Senin, 16 Maret 2015

Senja

Aku. Aku hanyalah perempuan yang begitu menyukai senja dan matahari terbenam. Rasanya tak ingin sekalipun melewati warna jingga yang selalu terlukis indah dari sapuan kuas Sang Pelukis di kanvas langit-Nya. Ya, meski aku tahu senja itu hanya sementara. Warnanya akan pudar. Dan kemudian akan digantikan dengan hitam malam yang merenggut segalanya. Hitam yang tak aku sukai, tapi aku tetap menikmati malam, walau tak suka hitam. Tapi bukanlah itu hakikatnya? Yang indah yang tak selamanya ada, bahagia yang tak selamanya tinggal, dan sebuah senyuman pun tak selamanya bertahan. Bukankah semesta mengajarkannya dengan jelas kepada kita?

Aku selalu menikmati senja ku sendiri. Sembari menikmati hazellnut favoritku. Tapi analogi kopi hitam sepertinya lebih sesuai dengan kisah kali ini. Hitam dan pahit. Mungkin karena rasanya. Ya rasanya mengingatkan ku pada sebuah kenangan. Pahit.

Tapi, hei! Kenapa kopi ini rasanya dingin? Ah, tunggu! Padahal seingat ku, baru ku buat seminggu lalu. Sial! Kemana asap-asap tipis itu pergi? Mungkinkah mereka pergi ke langit, merajut awan dan berencana menurunkan hujan untuk mengacaukan senja ku hari ini? Tidak tidak. Itu tidak boleh terjadi. Aku sedang ingin menikmati senja bukan hujan. Walau aku juga mencintai hujan, tapi aku sedang ingin melihat senja hari ini.

Langit turunkan asap-asap tipis itu kembali ke sini. Dan aku masih membenci rasa kopi hitam ini, seperti sikap seorang kepada ku di masa lalu. Pahit namun hangat.

Aku kembali menikmati senja dan jingganya. Kau tau Sayang, aku begitu mencintai senja seakan ia adalah bagian dari sepi, sepi yang berbeda tentu saja.  Mungkin hanya senja, proses menuju malam yang biasa terjadi, namun untuk ku senja selalu punya cerita sendiri. Untuk ku senja mengajarkan aku tentang ketulusan. Bagaimana ia rela tenggelam dan menghilang dan terganti dengan malam. Ia tak pernah meminta untuk lebih lama tinggal, karena ia sadar betul itulah perannya. Hadir sekejap namun menorehkan banyak kesan dan kenangan yang tak pernah terlupakan. Ia pergi namun tak benar-benar pergi. Ia selalu ada untuk membuat hangat bukan membuat panas atau pun dingin. Ya, hangat. Ia masih bersama langit, hanya saja ia sedang berpindah tempat untuk menjadi tak begitu terlihat, namun pada akhirnya ia tetap menunggu untuk kembali datang. Ah, lagi-lagi senja mengajarkan ku tentang satu hal. Kesetiaan.


Dan aku masih menikmati senja seorang diri. Mereka kata baiknya aku mengajak dia yang kini bersama ku untuk menikmati senja, tapi aku tak pernah meng-iya-kan mereka. Hanya tersenyum yang aku lakukan. Apalagi saat senja benar-benar terenggut oleh malam. Dan angin pasti berhembus lebih kencang. Membuat ku semakin merapatkan baju hangat. Tapi entahlah aku tak pernah mengajaknya untuk menikmati senja ku itu. Aku juga tak begitu berharap kalau dia akan menemani ku menikmati senja. Aku hanya ingin dia yang akan menuntunku kepada senja, bukan aku yang menarik lengannya untuk duduk berdua dengan ku. Semoga ia dapat mencintai senja agar kesetiaannya sama halnya dengan kesetiaan senja pada langit. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar