Aku. Aku hanyalah perempuan yang begitu menyukai senja dan
matahari terbenam. Rasanya tak ingin sekalipun melewati warna jingga yang selalu
terlukis indah dari sapuan kuas Sang Pelukis di kanvas langit-Nya. Ya, meski aku
tahu senja itu hanya sementara. Warnanya akan pudar. Dan kemudian akan
digantikan dengan hitam malam yang merenggut segalanya. Hitam yang tak aku
sukai, tapi aku tetap menikmati malam, walau tak suka hitam. Tapi bukanlah itu
hakikatnya? Yang indah yang tak selamanya ada, bahagia yang tak selamanya tinggal,
dan sebuah senyuman pun tak selamanya bertahan. Bukankah semesta mengajarkannya
dengan jelas kepada kita?
Aku selalu menikmati senja ku sendiri. Sembari menikmati hazellnut favoritku. Tapi analogi kopi
hitam sepertinya lebih sesuai dengan kisah kali ini. Hitam dan pahit. Mungkin karena
rasanya. Ya rasanya mengingatkan ku pada sebuah kenangan. Pahit.
Tapi, hei! Kenapa kopi ini rasanya dingin? Ah, tunggu! Padahal
seingat ku, baru ku buat seminggu lalu. Sial! Kemana asap-asap tipis itu pergi?
Mungkinkah mereka pergi ke langit, merajut awan dan berencana menurunkan hujan
untuk mengacaukan senja ku hari ini? Tidak tidak. Itu tidak boleh terjadi. Aku sedang
ingin menikmati senja bukan hujan. Walau aku juga mencintai hujan, tapi aku
sedang ingin melihat senja hari ini.
Langit turunkan asap-asap tipis itu kembali ke sini. Dan aku
masih membenci rasa kopi hitam ini, seperti sikap seorang kepada ku di masa
lalu. Pahit namun hangat.
Aku kembali menikmati senja dan jingganya. Kau tau Sayang, aku
begitu mencintai senja seakan ia adalah bagian dari sepi, sepi yang berbeda
tentu saja. Mungkin hanya senja, proses
menuju malam yang biasa terjadi, namun untuk ku senja selalu punya cerita
sendiri. Untuk ku senja mengajarkan aku tentang ketulusan. Bagaimana ia rela
tenggelam dan menghilang dan terganti dengan malam. Ia tak pernah meminta untuk
lebih lama tinggal, karena ia sadar betul itulah perannya. Hadir sekejap namun
menorehkan banyak kesan dan kenangan yang tak pernah terlupakan. Ia pergi namun
tak benar-benar pergi. Ia selalu ada untuk membuat hangat bukan membuat panas
atau pun dingin. Ya, hangat. Ia masih bersama langit, hanya saja ia sedang
berpindah tempat untuk menjadi tak begitu terlihat, namun pada akhirnya ia
tetap menunggu untuk kembali datang. Ah, lagi-lagi senja mengajarkan ku tentang
satu hal. Kesetiaan.
Dan aku masih menikmati senja seorang diri. Mereka kata
baiknya aku mengajak dia yang kini bersama ku untuk menikmati senja, tapi aku
tak pernah meng-iya-kan mereka. Hanya tersenyum yang aku lakukan. Apalagi saat
senja benar-benar terenggut oleh malam. Dan angin pasti berhembus lebih
kencang. Membuat ku semakin merapatkan baju hangat. Tapi entahlah aku tak
pernah mengajaknya untuk menikmati senja ku itu. Aku juga tak begitu berharap
kalau dia akan menemani ku menikmati senja. Aku hanya ingin dia yang akan
menuntunku kepada senja, bukan aku yang menarik lengannya untuk duduk berdua
dengan ku. Semoga ia dapat mencintai senja agar kesetiaannya sama halnya dengan
kesetiaan senja pada langit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar