Aku kira, aku sudah berhasil melupakan segala macam tentangmu. Ku pikir aku siap membuka hatiku untuk orang lain. Aku yakin bahwa aku siap membuka mata dan hatiku pada orang baru yang mampu membahagiakan aku. Usaha ku begitu keras untuk mematikan perasaan ini. Segalanya memang tak mudah karena perjuangan yang ku lakukan terus berlanjut. Bukan hal mudah mematikan perasaan seseorang yang bisa kita temui setiap hari. Kamu sudah jadi bagian dari hari-hari ku, hampir setiap ari aku melihat mu. Perubahan yang begitu berbeda membuat ku sulit menerima bahwa kita tak lagi sama...Aku melihatmu setiap hari dan untuk menganggap kita tak pernah punya perasaan spesial bukan hal yang mudah untuk ku.
Apa saja yang kita lakukan selama rentetan bulan kebersamaan kita. Mungkinkah dulu hanya aku yang berjuang sendirian? Mungkin dulu hanya aku yang inginkan kejelasan?
Mungkin kamu bosan bila aku jelaskan apa yang selalu membuat ku jatuh cinta padamu. