Selamat senja..apa kamu masih mengingat ritual ku saat senja tiba?
Ya, benar. Ritual aku suka naik ke lantai paling atas gedung kantor ku untuk menikmati senja dan jingga yang menawan. Sayangnya hari ini senja lebih mengalah untuk tidak nampak, memilih untuk bersembunyi dibalik mendung. Ah, mungkin kamu saat ini sudah membuang jauh dan menganggap untuk menikmati senja dengan dirinya yang telah bersama mu, yang mungkin saja kamu lebih bahagia selepas meninggalkanku.
Lebih dari 100 senja setelah kepergianmu, tak sama lagi. Kini aku menikmati sendirian. Tanpa kamu, tanpa kita, tanpa harpan, pun tanpa mimpi-mimpi yang dulu pernih kita ceritakan pada senja. Ya, sendirian. Tapi sekarng aku masih saja merasakan aroma mu. Aku menganggap kamu ada disampingku, menikmati senja berdua, lalu bercerita kembali tentang harapan dan mimpi yang ingin kita wujudkan. Tapi, itu hanya perasaan ku saja. Nyatanya, hanya hembusan angin menyentuh lembut kulitku ketika bendung air mata tak bisa ku tahan.
Lebih dari 100 senja setelah kepergianmu..Mungkin senja sedang menertawan ku dibalik mendung itu, melihat ku duduk sendirian tanpa kamu dibangku roof top kantor. Aku belum bisa menggantikan dirimu, sedangkan kamu? Begitu cepat menggantikan posisi ku dihati mu dengan dia. Bahagiakah kamu dengannya? Ah, tentu saja, aku melihatmu menikmati senja berdua dengannya, sedangan aku? Hanya sendirian. Lagi dan lagi sendiri. Ah, aku kesal.
Lebih dari 100 senja setelah kepergian mu, senja selalu menertawakan ku melihat aku resah duduk disudut bangku kedai kopi yang biasany kita datangi, sembari melepas lelah usai mengais rupiah, saat bersm mu dulu. Kini, hanyalah kenangan yang merusak sistem kerja otak kiri ku yan berhasil masuk. Aku pun tertawa, melihat diriku yang seolah tak bisa mengikhlaskan dirimu saat bersamanya. Bodohkah aku yang masih mengharapkanmu? Atau terlalu lemakah aku yang belum rela melihat kamu telah bahagia dengannya?
Lebih dari 100 senja setelah kepergianmu, lagi, lagi, lagi, lagi, dan lagi aku harus menguatkan hati. Lagi dan lagi, kini aku harus menguatkan mata agar ia tak cept mengeluarkan buliran air saat ia melihat dirimu yang bahagia tanpa aku. Lagi dan lagi aku harus menguatkan kaki, agat ia tak terjatuh saat berlari meninggalkan senja serta meninggalkan dirimu saat bersamanya.
Lebih dari 100 senja setelah kepergianmu, aku harap senja berikutnya aku mampu melupakanmu, tidak mengingat kembali bahwa kita pernah bersama saat menikmati senja. Semoga senja ku lebih berwarna lagi, meskipun tanpa kamu dan walaupun kenangan masih menari-nari diingatanku...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar