Minggu, 13 November 2016

terima kasih, kamu!

Untuk ku, hari ini sebagai penikmat senja, ia masih datang dengan setiap rona merah dan jingganya yang indah. Pun dengan pagi masih setia datang tepat pada waktunya. Selepas hujan semalam, bau embun masih wangi. Mungkin yang berbeda, dingin agaknya terlalu mengigit membuat gigil ditubuh ku. Mungkin memang sudah musimnya, pagi mulai menjadi terlalu dingin - pikir ku. Atau memang aku yang terlalu meromantisir sebuah kejadian.

Ya, beberapa hari sejak kamu memilih untuk pergi dari ku, aku membiarkan diri ku patah hati. Menangis hingga aku merasa air mata ku tak ada. Membiarkan pikiran ku menyusuri setiap jejak memori yang pernah kita buat. Menikmati semua warnanya yang kemudian kelamaan menjadi kelabu, hingga ku pikir itu menjadi 1 warna - abu-abu. Rasanya seakan dunia ku runtuh. Ya, aku memang cengeng dan kamu tahu benar tentang itu. Menangisi mu, kalau aku pikir lagi yang mungkin sebenarnya tak perlu. Ya, tapi aku yakin kamu tahu rasanya saat pegangan mu menghilang, tapi disaat yang sama perjalanan mu sedang goyah.


-


Dan pada akhirnya, aku tahu, diri ku masih harus bangkit. Masih banyak keperluan yang harus aku kerjakan, ketimbang menangisi kamu. Masih ada kartu kredit yang harus ku bayar tagihannya. Hahaha. Tawa ku terasa aneh, kamu tahu.

Rutinitas ku kembali normal, sama persis seperti saat kamu masih disini. Semua masih sama. Hanya saja, tak ada lagi sapa selamat pagi dari kamu, untuk ku memulai sebuah hari. Tak ada lagi tatapan hangat mu ketika tak sengaja saling tatap. Tak ada lagi tawa renyah kita, saat bercerita dimakan malam kita sepulang mengais rupiah. Dan ya, tak ada lagi peluk hangat selepas hari yang cukup panjang dilalui, dan tak ada lagisenyum yang selalu ku lihat setiap malam saat kamu mengatarkan ku pulang. Ada yang hilang memang, harus ku akui itu.


.

.


Dan, kamu. Sungguh aku mengumbar aksara saat ini bukan karena aku merindukan mu atau mengharapkan kamu kembali dalam peluk ku. Percayalah, aku sudah menerima ini semua. Sesuai keinginan mu. Berdiri diatas kaki ku sendiri, tanpa beban, tanpa terpaksa. Mungkin memang waktu yang menyembuhkan ku. Rindu ku seakan sudah pergi tanpa jejak. Harapan-harapan yang dulu pernah membuncah juga sudah terbang entah kemana. Rasa yang pernah meluber juga sudah menguap dan menghilang begitu saja. Mata ku sudah terbiasa melihat tanpa mu. Telinga ku sudah lebih nyaman tanpa ucap mu. Hidungku sudah tak lagi mencari aroma tubuh mu. Bibir ku sudah tak tertarik lagi menyebut namamu. Kulitku menjadi lebih halus tanpa sentuhan tanganmu. Kamu tahu apa artinya? Ya, mungkin aku sudah bisa berpijak sendiri diatas bumi ku.

Dengan kenyaman yang aku dapatkan sekarang (dg tidak kehadiran mu), maka aku berterima kasih untuk kamu. Terima kasih karena sudah pernah sedekat urat nadi dan kulit. Terimakasih karena atas setiap jengkal hari yang sudah berlalu. Terima kasih untuk tawa yang selalu kamu hadirkan pada setiap kebersamaan kita. Terima kasih untuk pelukan hangat yang selalu kamu berikan setiap aku merasa dunia terlalu berat untuk aku hadapi.


...

..

Terima kasih karena sudah pernah menawarkan masa depan padaku.


-

Sungguh tak ada sedikitpun menyesal di hati ku pernah bertemu dan punya cerita hidup denganmu. Mengenalmu, mejalani sebagian hari-hari ku dengan mu. Belajar dari mu bagaimana kita harus memandang hidup dengan berbagai sudut pandang. Belajar menerima konsekuensi dari setipa perbuatan kita. Ya, banyak hal yang bisa aku pelajari dari hubungan kita.

.
..
...
Terimakasih kamu :)

Mungkin saat ini hidup mu jauh lebih bahagia tanpa aku, karena tidak ada lagi suara cempreng nan bawel yang selalu mengingatkan mu tentang ini itu.

..

Hidupku sekarang tentu lebih bahagia karena tak ada lagi laki-laki yang menawarkan kebahagiaan semu untukku. Kamu sudah pernah memilih bahagiamu bersama ku, dan aku pun menerimanya. Dan sekarang kamu sudah memilih bahagia mu sendiri dengan mundur dari penawaran menjalani masa depan dengan ku. Aku harap, berharap sekali, kamu tak salah jalan memilih bahagiamu untuk mundur dari cerita kita.



Kepergianmu di hidupku juga sudah membuat aku belajar banyak hal, terutama tentang tanggungjawab, komitmen dan sebuah konsistensi. Terima kasih sudah mengajarkanku tertawa saat menangis. Terima kasih sudah membuatku merasa dihargai sebagai wanita. Terima kasih sudah menjagaku dengan penuh rasa sabar. Terima kasih sudah selalu ada setiap aku membutuhkanmu.


..

..

Berbahagialah. Semoga memang dia satu-satunya yang kamu cari, hingga kamu bersedia untuk menyakiti hati dan menginjak-injak harga diri seorang gadis. Terima kasih sudah memilihkan jalan ini untuk ku. Terima kasih sudah memberikan kesempatan untuk aku bisa mendapatkan cinta yang lebih besar dari cintamu di masa depan ku nanti.


Terimakasih sudah memberikan pengalaman berharga ini, yang nantinya bisa aku ceritakan pada anak laki-lakiku nanti tentang bagaimana seharusnya seorang laki-laki bersikap.

Terimakasih untuk kamu, karena kepergian mu, itu artinya kamu memberikan aku kesempatan mendapatkan seorang yang bisa menerima ku dengan semua kondisi ku dan tidak pernah berpikir tentang sebuah tuntutan, menuntut dan dituntut.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar