Rabu, 07 Desember 2016

Merindukan kamu, Cinta Pertama ku

Hari panjang, melelahkan namun dengan banyak proses akhirnya terlewati. Ya, panjang dan lelah.

Hidung bumpet, pekerjaan menggunung dan hujan. Lengkap rasanya bila meromatisir sebuah kenangan. Rindu sebenarnya. Merindukan seseorang bukan hal menyenangkan memang. Terlebih ketika rindu tak bermuara pada temu.

All I hear is raindrops
Falling on the rooftop
Oh baby tell me why’d you have to go
Cause this pain I feel

Ya, tulisan ini sepertinya salah satu cara ku untuk bercerita sedikit dengan mu, cinta pertama ku.

Kamu tahu? aksara ku kali ini ku buat berawal dari sebuah unggahan foto salah satu rekan kerja ku di salah satu media sosialku, Bertuliskan "7years". Ya, mengingatkan ku tentang kamu.

Kepada mu, cinta pertama ku..Apa kabar kamu? Aku berharap kamu selalu berada didalam lindungan-Nya. Tak kekurangan satu pun. Tenang saja, sampai saat ini kamu masih menjadi urutan teratas ketika percakapan ku dengan-Nya. Memeluk mu dalam doa masih aku pertahankan.

Sedikit ingin bercerita, semoga disana kamu tak lelah mendengarnya. Untuk ku, kamu selalu menjadi konsep cinta pertama yang begitu indah. Cinta pertama yang tak pernah lekang oleh era. Cinta pertama yang selalu indah, seindah senja yang penghujung hari. 

Maafkan aku karena pernah sejenak aku melupakan cintamu. Bodohnya aku karena mencari cinta diluar sana. Dungunya aku karena mencari cinta dari orang asing, padahal cinta sebenar-benarnya cinta sudah ada pada dirimu selama ini..

Aku ingat bagaimana kening berkerut semakin dalam, ketika kita mulai berselisih pendapat. Atau bila aku tak berkabar seharian ketika aku sudah telalu lama berkegiatan diluar. Sosok mu mungkin terlihat kaku untuk seorang laki-laki yang hidup di era semua serba cepat. Tapi dari semua itu, kamu selalu tahu, apa dan bagaimana semua hal terbaik untuk ku.

...

 

Dan ya, malam ini aku rindu, Pak. Rindu yang tertahan, hingga akhirnya buliran kristal tak henti menerobos benteng pelupuk mata.

Menyebut namamu, mengalunkan vibrasi dalam denyut nadiku, memenuhi rongga tubuhku dengan getaran. Jutaan getaran yang ditimbulkan oleh perasaan-perasaan yang berbeda, menyatu, membuatku terpekur dalam kerinduan. Rindu pada segala hal tentang mu, Pak.

Bukan waktu yang singkat untuk sebuah perasaan kehilangan, dan bukan waktu yang terlalu lama untuk sebuah tahapan pendewasaan. Rindu pada setiap canda dan tawa yang kau tawarkan, cerita-cerita konyol, nasihat klasikDan ketika itu, semua hanya biasa, tak pernah ada kesan istimewa. Tapi sekarang, yang biasa itulah justru yang sangat aku rindukan.

Kamu selalu menjadi lelaki pertama yang menatapku dengan penuh bangga. Saat ini anakmu sekarang sudah berusia hampir seperempat abad. Pikiran tentang masa depan jelas memerlukan arahan dan diskusi serius. Bapak hanya berpesan, “Lakoni apa yang kamu cintai.” Mengerjakan hal atas dasar cinta biasanya akan lebih memuaskan dan berharga daripada dicampuri dengan keengganan yang berujung pada keterpaksaan. Pun tentang urusan masa depan. Aku ingat kau pernah berkata bahwa masa depan bukan melulu soal penghidupan yang berbasis kerja, tapi juga tentang hati yang perlu hidup berdampingan alias pasangan.

Meski tidak secara langsung kuceritakan tentang perjalanan cintaku, tapi pada akhirnya Bapak mendengarnya dari Ibu. Kali ini, beberapa penggal kisah cinta belum sukses terselesaikan. Ada yang kandas di tengah jalan karena pengkhianatan, ada juga cinta yang tak kesampaian. Ah Bapak, harus kuakui. Belum ada bahu senyaman milikmu untuk menjadi tempat sandaran saat putus cinta. Tapi aku ingat pesanmu, “Yang meremukkan hati anak Bapak, akan diganjar oleh Tuhan.”

Pak..rinduuu...


Dari gadis mu, 
yang tergugu karena rindu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar