Minggu, 21 Agustus 2016

Jarak (dengan tanda kutip)

dua puluh satu agustus dua ribu enam belas,
jam sebelas lewat dua puluh lima menit.

Mungkin ini rasanya menjadi "anak rantau", jauh dari rumah dan harus berjuang.

Malam merangkak naik. Purnama mengintip malu dibalik awan. 15 purnama sudah terlewat. Ya rasanya seperti baru kemarin bukan, kita saling mengenal tanpa ada maksud untuk lebih dekat dari sekedar rekan kerja?

Dengan sangat terpaksa, akhir pekan ini tak bisa kita habiskan bersama. Aku yang harus mengurus beberapa keperluan di luar kota dan kamu yang masih dalam proses pemulihan dari - yang dokter sebut sebagai - terkena bakteri. 1 minggu yang cukup panjang bukan?
 
Ya, malam ini aku akan berceloteh tentang jarak. karena kebetulan kita sedang ada dalam sebuah jarak.

aku sungguh benci jarak. Apa yang menyenangkan dari sebuah jarak? Untuk ku tak ada, jarak hanya membuat ku frustasi.Jarak hanya membuat seseorang tidak bisa berdekatan. Jarak membuat ku tak bisa menatap wajah. Jarak membuat ku tak bisa menyentuh. Jarak membuat ku harus berpikir dua kali lebih sering dari yang seharusnya. Membuat ku jauh lebih sulit untuk memahami.

Berjarak membuat sebuah hubungan tak menjadi sehat. Untuk ku omong kosong, jika hubungan akan baik-baik saja jika itu berjarak.

Apa bagusnya sebuah jarak, tidakkah itu menyakitkan ketika rindu menggebu tapi kau tak ada disini? Kalau sejauh ini kita semua masih bertahan, entah apa yang kita pertahankan. Karena saat ini semua lebih terlihat seperti bayang-bayang. Ku lakukan semua seakan baik-baik saja, begitu aku meyakinkan mu - mungkin lebih tepatnya aku. Seakan aku tidak sedang terluka, seakan-akan tak ada air mata. Aku meyakinkan bahwa tak ada yang salah di antara kita.

Aku lelah,

Bisakah kita pulang(?)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar