Kamu tahu betul aku membenci gelap, pun dengan malam
Rasanya semakin sulit untuk bertemu malam. Malam merenggut segalanya. Malam datang tanpa pernah permisi. Siklus alam yang tak pernah bisa disanggah.
Malam pantas untuk dibenci. Malam selalu merenggut indahnya hari, cerahnya cuaca, menyenangkannya udara pagi, dan tentu saja indahnya senja.
Nyatanya malam itu busuk, kejam dan seenaknya sendiri. Malam memisahkan matahari dan embun pagi.
Malam pun menghapus relief langit tanpa gundah dengan balutan awan putih. Malam itu kejam bukan?
Karena kau, aku membenci malam. Karena kau, aku tak menyukai malam. Siklus alam yang sebagian orang menantikannya. Siklus alam yang membuat manusia lainnya merasa tenang. Tapi tidak dengan ku. Kau tahu, (sekali lagi) karena kau aku membenci malam.
Malam selalu membuat ku lelah, membuat ingin segera beranjak untuk istirahat. Tapi dengan aku yang terlelap, kau selalu datang. Ya, selalu datang ketika aku terlelap, dan saat aku sudah lelah dan ingin terlelap kau selalu datang membawa mimipi buruk.
Dan kali seperti biasanya, malam selalu datang dan menjadi larut.
Mungkin memang malam tak pernah cocok untuk ku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar