Hujan baru saja berlalu, menyisakan gerimis yang masih menyapa kota ku malam ini. Sabtu malam kali ini aku masih sibuk dengan laporan riset yang masih belum juga selesai, pekerjaan kampus masih menumpuk setinggi gunung Rinjani dihadapanku, bahan ajar yang sudah mengantri panjang untuk disentuh.
Dan seperti biasa kamu selalu "bernyayi" ketika "waktu kualitas" kita selalu aku sibukkan dengan tugas kampus. Dan masih seperti biasa kamu masih mau untuk menemani ku untuk mengerjakannya walau dengan muka berlipat-lipat.
Malam ini kamu masih mau menemani ku duduk hanya untuk sekedar menemani ku di salah satu kedai kopi di kota ku.
Sulit berkonsentrasi untuk pekerjaan yang menggunung, ketika kamu ada disamping ku. Malam ini cuaca tidak begitu bersahabat. Sambil menikmati teh tarik ku ditemani kamu yang serius mengotak-atik dan membereskan file picture di komputer jinjing mu, tiba-tiba otak ku melayang ke masa dimana aku mengenal mu. Kamu yang dulu tak masuk "hitungan" ku. Kamu yang dulu hanya aku anggap sebagai teman saja. Persinggahan sesaat ketika luka ku belum kering benar.
Dan kemudian aku mengenal baik seluruh sisimu ketika musim penghujan 2 tahun lalu. Dengan cara yang unexpected. Aku yakin semua yang kita lalui bersama; senang, bahagia, menangis - yaaps aku yang lebih banyak menangis - menyesali kesalahn kita, bukan hanya konspirasi semesta semata. Rekayasa Tuhan memang ajaib. Salah satu keajaiban dari Tuhan yang ku dapat selama 22 tahun terakhir ini salah satunya, kamu; Semesta.
Semesta,
Sosok pria yang mungkin telah diciptakan Tuhan sebagai pemberi perhatian dengan kualitas terbaik untuk setiap wanita yang dikenalnya. Pria mandiri yang begitu mencintai Ibunya, aku dan ibu ku. Dan sisi lain menjadi pria yang begitu manja ketika Tuhan sedang memaksa untuk istirahat total.
Mengenal mu adalah cara terbaik Tuhan untuk aku mengetahui seluruh darimu. Sisi yang menyenangkan, sisi yang penuh dengan kompromi, sisi hangat dan manismu seperti coklat panas ku yang bercampur dengen marshmallow; manis dan hangat.
Semesta,
Memang pendengar yang baik, pemberi masukan yang masuk akal; walau lebih sering tak menggunakan perasan, tapi sayang kamu bukan pencerita yang baik, Sayang. Semesta selalu membuatku untuk melihat something dengan sudut pandang yang berbeda. Sungguh, aku mencintai isi otak pria ini. Pandangannya selalu berbeda.
Sudah tiga kali musim penghujan kita lewati. Dan kita masih saling bertahan ternyata. Masih saling belajar untuk saling memahami, belajar untuk menjadi bagian yang dibutuhkan satu sama lain. Berkomitmen untuk terus saling menjaga, memberi, mencintai, memberi harapan, untuk saling ada satu sama lain, saling mengingatkan, sama-sama menahan ego, saling menjadi pemberi nasihat termutahir, menjadi yang saling merindu dan dirindukan, menjadi pendongeng ulung ketika aktivitas seharian telah berlalu. Saling ada untuk yang selalu merasa sendiri.
Semesta,
Dia yang mengajarkan bahwa cinta tak sesederhana pinta yang menanti untuk diberi. Yang terus mengingatkan bahwa cinta tak sebatas mau yang biasa, yang pergi setelah dipuaskan, yang kehilangan gairah saat tak mendapatkan.
Kamu dan aku yang sekarang menjadi kita.
Seperti arti nama kita masing-masing. Keberadaan kita untuk saling memberi dan menerima cahaya masing-masing.
Sabtu, 31 Januari 2015
Jumat, 30 Januari 2015
Memiilih..
seperti pijar cahaya yang hampir padam dan habis sumbunya,
aku meminta untuk direlakan, karena tak cukup mampu menambah daya lagi, tak punya alasan untuk terus berjuang
seperti ranting kecil yang terkulai lemah lalu patah, lalu jatuh, lalu mengikuti angin jauh menjauh dari patahannya,
aku hanya minta dilepaskan pergi menyatu dengan apa yang telah membawa ku jauh menjauh dari tempat ku bersandar selama ini
maafkan aku memilih mendayung semakin jauh dari tepian tempat kita belajar mengerti, tanpa tahu kemana harus pergi. Yang ku tahu jika kita terus bersisian tak akan baik untuk ku, terlebih untuk mu..
maafkan aku memilih untuk mengikuti apa yang hatiku ingin untuk ikuti, karena sesungguhnya tak mampu berpijak lama pada dua tempat yang berbeda, tak pernah cukup mampu untuk berbagi..
maafkan aku memilih untuk tetap berpihak pada hati dan menomorduakan logika..
maafkan aku memilih untuk memilih sebelum menyesal karena tak sempat memilih..
wulan,
Minggu, 11 Januari 2015
Kepada: Senja ku tersayang
Kepada Senja ku tersayang,
Senja,
Kau adalah polesan terindah Tuhan di ufuk sana. Di dunia senja memang ada hanya beberapa menit, tapi kau adalah salah satu momen yang ditunggu banyak anak manusia. Beberapa menit setelah kehadiranmu kau mampu membuat ku jatuh cinta seumur hidup ku.
Kepada Senja ku tersayang,
Aku ingin memeluk mu, melukiskan senyum disetiap jengkal dirimu, menjadi bagian dari mu. Kau milik semua orang, tapi suatu saat nanti akan kau akan menjadi milik ku.
Senja ku sayang,
Warnamu memang berkutat dengan jingga, merah, kuning, emas. Kau menjadi begitu indah, Semburatmu begiu menawan, seolah ingin menunjukkan kecantikannya dengan tersipu. Warna kuat, terang, mampu membuat manusia terpukau, namun kau tetap hangat dan menyenangkan.
Senja,
Ingatkan aku untuk selalu bersabar menantimu, kuatkan aku ketika dunia mulai terasa rapuh, ketika aku tak lagi kuat untuk bertumpu dimana pun.
Kepada Senja ku tersayang,
Semoga dipertemuan yang akan datang aku akan menjadi teman baik mu yang selalu setia menantimu, tak pernah lelah untuk menunggu mu, agar kau tahu bahwa aku yang selalu menanti mu.
dari wanita pemujamu
yang begitu menantikan dan mencintaimu.
Kamis, 01 Januari 2015
halaman 365
“Waktu
laksana pedang, jika tidak mampu memanfaatkan waktu, maka kamu akan terhunus
olehnya”.
Jadi..apa yang kalian rencanakan
untuk menghabiskan halaman terakhir buku ini? Halaman 365. Membakar kembang
api, berkumpul dengan orang terdekat, menghabiskan sepanjang malam untuk -
sekedar ikut - merayakan acara yang dimana katanya momen pergantian tahun
Masehi? Atau kalian mengikuti budaya Barat, kalian akan berkumpul di tengah
kota untuk menyaksikan pagelaran atau festival yang dilenggarakan oleh swasta
dan pemerintah setempat untuk menunggu pertunjukkan kembang api yang
menghabiskan banyak dana setelah itu semua selasai, kalian akan berpelukkan
bahkan berciuman untuk merayakan pergantian tahun? Ahh, mungkin aku terlalu
sentimentil untuk momen seperti ini. jadi semoga acara kalian lebih bermanfaat.
Kegiatan ku seharian ini hanya
berdiam diri di rumah. Hujan sedang begitu mencintai Depok, hingga ia enggan
untuk pulang dari kunjungannya. Hujan dengan sangat berperasaan, menghabiskan
rindunya dengan kota ku hari ini, hingga sang malam menjemputya, hujan baru
menurut untuk pergi. Ya, udara dingin langsung menari diantara germelap lampu
kota ku. Kabut pun tak mau kalah ambil andil dalam pergantian halaman terkahir
ini. Halaman 365.
like the old time, 31 Desember 2014
kemarin (beberapa jam yang lalu), oke kegiatan hari ini cuma berguling-guling
bosan di tempat tidur. Hujan sepanjang hari. Seharusnya seharian kemarin, aku
(red: beberapa jam yang lalu) ada janji dengan Semesta, anggaplah kencan
terakhir kami di halaman 365, tapi hujan begitu setia menemani kota kesayangan
ku ini, begitu pula dengan kota Semesta. Malam aku hanya duduk di salah satu
kedai kopi (seperti biasanya juga) di Margonda. Duduk menikmati malam,
lagi-lagi ditemani secangkir kopi panas.
Setiap tahun aku tidak pernah secara
khusus untuk merayakan pergantian tahun Masehi, Hanya menikmati apa yang sudah
orang lain kerjakan dan siapkan. Tulisan kali ini buat hanya untuk mengingatkan
ku bagaimana aku melewati tahun Masehi kali ini.
Waktu adalah sesuatu yang tak
terbendung, ia akan terus bergerak sekalipun kita lelah untuk beranjak dari
tempat kita berdiri, ia akan terus melangkah sekalipun kita telah kehilangan
semangat untuk mengarungi kehidupan.
Jadi 2014 kemarin adalah tahun dimana
pencapaian ku sedikit banyaknya tercapai. Tahun berkah dengan banyak keajaiban
dari Tuhan yang selalu aku syukuri. Termasuk berkah sakit gigi,
hahahaha..Januari aku mulai dengan baik. Dengan sangat baik, dengan SKRIPSI.
Yahh perjuangan sekali buat hal satu ini.
JANUARI
Skripsi..Yaps, Mengawali tahun 2014, skripsi memang didepan
mata. Fiuhhh. Dan lagi keranjingan sama hamster, sampai pada akhirnya harus
diungsiin ke Matraman.
|
Satu hal yang melekat kuat di otak,
Februari adalah ujian akhir semester terakhir yang harus dijalanin sebagai
mahasiswi di kampus. Its feel like
"my hell is gone",
hahahahaha..Maret masih bergelut dengan skripsi, dan akhirnya diawal April
badan tumbang, tifus menyambangi tubuh. Ternyata Tuhan begitu sayang pada ku
untuk membuat ku bedrest. Kemudian Mei datang dan lewat begitu cepat, and finally my
June is coming. Yaps,
Juni datang begitu cepat, saat bulan ini pula umurku memasuki kepala dua lebih
dua.
![]() |
| acara terakhir kampus, sekelas kumpul semua |
Dan diakhir Juni masih diberi kesempatan oleh-Nya
untuk bertemu Ramadhan, Ramadhan yang berkesan bersama si skripsi. Ramadhan
yang penuh berkah. Dan Juli pun datang dengan LEBARAN..wohooouuu..Agustus,
tepatnya tanggal 28 Agustus, sidang skripsi pun datang, hari dimana perasaan
yang campur aduk. Tanggal ini adalah proses terakhir masa pendidikan 4 tahun
ku. Agustus berlalu, berganti September. Awal September aku harus bergerumul
dengan YUDISIUM, Yaps, pengumuman apakah aku dinyatakan lulus atau tidak setelah
sidang skripsi bulan sebelumnya. Dan akhirnya GUE LULUS MEEEENNNNN..dengan
nilai memuaskan.
![]() |
| mereka adalah teman sekelas ku yang berjuang dengan ku untuk sidang skripsi gelombang pertama |
Dan Oktober pun datang. Ini salah satu bulan favorit, kenapa? Yaps, karena Ibu ulang tahun. Bersyukur karena Tuhan masih memberi Ibu nikmat sehat, nikmat hidup yang tak terkira.
November giliran Semesta yang mengulang hari lahirnya.
![]() |
| happy birthday Semesta |
Desember 2014 ditutup dengan WISUDA !!
Inilah realitas
kehidupan. Ketika kita telah merasa berjuang begitu keras, ternyata masih
banyak kerikil tajam yang mengganjar disetiap langkah kita. Ketika kita telah
berupaya, masih ada kegagalan yang menghampiri kita, masih ada tangis yang
mengiringi jalan kita, masih banyak hal yang tidak sesuai dengan harapan kita.
Apalagi ketika kita memasuki tahun tahun penuh tantangan seperti yang akan kita
hadapi sebentar lagi.
Penghujung Desember.
Sampailah kita di titik
ini, halaman 365. Halaman terakhir. Dan menuju ke buku lainnya, halam pertama dari 365 di depan mata. Sebagai acuan kita untuk lebih tegap lagi melangkahkan kaki di esok
hari, di tahun 2015 yang telah menyapa kita beberapa menit yang lalu.
Pergantian waktu
setahun menunjukan bahwa umur kita bertambah satu, tetapi kesempatan hidup kita
di dunia berkurang pula satu tahun. Waktu laksana air yang mengalir ke hilir
yang takkan pernah kembali ke hulu. Kadang ia membangkitkan semangat, namun
kadang membuat orang terlena dan tidak menyadari kehadiran waktu dan melupakan
nilainya.
Bismillah,,,
Hanyalah kepada engkau tempat kembali, tempat hamba
memohon pertolongan, kekuatan maupun ampunan. Semoga setahun yang terlewati
adalah ilmu untuk melangkah ditahun yang baru yang akan hadir sebentar lagi.
Semoga hamba bisa menjadi pribadi yang baru juga, pribadi yang lebih baik dari
sebelumnya. Ijinkanlah hamba menjadi bagian dari hamba-Mu yang
beruntung..
Aamiin aamiin.. Ya Rabbal Alamin.
Langganan:
Postingan (Atom)





