Sabtu, 31 Januari 2015

(masih) semesta

Hujan baru saja berlalu, menyisakan gerimis yang masih menyapa kota ku malam ini. Sabtu malam kali ini aku masih sibuk dengan laporan riset yang masih belum juga selesai, pekerjaan kampus masih menumpuk setinggi gunung Rinjani dihadapanku, bahan ajar yang sudah mengantri panjang untuk disentuh.

Dan seperti biasa kamu selalu "bernyayi" ketika "waktu kualitas" kita selalu aku sibukkan dengan tugas kampus. Dan masih seperti biasa kamu masih mau untuk menemani ku untuk mengerjakannya walau dengan muka berlipat-lipat.

Malam ini kamu masih mau menemani ku duduk hanya untuk sekedar menemani ku di salah satu kedai kopi di kota ku.

Sulit berkonsentrasi untuk pekerjaan yang menggunung, ketika kamu ada disamping ku. Malam ini cuaca tidak begitu bersahabat. Sambil menikmati teh tarik ku ditemani kamu yang serius mengotak-atik dan membereskan  file picture di komputer jinjing mu, tiba-tiba otak ku melayang ke masa dimana aku mengenal mu. Kamu yang dulu tak masuk "hitungan" ku. Kamu yang dulu hanya aku anggap sebagai teman saja. Persinggahan sesaat ketika luka ku belum kering benar.

Dan kemudian aku mengenal baik seluruh sisimu ketika musim penghujan 2 tahun lalu. Dengan cara yang unexpected. Aku yakin semua yang kita lalui bersama; senang, bahagia, menangis - yaaps aku yang lebih banyak menangis - menyesali kesalahn kita, bukan hanya konspirasi semesta semata. Rekayasa Tuhan memang ajaib. Salah satu keajaiban dari Tuhan yang ku dapat selama 22 tahun terakhir ini salah satunya, kamu; Semesta.

Semesta,
Sosok pria yang mungkin telah diciptakan Tuhan sebagai pemberi perhatian dengan  kualitas terbaik untuk setiap wanita yang dikenalnya. Pria mandiri yang begitu mencintai Ibunya, aku dan ibu ku. Dan sisi lain menjadi pria yang begitu manja ketika Tuhan sedang memaksa untuk istirahat total.

Mengenal mu adalah cara terbaik Tuhan untuk aku mengetahui seluruh darimu. Sisi yang menyenangkan, sisi yang penuh dengan kompromi, sisi hangat dan manismu seperti coklat panas ku yang bercampur dengen marshmallow; manis dan hangat.

Semesta,
Memang pendengar yang baik, pemberi masukan yang masuk akal; walau lebih sering tak menggunakan perasan, tapi sayang kamu bukan pencerita yang baik, Sayang. Semesta selalu membuatku untuk melihat something dengan sudut pandang yang berbeda. Sungguh, aku mencintai isi otak pria ini. Pandangannya selalu berbeda.

Sudah tiga kali musim penghujan kita lewati. Dan kita masih saling bertahan ternyata. Masih saling belajar untuk saling memahami, belajar untuk menjadi bagian yang dibutuhkan satu sama lain. Berkomitmen untuk terus saling menjaga, memberi, mencintai, memberi harapan, untuk saling ada satu sama lain, saling mengingatkan, sama-sama menahan ego, saling menjadi pemberi nasihat termutahir, menjadi yang saling merindu dan dirindukan, menjadi pendongeng ulung ketika aktivitas seharian telah berlalu. Saling ada untuk yang selalu merasa sendiri.

Semesta,
Dia yang mengajarkan bahwa cinta tak sesederhana pinta yang menanti untuk diberi. Yang terus mengingatkan bahwa cinta tak sebatas mau yang biasa, yang pergi setelah dipuaskan, yang kehilangan gairah saat tak mendapatkan.

Kamu dan aku yang sekarang menjadi kita.

Seperti arti nama kita masing-masing. Keberadaan kita untuk saling memberi dan menerima cahaya masing-masing.

love you



Tidak ada komentar:

Posting Komentar