Menulis adalah cara gue buat tetap waras ditengah rutinitas "perkuliahan hidup" yang kerjaannya yang numpuk.
Akhir bulan ini adalah keputusan "hijrah" yang cukup sulit. Yaps, ini adalah salah satu keputusan sulit selama 23 Tahun terakhir ini setelah memutuskan cabut gigi graham atau gak pertengahan tahun lalu. Hahaha. Ini keputusan dimana passion yang jadi ujung tobak hidup gue harus gue lepas. Yaps, ngajar.
Pekerjaan dimana gue bisa stress sambil ketawa, dimana kertas setumpuk gunung rinjani hanya terlihat lebaran kertas tanpa massa yang berat, dimana Silabus jadi mamahan kayak buble gum buat gue. Atau harus faced mahasiswa yang amit-amit level ketok-ketok pinggir meja, tapi ya mau gimana? gue cinta mati sama salah satu pekerjaan yang katanya mulia tanpa pamrih; NGAJAR. Banyak orang berpikir bahwa mengajar adalah salah satu kegiatan/pekerjaan yang dimana kita sebagai guru/fasilitator/dosen/pembina/dll dituntut harus pinter, cerdas, sakti mandraguna dalam hal ilmu pengetahuan, tapi in case, itu adalah pemahaman yang salah. Kata siapa kalau mengajar adalah pekerjaan yang mengerikan? Kata siapa kalau mengajar itu sulit? Di agama yang gue anut, salah satu pahala terus mengalir adalah ilmu yang bermanfaat. Koreksi kalau gue salah, pemahman gue adalah salah satu ilmu yang bermanfaat itu ya dengan menyalurkan ilmu yang kita punya. Salah satu caranya ya ngajar.
Gue selalu berprinsip yang ngajar bukanlah seorang yang jenius dibanding dengan orang lain. Bedanya adalah kita lebih tahu duluan ketimbang mereka yang baru belajar suatu hal. Ya..memang..Kita cuma tahu lebih dulu ketimbang mereka. Sisanya sedikit banyak kita juga bisa belajar dari mereka. Kita banyak ambil pelajaran hidup yang dari mereka.
Kayaknya terlalu banyak basa-basi gue soal ngajar.
Yaps, kenapa diawal gue bilang HIJRAH? Sekarang cara gue untuk cari pundi-pundi melunasi CC adalah sebagai pegawai back office. Sesuai permintaan Ibuk yang selalu beliau panjatkan setiap dua-per-tiga-malam beliau.
Hijrah pekerjaan ini adalah salah satu dari banyak mimipi buruk yang gue takutkan. Mimpi buruk yang sebenernya gue hindarin. Tapi biar gimana pun restu orang tua pula yang gue pegang.