Sabtu, 28 Januari 2017

There something are missing..

Tak ada lagi kamu yang memenuhi kotak inbox handphone-ku. Tak ada lagi sapamu sebelum tidur yang membuncah riuh di telinga ku. Tak ada lagi genggaman tanganmu yang menguatkan setiap langkah ku. Tak ada lagi peluk hangatmu yang meredam segala kecemasan. Tanpamu.. semua berbeda dan tak sama lagi.

Aku membuka mata dan berharap hari-hari ku berjalan seperti biasanya, walau tanpamu. Walau tak ada lagi kamu yaang memenuhi hari-hari ku. Sering kali aku terbiasa melirik layar handphone, namun tak ada lagi ucapan selamat pagi darimu dengan beberapa emote kiss yang memasok energi ku. Pagi yang berbeda. Ada sesuatu yang hilang.

Hasil gambar untuk hold my hand

Lalu, aku menjalani semua aktifitas ku, seperti biasa, kamu tenu tahu itu. Dulu, kamu memang selalu mengerti kegiatan dan rutinitas ku. Namun, sekarang tak ada lagi kamu yang berperan aktif dalam siang dan malam ku. Tak ada lagi pesn singkat yang mengingatkan untuk menjaga pola makan ataupun menjaga kesehatan. Bukan masalah besar memang, aku mandiri dan sangat tahu hal-hal yang seharusnya aku lakukan. Tapi..kamu tentu tahu, tak mudah mengikhlaskan perpisahan.

Rasa ini begitu absurd dan sulit dideskripsikan. Kamu membawa jiwa ku melayang ke negeri antah-berantah dan mengasingkan aku ke dunia yang bahkan aku tak kuketahui. Aku bercermin, memerhatikan setiap lekuk wajah dan tubuh yang terpantul disana. Aku tak mengenal sosok itu. Tak ada lagi sosokku  dalam cermin yang ku perhatikan sejak tadi. Aku berbeda dan lagi lagi aku kenali sosok itu. Seseorang yang aku kenal didalam tubuh ini, kini menghilan secara magis setelah kepergianmu. Kamu merampas habis cinta yang aku miliki, melarikannya ke suatu tempat yang sulit kujangkau. Entah dimana aku bisa menemukan diriku yang telah hilan itu. Entah bagaimana caranya mengembalikan sosok yang ku kenal ke dalam tubuhku. Entah baagaimana aku bisa mengembalilkan sosok yang telah menghilang secara magis

Ingin rasanya aku melempari segala macam bend agar bisa memecahkan cermin itu. Agar aku tak bisa melihat diriku lagi dicermin itu. Agar aku tak bisa melihat lagi diriku yang sudah tak ku kenal lagi. Agar aku tak lagi menyadari perubaha yang begitu besar teradi setelah kehilanganmu. Aku bisa berhenti mempercayai cinta jika terlalu sering tenggalam dalam rasa frustasiseperti ini. Aku mungkin akan berhenti mempercayai lawan jenis dan segala janji-janji tololnya. Siksaan mu terlalu besar untukku, aku terlalu lemah untuk merasakan semua rasa sakit yang telah kau sebabkan.

Bagaimana mungkin aku bisa menemukan seseorang yang lebih sempurna jika aku pernah memiliki yang paling sempurna?

Aku benci pada perpisahan, Entah mengapa dalam peristiwa  itu harus ada yang terluka., sementara yang lainnya bisa saja bahagia ataupun tertawa..Kamu tertawa dan aku terluka Kita seperti saling menyakiti, anpa ahu apa yang patut dibenci. Kita seperti saling saling memendam dendam, tanpa tahu apa yang harus dipermasalahkan.

Aku menangis sejadi-jadinya, sedalam-dalamnya atas dasar cinta. Naif mungkin. Tapi aku bisa apa. Kamu tertawa-tawa sekeras-kerasnya, sekencang-kencangnya, atas dasar..entah harus kusebut apa. Aku tak pernah mengerti jalan pikiranmu yang terlampau rumit. Aku merasa sagat kehilangan, sementara kamu dalam hitungan jam telah menemuka yang baru. Bagaimana mungkin aku harus menyebut ini semua adalah wujud dari sebuah kesetiaan? Bagitu sulitnya untuk ku untuk menerima ikhlas. Inikah caramu menyakiti seseorang yang sebenarnya tak pantas untuk kau sakiti.

Jam berganti hari, dan semua berputar..tetap berotasi. Aku jalani hidupku, tentu saja tanpa kamu, Kamu lanjutkan hidupmu, tentu saja dengannya. Aku tak menyangka begitu mudahnya kamu temukan pengganti ku. Begitu gampangnya kamu melupakan semua hal yang telah terjadi. Aku hanya ingin tahu isi otakmu saja apa kamu tak pernah berpikir tentang mendung yang semakin hitam di hatiku.

Tak banyak hal yang bisa kulakukan, selain berproses tentang ikhlas. Tak ada lagi hal yang mampu ku perjuangkan, selain membiarkan mu peri dan tak berharap kamu menoreh luka lagi. Aku hanya berusaha menikmati luka, hingga aku terbiasa dan akan menggapnya tak ada . Kepergiaanmu, merupakan kehilangan yang begitu menyakitkan, dan telah menjadi candu yang kunikmati sakitnya.

Aku mulai suka air mata sejak lebih dari seratus senja yang lalu, yang sering kali jatuh untuk mu. Aku mulai menikmati saat-saat napasku sesak ketika mengingatmu. Aku mulai jatuh cinta pada rasa sakit yang kau ciptakan selama ini.

Terima kasih, Mas..

Dengan luka seperti ini. Dengan rasa sakit sedalam ini, aku jadi tambah sering menulis.

Aku semakin percaya, bahwa Kahlil Gibran butuh rasa sakit agar ia bisa menulis. Lebih banyak dari biasanya.

Sama seperti ku, bahwa butuh rasa sakit agar bisa lancar menulis..terutama yang bercerita tentangmu.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar