Minggu, 17 Mei 2015

Siapa yang bisa merencanakan?

Beberapa hari yang lalu, gk sengaja liat posting di salah satu media sosial salah seorang teman, dia mengunggah sebuah foto. Isinya foto dan tulisan - seperti yang banyak beredar akhir-akhir ini. Detail isinya adalah foto seorang budayawan Indonesia yang wajahnya sering seliweran di acara TV swasta Indonesia; Sudjiwo Tedjo, detailnya:

"Kamu bisa rencanakan menikah dengan siapa, tapi kau tak bisa rencanakan cintamu untuk siapa. Menikah itu nasib, mencintai itu takdir"

Ya, aku setuju dengan salah satu clipart ini. Kita bisa merencanakan menikah dengan siapa bahkan, jauh sebelum usia mu cukup untuk menikah, kau bisa merencanakan kau ingin menikah dengan siapa. Pernikahan adalah sebuah rencana. Semua dari kita tahu, bahwa rencana selalu berhimpit dengan sebuah perubahan. Bahkan ditengah rencana yang sudah matang, pernikahan dapat dibatalkan. Kita bisa merencanakan dengan siapa kita akan menikah. Kapan. Dimana. Bagaimana berjalanannya sebuah acara. Sungguh pernikahan adalah sebuah rencana.

Tapi untuk jatuh cinta?
Siapa yang dapat merencanakan jatuh cinta??
Orang tua kita? Saudara? Sahabat? Tidak seorang pun di dunia ini dapat merencanakan untuk jatuh cinta. Hanya Dia Sang Maha Perencana yang dapat menentukan siapa akan jatuh cinta kepada siapa?
Siapa yang dapat merencanakan siapa akan jatuh cinta dengan siapa?
Siapa yang dapat merencanakan siapa akan jatuh cinta dimana?
Siapa yang dapat merencanakan seseorang dapat jatuh cinta di sebuah tempat. Siapa yang dapat merencakan cara untk jatuh cinta? Proses ini benar-benar unpredictable. Siapa sangka kau akan jatuh cinta dengan cara apa.

Cinta bukan hal yang dapat dipaksakan. Cinta bukan hal yang dapat direncanakan. Cinta bisa saja datang dari proses yang sungguh tidak pernah dibayangkan oleh nalar manusia. Siapa yang sangka kalau sebuah proses jatuh cinta bisa membuat orang melakukan hal-hal yang dianggapnya benar, walau dimata orang lain itu konyol. Ya, mungkin tulisan ini agak sentimentil, tapi tak pernah terelak, bahwa proses ini bisa membuat seseorang menjadi sangat kekanak-kanakan.

Jumat, 08 Mei 2015

Selamat Sore Senja

Selamat sore senja.

Apa kabar mu hari ini?
Tidak kah kau mau datang seperti hari kemarin? Dengan jingga yang selalu bersanding cantik dan manis ketika kau datang. Selalu hangat dan manis. Selalu mempunyai cerita sendiri disetiap warna mu.

Senja, apa kabar mu hari ini?
Tidakkah kau ingin datang walau hanya sekedar menuang warna pada arakan awan hari ini? Tidak kah kau ingin datang seperti hari kemarin? Menjadi teman ketika aksara ku mulai berserakan menunggu untuk dirajut.

Senja,
Masih ingatkah kau tentang seorang Tuan yang pernah ku ceritakan tempo hari itu? Seorang Tuan yang aku kagumi dihari pertama aku mulai memasuki wilayah itu? Kau tahu? Tuan tersebut masih dalam keadaan baik ternyata. Pahatan indah Tuhan masih melekat erat di tubuhnya. Seorang Tuan yang selalu punya ceritanya sendiri. Seorang Tuan yang selalu punya senyum "rasa coklat" untuk ku. Berlebihan mungkin, ya aku tahu.

Senja,
Kau pergi terlalu cepat hari ini, aku tak sempat bercerita banyak dengan mu hari ini. Tadinya akan ku kenalkan dia melalu aksara hari ini, tapi saat aksara ku mulai menghambur datang, kau pergi.

Datanglah esok hari dan jangan pergi terlalu cepat, maka akan ceritakan tentang Tuan kesayangan ku itu dengan bait-bait kata berjuta makna.

Rabu, 06 Mei 2015

I Wont Tell A Soul

Oh, darling I know you're taken, one of us tries to leave here, oh the other one holds on tight..
Baby tonight, there's so much love in between us..
So tell me if you're ready, cause if no one knows then it ain't really cheating..
Stay here with me.. (Charlie Puth)

Matahari mulai meninggi, dan detik jam menunjang waktu bahwa hari mulai siang dan ingatan itu tiba-tiba muncul.

Ketika wajah saling berpapas. Hanya sapa malu yang terucap sebagai percakapan basa-basi membosankan, sebagai tanda mengawali tanda sebuah perkenalan.

Ketika mata bertatap tak sengaja, hanya anggukan kecil dengan simpul senyum kecil nan manis sebagai tanda penghormatan.

