Minggu, 15 Maret 2015

Cinta yang menjelma

Di setiap perjalanan seorang manusia, selalu ada lubang-lubang yang jurang menganga. Lubang yang hitam, lubang kelam, lubang yang indah lalu kita jatuhi, namun kadang kita jauhi–banyak yang menyebut lubang itu cinta.

Aku pernah mengarang sebuah cerita bodoh tentang asal-usul dari cinta, di sela waktu antara rindu dan kalimat tanya.

Pada dahulu kala, ada sepetak langit tak bernama, dan hanya terpisahkan satu helai rambut di bawah surga. Di sana, hidup sebuah cinta.

Aku, pada waktu itu menggambarkan cinta sebagai hal yang bisa menjadi apa saja.  Kadang ia menjelma sebagai hujan piatu, mengais-ngais udara dan mencari apa yang tak ada dalam sosok ibu. Dia bisa menjadi tempat yang lebih indah dari ladang-ladang ganja, penjara-penjara fana, atau lautan petaka. Pernah juga kugambarkan cinta sebagai salah satu relikui kematian tanpa nama.

Cinta, bisa menjadi tambang air mata, sesaat setelah ia menjelma perjamuan-perjamuan kecil di saku dada kiri dan sebuah pohon dengan dahan yang hampir menyentuh singgasana Tuhan.

Cinta pernah menjelma sungai tanpa muara, sebelum akhirnya menyerah pada seseorang yang enggan memilih antara kenangan dan aku.

Cinta juga pernah seperti kopi hitam, kita melihatnya hitam, pekat, tanpa bisa melihat dalamnya karena hitam pekatnya, sebelum kita mencium harum aroma asap yang menyeruak, sebelum kita menyruput manis isinya.

Cinta pernah menjelma menjadi madu di hutan liar, sebelum kita dapat mencicip manisnya, kita menjumpai segerombol lebah penjaga yang tak sembarang orang dapat mengecap manis madu.

Kugambarkan juga cinta sebagai lampu jalan yang tak percaya diri untuk menerangi pagi. Lantas sebagai air mata yang tetesnya selalu pergi, dan daun yang mungkin ranggas oleh api.

Kemarin, kugambarkan cinta sebagai waktu yang terselip rapih dalam rak kayu mahoni, menikmati canda yang tergeletak di atas lantai marmer, dan rindu yang terlelap dalam kamar gelap.

Dan yang paling kusukai, aku pernah menggambarkan cinta sebagai kita, duduk berhadapan dengan rindu sebagai penerang yang seadanya. Disaksikan bulan yang cemberut, kita merencanakan ritual-ritual remeh tentang perpisahan, saling melukai, dan saling merindukan. Dan tak ketinggalan dengan kopi kesukaan mu. Seperti banyak anak remaja penggalau mengatakan, kalau cinta itu kita.

Yang terakhir, namun tak mengakhiri, aku menggambarkan cinta sebagai buku tua yang gemar menambah dan mengurangi lembar gelisahnya sendiri. Buku yang gemar bermain dalam sela-sela rumah rayap. Buku yang gemar menangis dalam aku. Buku yang memaksa aku untuk percaya bahwa cinta tidak mengenal kata selesai, berjudul kamu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar