Tahunan.
Ya aku menyebut seperti itu. Atau menahun? Entahlah.
Hubungan yang berjalan selama bertahun-tahun. Perjalanan yang cukup panjang untuk mengenal satu sama lain. Hubungan yang membuat orang lain iri. Ya, kau selalu menyebutnya seperti itu. Hubungan dengan intensitas kebahagiaan yang tinggi. Mungkin kita sering tak sejalan namun kita bisa saling menahan ego. Hubungan dewasa dengan bumbu manis yang selalu kita banggakan.
Ya, aku banggakan. Bahkan sangat aku banggakan. Pun dengan dirimu. Kamu tak segan memperkenalkan ku dengan semua orang yang dalam hidupmu, mengatakan kepada mereka, aku adalah satu-satunya, wanita terakhir untuk berlabuh. Mungkin awalnya aku mendengar itu, seperti berlebihan dan hanya untuk menyenangkan ku saja, bahkan aku sempat berpikir pengakuan itu hanya untuk memperkenalkan eksistensi mu saja. Tapi kelamaan aku tahu, sebegitunya kamu bangga dengan hubungan ini.
Tahun pertama berjalan dengan semua ketidak sesuaian. Dengan semua perasaan aneh, bingung. Dengan semua ego ku yang tak mau mengalah. Dengan sikap mu yang tanpa kompromi. Dengan semua perdebatan yang kadang tak pernah ada jalan keluar. Tapi kita sama-sama bisa melewati itu semua. Tuhan Maha Baik bukan?
Memasuki tahun ke dua, kita mulai bisa menyelaraskan langkah. Mulai terbiasa dengan sikap masing-masing. Tahun tahun berlalu dengan cepat. Kita menyamakan persepsi hidup. Membangun visi bersama. Mempertahankan apa yang sudah kita bangun. Terimakasih banyak untuk tahun-tahun indah yang lalu.
Tapi ternyata tahun-tahun harus bertemu dengan hal menyakitkan. Kejadian yang membuat kita berdua sakit. Perih.
Dan untuk ku, itu menyisakan sebuah lubang hitam besar. Kemana visi yang kita bangun bersama? Kemana komunikasi yang dulu bangun? Semua hancur. Dinding yang dulu kita bangun, tiba-tiba hancur. Berserakan. Rata dengan tanah. Tak bersisa sama sekali. Dulu aku selalu berharap, bahwa dinding itu bisa kita bangun kembali. Tapi usaha ku seperti sia-sia. Hancur tak bersisa.
Menurut mereka yang melihat ku; aku seperti mayat hidup.
Kamu hilang. Tiba-tiba cahaya ku redup. Redup seketika. Hingga akhirnya mati sama sekali.
Dan aku benar-benar kehilangan mu.
Lagi-lagi hati ku hancur, hancur berkeping-keping. Menjadi serpihan kecil yang tak bisa disatukan lagi.
Setelah kejadian itu, aku benar-benar harus belajar hidup tanpa diri mu. Sulit memang. Tapi aku tahu, aku tidak boleh terpuruk sejauh itu.
Ku sibukkan diri ku. Bekerja tanpa kenal waktu.
Kamu tahu? Ini bukan seperti diriku.
Aku menangis ketika malam mulai beranjak naik. Aku benci malam. Malam selalu mengingatkan pada mu. Ketika harus mengingat mu, artinya ada luka yang belum benar-benar sembuh. Ada luka yang mugkin tak ada obatnya.
Kamu tahu, mungkin Tuhan jengah ketika namamu selalu muncul ketika percakapan ku dengan-Nya dimulai.
Tuhan, Kau tahu doa ku selalu sama. Tak bisakah Kau berbaik hati ku sekali lagi?
Kehilangan Ayah untuk ku sudah sangat sakit. Apakah aku harus merasakan kehilangan untuk kedua kalinya? Tak bisa aku memiliki salah satunya?
Selalin kedua orang tua ku. Kamu pernah menjadi salah satu hadiah dari Tuhan yang sangat aku syukur.
Dengan semua perih ini, aku tahu akan ada hal indah yang sedang disiapkan Tuhan.
Tapi, kamu tahu, aku berterimakasih untuk perasaan kehilangan ini. Aku belajar untuk bertahan, belajar untuk berdiri sendiri, belajar untuk dapat berjalan tanpa menengok ke belakang.
Hingga akhirnya aku kuat seperti sekarang. Kuat diatas kaki dan perasaan ku sendiri. Tanpa kamu disisi ku. Tanpa cinta yang dulu mati-matian aku pertahankan. Tanpa kamu. Terimakasih sudah pernah membuang waktu untuk menuruti ego ku. Terimakasih pernah merelakan sakit kepala dengan moody ku yang tak karuan. Aku ikut berbahagian untuk kamu yang saat ini sudah memiliki dia yang benar-benar bisa mengerti kamu. Aku ikut berbahagia untuk hari mu kemarin. :)
Semoga kalian berdua selalu dalam intensitas kebahagian tanpa putus. Memiliki sebuah keluarga kecil yang bahagia.
Happy Wedding, kamu!! :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar