang pernah ku dengar sebelumnya. Dada ku sesak, ku tahan tangis ku berharap kamu akan berkata,"tidak, aku tak akan pergi kemana-mana. Kita akan tetap bersama". Walau aku tahu harapan ku hanya akan menjadi abu-abu. Aku memberanikan diri untuk membuka mulut walau rasanya sakit di dada menahan isak. Kepala ku pening seketika saat kamu meng-IYA-kan pertanyaan tersebut. Isak ku semakin dalam. Dada ku semakin sakit. Sungguh saat itu aku merasa terhianati. Aku yang mati-matian menyayangi mu, tapi kamu memilih untuk pergi.

Bagaimana aku akan belajar tetang ikhlas dari sebuah kepergian?
Seberapa akan sakitkah dada ketika kepergian mu terjadi?

Sampai saat ini yang aku pelajari dari sebuah kepergian, seperti yang suda-sudah hanyalah sebuah sakit yang akan mengajarkan bagaimana menabahkan hati lalu mengikhlaskan seseorang. Sunggulah aku mencintai mu dengan teramat. Mungkin aku salah satu yang tidak begitu dekat dengan mu. Tapi percayalah aku sungguh menyayangi mu.

Maka mungkin dengan mengikhlaskan kepergian mu - nanti - aku menyemogakan akan sama dengan proses ku mengikhlas kepergian dan kehilangan seperti sebelumnya. Sebab apakah kamu tahu, kalau cinta dan sayang selalu memberi ruang kebebasan kepada yang dicintainya. Dan itu yang sedang aku lakukan saat ini.

Dari ku yang masih berharap kamu untuk tetap tinggal.
Semoga esok hari mu tetap menyenangkan :)
Loveyou!

Minggu, 21 Agustus 2016

Jarak (dengan tanda kutip)

dua puluh satu agustus dua ribu enam belas,
jam sebelas lewat dua puluh lima menit.

Mungkin ini rasanya menjadi "anak rantau", jauh dari rumah dan harus berjuang.

Malam merangkak naik. Purnama mengintip malu dibalik awan. 15 purnama sudah terlewat. Ya rasanya seperti baru kemarin bukan, kita saling mengenal tanpa ada maksud untuk lebih dekat dari sekedar rekan kerja?

Dengan sangat terpaksa, akhir pekan ini tak bisa kita habiskan bersama. Aku yang harus mengurus beberapa keperluan di luar kota dan kamu yang masih dalam proses pemulihan dari - yang dokter sebut sebagai - terkena bakteri. 1 minggu yang cukup panjang bukan?
 
Ya, malam ini aku akan berceloteh tentang jarak. karena kebetulan kita sedang ada dalam sebuah jarak.

aku sungguh benci jarak. Apa yang menyenangkan dari sebuah jarak? Untuk ku tak ada, jarak hanya membuat ku frustasi.Jarak hanya membuat seseorang tidak bisa berdekatan. Jarak membuat ku tak bisa menatap wajah. Jarak membuat ku tak bisa menyentuh. Jarak membuat ku harus berpikir dua kali lebih sering dari yang seharusnya. Membuat ku jauh lebih sulit untuk memahami.

Berjarak membuat sebuah hubungan tak menjadi sehat. Untuk ku omong kosong, jika hubungan akan baik-baik saja jika itu berjarak.

Apa bagusnya sebuah jarak, tidakkah itu menyakitkan ketika rindu menggebu tapi kau tak ada disini? Kalau sejauh ini kita semua masih bertahan, entah apa yang kita pertahankan. Karena saat ini semua lebih terlihat seperti bayang-bayang. Ku lakukan semua seakan baik-baik saja, begitu aku meyakinkan mu - mungkin lebih tepatnya aku. Seakan aku tidak sedang terluka, seakan-akan tak ada air mata. Aku meyakinkan bahwa tak ada yang salah di antara kita.

Aku lelah,

Bisakah kita pulang(?)

Selasa, 17 Mei 2016

Tahunan, dan Happy Wedding Kamu !!

Tahunan.

Ya aku menyebut seperti itu. Atau menahun? Entahlah.

Hubungan yang berjalan selama bertahun-tahun. Perjalanan yang cukup panjang untuk mengenal satu sama lain. Hubungan yang membuat orang lain iri. Ya, kau selalu menyebutnya seperti itu. Hubungan dengan intensitas kebahagiaan yang tinggi. Mungkin kita sering tak sejalan namun kita bisa saling menahan ego. Hubungan dewasa dengan bumbu manis yang selalu kita banggakan.

Ya, aku banggakan. Bahkan sangat aku banggakan. Pun dengan dirimu. Kamu tak segan memperkenalkan ku dengan semua orang yang dalam hidupmu, mengatakan kepada mereka, aku adalah satu-satunya, wanita terakhir untuk berlabuh. Mungkin awalnya aku mendengar itu, seperti berlebihan dan hanya untuk menyenangkan ku saja, bahkan aku sempat berpikir pengakuan itu hanya untuk memperkenalkan eksistensi mu saja. Tapi kelamaan aku tahu, sebegitunya kamu bangga dengan hubungan ini.

Tahun pertama berjalan dengan semua ketidak sesuaian. Dengan semua perasaan aneh, bingung. Dengan semua ego ku yang tak mau mengalah. Dengan sikap mu yang tanpa kompromi. Dengan semua perdebatan yang kadang tak pernah ada jalan keluar. Tapi kita sama-sama bisa melewati itu semua. Tuhan Maha Baik bukan?

Memasuki tahun ke dua, kita mulai bisa menyelaraskan langkah. Mulai terbiasa dengan sikap masing-masing. Tahun tahun berlalu dengan cepat. Kita menyamakan persepsi hidup. Membangun visi bersama. Mempertahankan apa yang sudah kita bangun. Terimakasih banyak untuk tahun-tahun indah yang lalu.

Tapi ternyata tahun-tahun harus bertemu dengan hal menyakitkan. Kejadian yang membuat kita berdua sakit. Perih.

Dan untuk ku, itu menyisakan sebuah lubang hitam besar. Kemana visi yang kita bangun bersama? Kemana komunikasi yang dulu bangun? Semua hancur. Dinding yang dulu kita bangun, tiba-tiba hancur. Berserakan. Rata dengan tanah. Tak bersisa sama sekali. Dulu aku selalu berharap, bahwa dinding itu bisa kita bangun kembali. Tapi usaha ku seperti sia-sia. Hancur tak bersisa.

Menurut mereka yang melihat ku; aku seperti mayat hidup.

Kamu hilang. Tiba-tiba cahaya ku redup. Redup seketika. Hingga akhirnya mati sama sekali.


Dan aku benar-benar kehilangan mu.


Lagi-lagi hati ku hancur, hancur berkeping-keping. Menjadi serpihan kecil yang tak bisa disatukan lagi.

Setelah kejadian itu, aku benar-benar harus belajar hidup tanpa diri mu. Sulit memang. Tapi aku tahu, aku tidak boleh terpuruk sejauh itu.

Ku sibukkan diri ku. Bekerja tanpa kenal waktu.

Kamu tahu? Ini bukan seperti diriku.
Aku menangis ketika malam mulai beranjak naik. Aku benci malam. Malam selalu mengingatkan pada mu. Ketika harus mengingat mu, artinya ada luka yang belum benar-benar sembuh. Ada luka yang mugkin tak ada obatnya.

Kamu tahu, mungkin Tuhan jengah ketika namamu selalu muncul ketika percakapan ku dengan-Nya dimulai.

Tuhan, Kau tahu doa ku selalu sama. Tak bisakah Kau berbaik hati ku sekali lagi?

Kehilangan Ayah untuk ku sudah sangat sakit. Apakah aku harus merasakan kehilangan untuk kedua kalinya? Tak bisa aku memiliki salah satunya?


Selalin kedua orang tua ku. Kamu pernah menjadi salah satu hadiah dari Tuhan yang sangat aku syukur.

Dengan semua perih ini, aku tahu akan ada hal indah yang sedang disiapkan Tuhan.

Tapi, kamu tahu, aku berterimakasih untuk perasaan kehilangan ini. Aku belajar untuk bertahan, belajar untuk berdiri sendiri, belajar untuk dapat berjalan tanpa menengok ke belakang.

Hingga akhirnya aku kuat seperti sekarang. Kuat diatas kaki dan perasaan ku sendiri. Tanpa kamu disisi ku. Tanpa cinta yang dulu mati-matian aku pertahankan. Tanpa kamu. Terimakasih sudah pernah membuang waktu untuk menuruti ego ku. Terimakasih pernah merelakan sakit kepala dengan moody ku yang tak karuan. Aku ikut berbahagian untuk kamu yang saat ini sudah memiliki dia yang benar-benar bisa mengerti kamu. Aku ikut berbahagia untuk hari mu kemarin. :)



Semoga kalian berdua selalu dalam intensitas kebahagian tanpa putus. Memiliki sebuah keluarga kecil yang bahagia.

Happy Wedding, kamu!! :)


Jumat, 18 Maret 2016

Sepertinya Menyenangkan Hidup Seperti Kamu

Hujan turun dan saat ini aku sedang didepan netbook ditemani secangkir coklat panas, dan artinya malam ini akan menjadi malam mengenang yang entah sudah masuk episode keberapa.

Pernahkah suatu hari kau merasa dunia sedang sangat tidak bersahabat dengan mu? Pernahkah suatu ketika kamu merasa segala hal dalam hidup mu tiba-tiba menjadi tidak baik-baik saja? Walau seharusnya semua tak apa.

Pernahkah suatu ketika, kamu merasa sedang dikepung serangkaian masalah yang kamu saja terlalu lelah memikirkannya, dan merasa takkan mampu menyelesaika. Ah, mungkin kamu tak pernah merasakan perasaan seperti itu. Ku lihat kamu selalu baik-baik saja. Atau mungkin aku yang belum mengenal mu. Atau memang aku sama sekali tak mengenal mu. Entahlah.

Sepertinya menyenangkan sekali bisa hidup seperti mu. Kamu bisa melupakan masalah seperti seseorang yang sedang mencoba membersihkan debu di tumpukan buku lama. Hanya sekali tiup kemudian hilang.



Senin, 22 Februari 2016

terimakasih kamu

Jika malam adalah rembulan, maka pagi adalah hangat dan cahaya bagi ku. Cahayanya mulai mengintip perlahan melalui celah terai kamar ku. Udara masih agak menggigit gigil. Untuk ku pagi adalah dimana harapan baru mulai muncul, dan 1 hari telah dilalui dengan begitu hebat. Pagi ini aku terbangun dengan rambut tergelung berantakan, mata sayup yang masih enggan terbuka, masih ingin tenggelam dalam lelap, lengkap dengan celana pendek, kaos bolong kesayangan ku dan kamu.

Untuk ku, pagi ini menjadi salah satu pagi yang luar biasa. Aku yakin kamu pasti tahu kenapa. Untuk ku pagi ini menjadi seperti salah satu kegiatan yang sudah aku buat list.Sayangnya list membuatkan mu kopi pagi, belum bisa ku lakukan.

Dengan peluk tak ingin lepas, kecup manis yang kau daratkan di keningku, aku mulai hari ku. Seperti dipost sebelumnya, untuk ku, kamu seperti hadiah dari Tuhan karena aku telah menjadi anak baik.

Baiklah, maka setelah kamu, pagi ini ku mulai hari ku juga dengan secangkir kopi. Secangkir kopi yang menemani ku berselancar di dunia maya, untuk membuang aksara yang sudah aku tahan dari semalam.

Selamat pagi menjelang siang,
Kepada kamu, aku ucapkan terimakasih untuk pagi ini.

Regards,
Wanita mu yang rindu guling

Kamis, 11 Februari 2016

Mungkin aku Terlalu banyak berharap

Kepada kamu yang begitu (mungkin) sabar dengan sikap ku.

Selamat malam. Semoga malam ini kamu bisa beristirahat dengan tenang, karena aku tahu, pasti sangat lelah saat kamu harus menghadapi yang kadang membuat mu berkerut dahi. Aku minta maaf untuk itu.

Kamu pasti tahu, hubungan kita berawal dengan cara yang tidak mudah, ya untuk ku seperti itu. Lingkungan seperti tidak merestui kita untuk bersama. Tapi, masa bodo dengan mereka. Aku ingat kamu pernah berkata," biar nanti mereka juga akan bosan sendiri."

Rasanya semua terjadi begitu cepat, kita berkenalan, kemudian tiba-tiba merasakan perasaan yang aneh. Setiap hari rasanya berbeda dan tak sama lagi. Hitam dan putih menjadi lebih berwarna ketika sosokmu hadir mengisi ruang-ruang kosong hatiku. Untuk ku tak ada percakapan biasa, semua mejadi ajaib dan luar biasa. Entahlah, perasaan ini bertumbuh melebihi batas yang kutahu.

Aku menjadi takut untuk kehilangan mu. Siksaan datang bertubi-tubi ketika tubuh mu tidak berada di dekatku. Kamu seperti mengendalikan otak dan hatiku, ada sebab yang tak ku mengerti sedikitpun. Aku sulit jauh dari mu, aku membutuhkanmu, seperti aku butuh udara, seperti pecandu yang membutuhkan morfinnya, seperti ikan yang tak bisa jauh dari sang air. Napasku tercekat jika sosok mu hilang dari pandangan mata. Salahkah jika kamu aku nomorsatukan?

Tapi.. entah mengapa sikap mu seperti sikap ku. Perhatian mu tak sedalam perhatianku. Adakah kesalahan pada kita? Apakah kamu tidak merasakan yang juga aku rasakan?

Kamu mungkin belum terlalu paham tentang perasaan ku, karena kamu memang tak pernah sibuk memikirkan ku. Aku tahu. Berdosakah aku jika aku seringkali menjatuhkan air mata untuk mu? Bahkan untuk malam ini, setelah pertemuan singkat ini. Rasanya kamu memang untuk ku. Mungkin aku yang terlalu mengejar mu dan memaksa untuk jadi milik ku. Aku selalu kehilangan mu dan kamu juga selalu pergi tanpa meminta izin. Meminta izin? Memangnya aku ini siapa? Bodoh! Mungkin memang kekasih mu, namun itu hanya sebuah pengakuan sosial, bukan berarti aku penting untuk mu bukan? Hadir dalam mimpi mu pun aku sudah bersyukur, apalagi bisa jadi milik mu seutuhnya. Seutuhnya. Ya, hati dan ragamu, bukan hanya ragu mu.

Janji mu terlalu banyak, hingga aku lupa menghitung mana yang saja yang belum kamu tepati. Begitu sering kamu menyakiti, tapi begitu sering juga aku memaafkan mu, seolah tak pernah terjadi apa-apa, seolah kamu tak menghiraukan lubang-lubang kecil yang kau buat di hati ku. Kecil, namun dengan jumlah yang sangat banyak. Kamu selalu mengulang kesalahan yang sama. Lihatlah aku yang selalu diam dan bisu. Pandanglah aku aku yang mencintai mu dengan tulus namun kamu hempaskan begitu saja. Apakah aku hanya sebuah persimpangan jalan yang selalu kamu abaikan - juga kamu tinggalkan?

Pertanyaan ini selalu muncul di otak ku, SEBERAPA PENTINGKAH AKU? Tak seberharga itukah aku dimata mu? Apakah aku hanyalah boneka yang selalu ikut aturan mu?  yang selalu kamu abaikan? Selalu kamu tinggalkan? Mulai saat ini aku sudah tak ingin banyak bicara dan tak ingin mengutarakan semua yang terlanjur terjadi,

Mungkin aku tak akan mengutarakan cinta lagi bila kamu masih tulikan telinga. Aku tak kan lagi berkata rindu, jika berkali-kali kau ciptakan jarak yang semakin jauh. Aku tak bisa apa-apa selain memandangi mu dan membawa namamu dalam percakapan panjang ku dengan Tuhan.

Harusnya aku sadar, aku bukan siapa-siapa dimata mu, dan tak pernah menjadi siapa-siapa. Sebenarnya aku juga ingin tahu, sebenarnya dimana kamu letakkan hatiku yang selama ini ku berikan padamu. Tapi kamu pasti enggan menjawab dan tak mau tahu soal penasaran ku. Mungkin hubungan kita jelas, namun sebenarnya siapakah seseorang yang telah beruntung karena memiliki hati mu. Aku tahu orang itu buka aku.

Mungkin semua memang salah ku. Yang menganggap semua berubah sesuai keinginan ku. Yang bermimpi bisa mejadikan mu lebih dari seorang teman, dan menjadi kekasih yang benar-benar aku miliki. Salahkah bila perasaan ku tumbuh melebihi batas kewajaran? 

Namun, semua jauh dari perkiraan ku. Mungkin aku yang memang terlalu banyak berharap.  Akulah yang tidak menyadari posisiku dan tak menyadari letakmu yang sungguh jauh dari genggaman tangan. Akulah yang bodoh. Bodoh aku!

Tenanglah, setelah malah ini tak perlu memerhatikan aku lagi. Aku mulai terbiasa tersakiti, terutama jika sebabnya kamu. Dan, kamu tak sadar, sungguhlah aku berbohong jika aku bisa begitu mudah melupakan mu.

Jika kamu ingin menjauh, menjauhlah, Sayang. Aku hanya ingin dekat-dekat denga kesepian saja. Disana luka ku terobati, disana tak ku temui orang seperti mu., yang berganti-ganti topeng dengan mudah, dan berkata sayang dengan gampangnya.

Selamat malam,
Sayang

Sabtu, 30 Januari 2016

Secangkir Kopi dan Hujan

Selamat sore untuk manusia-manusia yang setengah jiwanya ada di secangkir kopi.

Adalah sore terakhir pada bulan awal di 2016. Aku menyeduh segelas kopi. Rasa manis kadang membuat ku tersenyum dan pahitnya samar. Dan aku tersadar, di setiap kepahitan, Tuhan tidak pernah lupa menyisipkan sesuatu yang manis.

Lama-lama aku berpikir, kopi membuatku ketergantungan. Suatu pagi di bulan November, aku sengaja tidak minum kopi. Aku sengaja, supaya tidak ketergantungan dengan kopi, juga kamu. Karena kamu seperti kopi, membuatku ketergantungan.

Namun, berjuta detik setelahnya. Aku menulis tentang kopi dan menyelipkan kamu didalamnya. Bagiku, kopi selalu punya sisi menarik untuk ditulis, sama halnya dengan kamu. Menarik.

Hingga kini, kopi masih menjadi bagian dari hidupku. Juga kamu. Bahwa terkadang aku suka bermimpi terlalu tinggi, maka aku membutuhkanmu untuk mengingatkanku. Juga kopi untuk menghempaskan lelahku.

Memang banyak hal tidak harus kita mengerti, ada saatnya kita tidak harus mengerti apa-apa, tidak perlu memaklumi apa-apa, dan tidak perlu menyesali apa-apa. Kecuali hanya merasa, bergerak, dan menjelma. Aku suka ketika kamu menjelma kopi dan ketika kopi menjelma kamu.

Menakar kopi adalah keahlianmu. Punyamu; sesendok penuh kopi, dan dua sendok gula. Punyaku; kopi tak berampas yang kadang hanya menyisakan sedikit pahit. Di sana selalu ada sepotong rindu, terselip di cangkir-cangkir kopi, yang tak pernah selesai kita sesap bersama. Ada pula sepasang mata, menatapmu dengan penuh do'a.

Bukankah kita cukup bahagia meskipun hanya saling bertanya, apakah kita masih punya arti, dalam ukuran tahun cahaya? Ah, tidak. Terkadang, kamu lupa. Kopi mana yang aku suka. Kopi mana yang takarannya cukup untuk membuatku bahagia. Aku suka kopi, dan pahit sebagai canda di sela-selanya. Dan samar-samar manis sebagai akhirnya. Bukan pahit pada seluruh cangkirnya.

Hujan; "Dengan apa aku harus mempercayaimu?"
Kopi; "Dengan janjiku yang telah menggetarkan 'arsynya."
Hujan; "Pada siapa aku harus menagih janjimu?"
Kopi; "Allah. Emm, kamu nggak percaya sama aku?"
Hujan; "Percaya. Aku hanya sedang meyakinkan hatiku."

Selasa, 26 Januari 2016

Tak Bisakah?

Malam semakin larut, gerimis kembali menyapa rumput di halaman ku.


Mengingat mu punya rasa tersendiri untuk ku. Bahagia. Menyengkan. Tenang. Perih. Rindu. Terlalu banyak perasaan yang mungkin bila dibuat rinciannya, tak kan habis dalam 1 posting ku.

Aku rindu.

Masih terlalu merindukan mu.

Seperti air di sepetak sawah pada saat musim penghujan dengan sistem irigasi yang kurang baik. Membludak airnya, pun seperti rindu ini.

Aku punya kesenangan baru kali ini. Tergugu. Ya, menangis hingga mengugu. Hampir setiap malam aku masih mengugu pilu hanya ketika tak sengaja mengingatmu, kemudian mengenang mu, lalu berujung dengan merindukan mu. Tuhan...

Tak bisakah kita menghabiskan waktu bersama barang sebentar?
Tak bisakah kita menghabiskan satu malam lagi untuk bertukar cerita tentang hari yang sudah masing-masing kita lewati (lagi) ?
Tak bisakah sosok mu datang dengan seulas senyum, ketika tiba-tiba aku berlari seraya melompat kceil untuk memeluk mu.

Ya, sungguh aku merindukan masa-masa itu.

Kau benar, aku cengeng. Bahkan untuk usia ku, aku memang terlalu cengeng, Sayang.

Biarlah, jangan kau suruh aku untuk berhenti menangis, biar air ini mengalir bersama rindu yang tak terbendung ini, biar mereka lari keluar agar aku tidak tidur dalam guguan.

Minggu, 24 Januari 2016

Berkisah Tentang Hujan

Maaf, 

 

Jika kali ini aku sedang tak membicarakan hati. Aku cuma mau ngobrol soal hujan yang kerap akrab dengan suasana hati. Sudah pernah kan aku bilang kalau aku suka hujan?
 

Ketika kebanyakan orang menggerutu kala hujan jatuh, tapi tidak dengan aku. Malah aku mengharapkan jika durasi hujan yang bergulir bisa lebih panjang. Kalau bisa turun sejak pagi, siang hingga malam. menyetia tanpa jeda.

 

Lalu..

 

Biasanya aku betah berlama-lama duduk diambang jendela sibuk menghitung gegas tetes hujan yang jatuh.  Pernahkah kubilang jika pada tiap tetes hujan yang menghujam bumi masing-masing membawa cerita? Tentang bagaimana cara ia mengada hingga kemudian merinai tak terhingga?

 

Tapi senja ini aku tidak sedang menyaksikan hujan dari balik kaca jendela. Justru saat ini aku sedang melangkah di bawah arsirannya. Mendengarkan hujan berkisah langsung sambil menyertai gegasku.

 

Tak kuhiraukan cipratan genangan membasahi ujung-ujung celanaku akibat aku melangkah terlalu cepat, bagiku mendengarkan obrolan hujan lebih menyenangkan. Kami layaknya dua sahabat yang akrab, walau dia lebih sering diam dan hanya mendengar ocehan ku yang kadang merancau. Sambil bercerita, hujan sesekali mencoba menggoda dengan menjatuhkan tetes-tetesnya disebagian kemejaku meski aku telah berusaha menutupi tubuhku rapat-rapat dibawah lengkung payung.

 

Baru saja hujan bilang padaku jika ia kerap bersedih hati karena kehadirannya dianggap sebagai biang masalah karena membuyarkan rencana. Bahkan tak jarang orang menganggapnya sebagai pembawa suasana hati jadi kelabu dan mendadak mendung seketika seiring kehadirannya. Mendengar itu, aku pun tak lagi bisa membedakan mana air hujan mana air mata.

 

Hingga jam segini hujan belum menunjukan tanda-tanda pamit.

 

Hemm.. baiklah, bagaimana jika aku ingin mengajakmu? Barangkali kau mau ikut denganku bercengkrama dengan hujan sore ini? Jangan kau takut kalau nanti hujan akan menghadirkan kenangan tentang kita, justru hujan akan menghapus jejaknya.

 

Oia, sebelum aku lupa, bawa serta payung dan mantelmu karena aku tak tau, apakah hujan akan turun makin lebat atau justru berangin dingin.

 

Dan kalau sudah siap, temui aku di tempat biasa–

 

....

Matahari dan Bulan pada Suatu Subuh

Hai, kamu! Iya, kamu…
Sudah lama kan aku tak berkisah padamu? Sini. Kemarilah! Duduk di sini, di sampingku. Tinggalkan dahulu pekerjaanmu sejenak. Akan kuceritakan sepenggal kisah tentang cinta sepasang kekasih kepadamu. Mereka adalah bulan sahabatku dengan matahari kekasihnya. Dan mereka adalah pasangan yang saling mencinta.
Boleh kumulai kisahku?
Baiklah, begini…
Kisah ini dimulai pada jaman dahulu kala, saat bumi belum lagi berbentuk bulat. Saat itu, bumi hanya berbentuk sebuah daratan yang membujur dari kanan ke kiri. Luasnya pun tak lebih besar dari sebuah pulau kecil yang kini selalu menjadi tujuan utama wisata para turis mancanegara.
Keindahan negeri itu pun jangan ditanya, persis keindahan surga seperti yang selalu dikisahkan dalam kitab2. Disana tak pernah ada siang dan malam. Karenanya bila kita menengadahkan kepala, kita bisa melihat matahari dan bulan menghiasi langit negeri itu bersama2.
Siapa pun yang hidup di kala itu paham jika matahari dan bulan sesungguhnya adalah pasangan kekasih yang saling mencinta dan tak dapat terpisahkan. Siapa pun yang hidup di jaman itu pasti akan iri melihat kemesraan mereka berdua.
Hingga suatu masa kekuatan maha dasyat melanda negeri tersebut. Hujan deras turun tak henti2. Petir menyambar apapun yang ia mau. Angin kencang menerjang. Meluluhlantakan apa saja yang ada di sana. Memporakporanda keindahan negeri tersebut dalam sekejap mata.
Kehidupan damai dan tentram negeri itu sontak menjadi kelabu. Tak satupun orang yang berani keluar rumah. Alangkah berdukanya semua penduduk negeri. Tak terkecuali matahari dan bulan. Turunnya hujan membuat mereka tak dapat saling pandang karena tertutup kelabunya awan.
Setelah lebih dari ratusan hari negeri tersebut dimurka hujan, dibentak petir berkali2 serta tak jemu2nya angin mencerca, maka kekacauan negeri tersebut akhirnya pun berakhir. Hujan tak lagi turun. Petir dan halilintar pun tak lagi menyambar. Serta angin pun kini hanya bertiup sepoi saja.
Akan tetapi ada yang berbeda. Bumi yang tadi hanya daratan yang mendatar, kini tak lagi nampak ujungnya. Orang yang dahulu tinggal di ujung kiri negeri tersebut kini tlah bersebelahan dengan orang yang tinggal di kanan daratan. Dari situ mereka menyimpulkan bahwa dataran tempat tinggal mereka kini tlah berbentuk bulat.
Tak hanya itu, akibat peristiwa maha dasyat tersebut matahari dan bulan kini harus terpisah jauh. Matahari terpisahkan oleh dua kutub yang membagi dua bumi. Saat matahari menyinari sebelah kiri sisi bumi, bulan bersinar menerangi malam di sisi bumi yang lain. Begitu terus bergantian. Dan kini penduduk negeri tersebut harus merasakan hari yang gelap kala malam dan hari yang terang kala siang. Bulan dan matahari berputar dalam rotasinya masing2.
Sejak mereka terpisah, bulan selalu merindukan matahari. Hampir setiap waktu kala bulan usai melaksanakan tugasnya untuk memberi cahaya bumi pada malam hari, ia selalu memperlambat rotasinya. Ia ingin menyempatkan diri menyambut sang fajar yang mulai terbit di ufuk timur dari kejauhan.
Karenanya tak heran jika bayangan bulan yang pucat keperakan masih bisa ditemui meski matahari tlah muncul dari kaki langit ketika pernah aku menyaksikan matahari terbit di suatu subuh.
“Karena bisa menangkap bayangan matahari dari kejauhan, bagiku itu sudah cukup” jawab bulan ketika suatu ketika aku bertanya padanya.
Bulan sungguh tercekik rindu, itu kesimpulanku. Ia amat mencintai matahari. Namun semesta seakan menghukumnya. Andai ia tak harus berotasi. Andai waktu berhenti detik itu juga, demikian ia pernah berkesah. Gelisah jelas terbaca di wajah bulan.
Mari, sayang! Kubisikkan satu rahasia tentang bulan padamu. Apa kau tau alasan bulan menampakan dirinya tak utuh pada malam2 tertentu? Itu karena dia berusaha mengintip matahari yang sedang bersinar di sisi bumi yang lain. Bulan kemudian akan tersenyum lebar jika ia berhasil mengintip matahari. Nah, saat bulan sedang tersenyum itulah kita sering menyebutnya bulan sabit.
Sejak aku dan bulan berteman, aku selalu bangun pagi2 sekali bahkan ketika langit masih gelap dan bulan masih bersinar terang. Kemudian, sambil bulan menantikan matahari muncul dari balik cakrawala, aku menemani bulan yang wajahnya terlihat dirajam gelisah itu berbincang untuk sekedar membuang waktunya.
Sebenarnya bukan hanya itu alasanku sengaja bangun pagi2 sekali, sesungguhnya aku tak ingin melewatkan pertemuan sejenak antara bulan dan matahari yang kuanggap sangat romantis itu. Mengapa kusebut begitu, karena saat senja, kau tak akan bisa menemukan kejadian unik seperti ini, kala bulan dan matahari muncul di langit yang sama secara bersamaan meski hanya beberapa menit saja.
Pernah, aku sengaja mencuri dengar percakapan mereka di suatu subuh.
“Selamat pagi, matahari. Aku tak pernah heran mengapa Tuhan menganugerahkanmu kehangatan, karena bagiku, sinarmu selalu mampu membakar rinduku tak berkesudahan”
“Bulan, kehangatan sinarku bahkan terkalahkan oleh cahaya senyummu yang mampu mencairkan es di kedua kutub”.
“Bagaimana mungkin senyumku mampu melumerkan es di kedua kutub, nyatanya aku hanya sanggup melelehkan air mata dan meninggalkan jejak basah di kedua pipiku”
“Sejak kapan hujan senang bertandang di kejora matamu, bulan? Bukankah kita masih berada di bentang langit yang sama?”
“Duhai, mentari, semenjak semesta memisahkan kita, rupamu selalu menempati tiap sudut di hatiku, jadi bagaimana mungkin aku tidak merindu”.
“Rembulan, diam2 tanpa kau tahu, aku selalu menunggu setiap langkah kakimu saat menujuku”.
“Tapi kau menunggu dalam jarak yang begitu jauh. Kapan kau akan benar2 berlayar ke hatiku untuk berlabuh? Hingga kita dapat menyingkat jarak dan aku dapat memelukmu dalam sekali rengkuh”
“Rembulan, matikanlah rasa itu. Rasamu yang mencintaiku”.
Bulan tersentak. Bagaimana bisa ia tak mencinta. Kata2 matahari itu menusuk hingga relug hatinya.
“Apa kau bilang, mentari? Kau ingin agar aku membunuh cinta kita? Membunuhnya kemudian menguburkannya di bawah sebatang pohon yang rindang di atas bukit sana? Lalu kau ingin aku mengukir namaku dan namamu dengan gambar hati di tengah2nya di atas nisan itu, begitu?”
Matahari terdiam.
“Mengapa tidak? Tanpa kukatakan pun kau tahu mengapa kuminta kau untuk mematikan rasa cintamu itu”
“Ya, aku tahu. Karena telah ada awan yang menemani disetiap harimu. Karena tlah ada bintang yang setia menyertaiku, benar kan?”
Hening sesaat.
“Tidurlah, rembulan. Kutahu kau lelah setelah menerangi bumi dengan cahayamu semalaman. Istirahatlah. Berbaringlah di peraduanmu”.
“Tidak, aku tidak lelah. Aku belum ingin tidur. Oh, matahari, sesungguhnya aku rindu berbaring di sisimu. Terlalu dingin tidur tanpa terikmu yang meninabobokanku”.
“Cobalah mengerti, rembulan, aku pun begitu merindukanmu. Aku ingin kembali pada masa itu, masa dimana aku bisa menyinari bumi bersanding denganmu”.
Kata2 matahari berhasil menghangatkan bulan yang menggigil rindu.
Matahari melanjutkan,
“Tak tahu kah kau, bulan, jika cahaya yang kau miliki sesungguhnya berasal dari sinarku? Maka yakinlah, bahwa aku akan terus menyala dalam hidupmu. Percayalah bahwa cintaku abadi walau semesta selau berusaha menjadi pembatasnya”.
Gerimis menggenang di pelupuk mata bulan.
“Terima kasih, mentari, terima kasih. Kini kurasakan nadiku kembali berdenyut. Kata2mu mampu meniupkan ruh dalam hatiku. Tak mengapa bila semesta berdiri di tengah2 kita. Sudah cukup bagiku mengetahui kau masih tetap merindu dan mencinta”.
Bulan tersenyum. Bahagia.
Matahari menatap mesra kekasihnya. Lalu kudengar matahari berbisik, “Selamat tidur, rembulan”.
Diikuti bayangan bulan yang perlahan kian memudar, matahari pun bersiap memulai hari.
Begitulah, sayang, kisah matahari dan bulan yang berjanji akan tetap saling mencinta. Meski semesta menengahi mereka. Meskipun kini mereka hanya bisa bersenggama kala gerhana~

Tergugu

Di sini aku masih tergugu begitu hebat ketika mengingatmu. Entah sudah berapa kali air ini selalu menguak ketika mengingat mu.

Siang ini kota ku hujan tak kunjung reda, semakin membuat ku tenggelam lebih dalam sebuah ingatan bahagia, yang malah membuat ku perih.

Ketika tulisan ini ku buat, linangan ini tak juga kunjung reda.

Sugguhlah rindu ini masih dalam kadar yang sama, bahkan bertambah. Aku sudah tak tahu harus berbuat apa ketika sudah seperti ini. Hanya dapat berteriak dalam diam. Menggugu dalam keperihan.

Tak bisakah kita bertemu barang satu menit. Hanya untuk dapat memeluk  mu hingga guguan ini mereda. Setelahnya kau bisa pergi meninggalkan ku lagi. Tak apa bila tak ingin menengok kembali ke belakang.

Sungguh ini perih..



.........

Senin, 18 Januari 2016

Reading Room

Kemang di guyur hujan siang ini. Menyisakan tanah basah yang cukup membuat sandal jepit anak diseberang sana kotor.

Reading Room, sebuah cafe dibilangin Kemang Timur yang menyuguhkan suasana berbeda untuk sebuah cafe di Jakarta. Tak banyak pengunjung siang ini. 

Pekerjaan kampus yang menggunung dan suasan rumah yang berantakan memaksa saya (re: pengen main sebenernya) untuk cari tempat baru sembari menikmati wifi gratis. Saya tahu tempat ini tak sengaja dari browsing internet.

Sembari menyelesaikan pekerjaan yang menggunung, diseberang saya, duduk seorang laki-laki berusia sekitar 25 tahun dengan kaos coklat caramel. Berwajah putih sedikit oriental dengan bibir tipis dengan sebatang rokok terselip dibibirnya. Rambutnya tertata rapi. Matanya masih terpaku pada gadget bermerk.

Hampir 1 jam saya memperhatikan, wajah teduhnya cukup membuat saya lupa dengan tugas yang harus dikerjakan.

Sudah 9 bulan terakhir ini, laki-laki inilah yang masih sabar bergumul dengan saya, dengan semua rutinitas saya, dengan segala mood swings yang sungguh bisa membuat orag sakit kepala. 

9 bulan terakhir yang cukup membuat hari saya seperti Faber Castel Water Coloue isi 36 yang ada di rumah saya. Dia laki-laki yang saat mengaku menyayagi saya dengan apa adanya saya, walau sesekali dia mengehela napas ketika saya tak bisa membedakan kanan dan kiri ketika harus mencari sebuah jalan. Dia laki-laki yang sampai saat selalu meng-iya-kan keinginan saya, yang kadang tidak tahu waktu.

Dan, by the way terimakasih sudah mau repot-repot sekedar menemani siang ini haya untuk duduk manis menunggu selesainya tugas ku.

Have a good day fellas.
Kalian dapat salah dari Om Richard Oh di seberang saya.

 

Kamis, 14 Januari 2016

Rindu yang Tertahan

Kali ini tentang rindu yang tertahan.
Tentang rasa yang masih tersimpan rapi di tempat terbelakang kenangan yang sudah tak pernah tertengok lagi.
Tentang sentuh yang masih berharap temu.
Tentang tubuh yang masih harap hangat sebuah lengan.
Tentang bibir yang masih harap kecup lembut.
Tentang pilu yang kadang masih terasa ngilu ketika sekelebat kenangan mencuat tanpa sengaja.

Ini semua semua masih tentang rindu yang tertahan.
Kepadanya hati menjadi perih.
Kepadanya mata terlalu sering mengeluarkan bulir air.
Kepadanya dunia menjadi tempat yang memuakkan.

Iya, karena hal aneh yang disebut rindu, yang kemudian tak tersampaikan, maka dunia mu menjadi berantakan.



Selamat berjuang melawan rindu, teman.

Rindu yang Tertahan

Kali ini tentang rindu yang tertahan.
Tentang rasa yang masih tersimpan rapi di tempat terbelakang kenangan yang sudah tak pernah tertengok lagi.
Tentang sentuh yang masih berharap temu.
Tentang tubuh yang masih harap hangat sebuah lengan.
Tentang bibir yang masih harap kecup lembut.
Tentang pilu yang kadang masih terasa ngilu ketika sekelebat kenangan mencuat tanpa sengaja.

Ini semua semua masih tentang rindu yang tertahan.
Kepadanya hati menjadi perih.
Kepadanya mata terlalu sering mengeluarkan bulir air.
Kepadanya dunia menjadi tempat yang memuakkan.

Iya, karena hal aneh yang disebut rindu. Kemudian tak tersampaikan, maka dunia mu menjadi berantakan.

Selamat berjuang melawan rindu, teman.