Ketika sapa saling bersaut, sebuah obrolan terjadi untuk pertama kalinya. Obrolan ringan tiba-tiba mengalir begitu saja. Menyenangkan rasanya.

Ketika sapa menjadi sebuah ejekan canda, semakin menyenangkan saja melalui sebuah hari yang melelahkan.

Ketika canda menjadi salah satu alasan kenapa ingin cepat berganti hari. Menjadi alasan mengapa selalu berharap pada sebuah muara temu. Masih dalam tahap hanya ingin cepat melewati hari yang panjang dan melelahkan.

Menjadi mudah ketika semua berlalu begitu saja, seperti tak ada yang akan terjadi.

Ketika kulit tanpa sengaja saling sentuh, akrab pun terjalin. Ada rasa yang aneh yang mula menjalar ke seluruh jaringan saraf tubuh.

Hari berlalu bagitu saja, tak terasa. Hari berlalu menjadi sebuah minggu yang menakjubkan dan mulai berganti bulan yang menyenangkan. Semua berjalan seperti biasa.

Dan tiba-tiba..
Ada rindu yang terselip ketika tak ada  wajah yang tak sengaja saling berpapas.
Ada rindu yang tertahan saat mata tak saling bertatap tanpa sengaja.
Ada rindu yang tak terucap ketika tak ada yang sapa saling bersaut yang kemudian menjadi sebuah percakapan ringan dengan canda yang selalu terselip.

Rindu yang mengaharap temu. Rindu yang mengagungkan kebersamaan. Rindu yang mendambakan sebuah genggaman tangan. Rindu yang mengkhayalkan sebuah pelukan hangat dengan kecupan kecil kening.

Ya, Tuan kau tiba-tiba datang dikehidupan ku, membuat semua menjadi seperti pelangi. Membuat semuanya mejadi hangat, manis, dan menyenangkan seperti secangkir coklat panas favorit ku.

Tuan, kebersamaan dengan mu, kuanggap adalah hadiah dari Tuhan karena sikap baik ku selama ini. Kebersamaan dengan mu lama-lama menjadi morfin tersendiri untuk ku, karena ada sakit yang begitu dalam ketika sebuah hari yang panjang tak bermuara temu dengan mu.

Rindu dengan mu menjadi rasa sakit yang tak mungkin manusia lain menjual obatnya..

Regards,

Perempuan yang sedang mendengarkan
I Wont Tell A Soul

Selasa, 14 April 2015

RINDU

Tentunya tidak seperti awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. Ia berwujud bahkan dalam ketiadaan. Berada kendati di ruang hampa. Juga tak setabah hujan bulan Juni.  Dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu. Ia menggelegak meski api tungku mati.

Tak serumit sifat koligatif.  Uap-uap molekul air yang berkurang setelah ditambah glukosa atau apalah terserah. Dan terjadilah penurunan tekanan uap dalam keadaan setimbang. Reaksi dua panah dua arah. Sedang untuk ini, bahkan cupid tak tahu rimba. Haruskah kutegaskan mencintaimu harus menjadi aku.

Hai rindu yang bermain-main di genangan telaga darahku. Tergerakkah sekali-kali kau mengalir ke syaraf otakku. Karena indahmu, aku menangis sepuas-puasnya. Kusudahi saja. Rindu itu seperti ini. Melegakan hidupku yang membosankan.

Minggu, 12 April 2015

Sekilas Tentang Senja


Maka hari ini, bagaimana kau mengingat Senja? Dengan semburat merah bercampur jingga? Dengan simpul senyum manis tanpa rasa sesal? Bagaimana kau mengingat senjamu sore ini? Dengan segelas teh hangat bercampur krimer? Atau dengan kopi hitam favorit mu? Atau kau bahkan lupa dengan senja? Peristiwa alam yang kau anggap sambil lalu, yang biasa kau lewatkan dengan perasaan biasa saja, yang kau anggap hanya peristiwa yang di cipta oleh Maha Pelukis hanya sebagai proses pergantian cuaca yang ketika sang gelap mulai menggelayut tinggi.

Senja sekejap namun bermakna. Seperti mu. Senja dan kau sama-sama hanya sekejap. Sekejap lalu hilang. Sekejap lalu datang, kemudian pergi, lalu datang lagi, lalu pergi, dan semua proses itu terus berulang.

Mengapa jingga selalu menawan saat terhampar di langit senja? Ahh mungkin aku terlalu memuja senja, dan saat ini dengan jingga. Mungkin karena senja selalu mengingatkan ku pada mu; sesaat, hangat, indah, dan bermakna.

Aku tak setiap waktu menanti semburat jingga pada senja, sama seperti jingga yang selalu tak selalu hadir saat senja. Layaknya aku yang tak setiap saat ada dan mencari keberadaaan mu.

Lagi-lagi kau, padahal aku hanya mengingat senja. Bukan kau.

apa aku menyukai senja karena senja mengingatkan aku tentangmu?
atau aku hanya akan mengagumi senja karena aku hanya bisa mengagumimu?
Ahh tentu saja tidak, senja selalu ada di peringkat teratas lalu berikutnya masih senja, masih senja, lalu senja.
hari ini aku menanti senja, tak seindah yang pernah aku lihat ketika mengingatmu, apa karena aku tak menikmatinya bersamamu?

kadang yang berdetik bukan berarti berdetak kan?

Jika suatu saat kau memandangi senja yang indah, dengan seseorang yang bukan aku.
ingatlah, senja tak akan pernah mengecewakanmu dalam membantu mengenang apa yang mungkin akan terlupa. Mungkin suatu saat kau akan mengenang aku saat kau terpesona oleh senja yang menawan.
Cukuplah dengan kau mengenang dan mengingat aku pernah mengagumi mu, seperti aku mengagumi senja. 

Senin, 06 April 2015

terkagum-kagum

Asa yang tak pernah hilang, datang dan pergi sesuka hatinya, yang mendatangkan kagum, yang mendatangkan rindu, yang mendatangkan kekaguman adalah dari Nya. 

Sungguh hanya bisa menerimanya dengan keindahan kagum yang terukir di hati, dengan meraih puing puing rindu, dengan jiwa yang tak tersentuh. Mengagumimu dalam diam..Ibarat pungguk merindukan rembulan. Karena kagum tidak harus saling memiliki, kagum tidak harus terikat, karena kagum yang yang sebenarnya adalah kagum yang bermekaran di hati, di manapun dan kapanpun selalu bersemi di taman hati. Mengagumimu dalam diam..Maka izinkan untuk tidak mengusik ketenangan hatimu, hanya dalam untaian doa doaku ku sebut namamu dan kusapa dirimu. 

Cukup buat aku tersenyum melihat kamu bahagia. 

Mengagumimu dalam diam..Meski membuat lelah, lelah karena menunggu yang tak mungkin ada, hanya bayangan semu semata. Dan aku akan mengagumimu dalam diam.. Selama tak ada yang mengahapus kagum dalam diamku,aku kan bertahan dan jika aku tak kagum lagi padamu,maka aku tak kan pernah lagi menulis tentangmu.

Mengagumimu dalam diam, aku bahagia..
Menyayangimu dalam diam, aku senang..
Mengagumimu dalam diam, aku tersenyum..
Bersyukur masih di beri rasa itu meski dalam diam..

Dari,
Perempuan yang sedang terkagum-kagum

Sabtu, 04 April 2015

1 kesalahan akan merusak 1000 kebaikkan

Kalian pernah denger tentang ungkapan soal "1 kesalahan akan merusak 1000 kebaikkan"

Ya..sungguh "adil" bukan kehidupan ini? Hanya karena lo semua bikin 1 kesalahan kecil yang bahkan gak merusak masa depan atau keberlangsungan hidup seseorang, atau bahkan itu gak merubah sebuah rutinitas, kalian akan dapat balesan yang kalau di lihat gak sepadan dengan apa yang sudah kalian lakukan? Dengan satu kesalahan kecil yang kalian lakukan untuk satu hal, mereka akan "menghukum secara sosial" kalian dengan hal yang gak bakal di sangka-sangka.

Mungkin...kadar kesalahan orang memang gak sama, kecil untuk kita mungkin besar untuk mereka. Itu kenapa kata adil di postingan kali ini gue kasih tanda kutip. Mungkin akan jadi lebih baik kalau kita semua seisi dunia ini punya tingkatan kadar salah dan marah yang sama. Jadi mereka yang bikin kesalahan gak sakit secara psikis. Gak terluka dan begitu merasa bersalah pada kesalahan KECIL yang mereka perbuat.

Disini gue bukannya lebih bela orang-orang yang bikin kesalahan, tapi haloooo semua orang di muka bumi pernah membuat kesalahan kali. Kalian yang menghukum si empunya kesalahan, pasti juga pernah bikin kesalahan yang menurut kalian kecil bukan? Coba posisikan diri kalian ketika menghukum si empunya kesalahan di posisi mereka yang bikin kesalahan, pasti kalian berharap bukan, untuk," Please jgn hukum gue dengan hukum sosial, please jangan segitunya sama gue..." Pasti pernah begitu bukan.

Sudahlah kawan, kalian yang saat ini atau kemarin atau waktu lampau pernah menghukum seseorang dengan hukum sosial, cukup itu yang menjadi terakhir. Gue yakin kalian pernah di posisi itu kann? Ingat kembali ketika kalian ada di posisi itu. Gak enak bukan? Sakit bukan? Sedih bukan?

Ketika memang mereka yang membuat kesalahan, maafkanlah mereka saat itu juga. Posisikan diri kalian di posisi mereka. Pasti gak enak bukan kalau gak dimaafkan.

Jadilah hamba-Nya yang saling memaafkan. Jangan buat mereka merasa sakit secara psikis. Ketika seseorang sakit psikisnya itu akan sulit untuk sembuh. Akan membekas. Butuh waktu lama untuk sembuh total.

Salam,
Perempuan yang sedang di hukum secara sosial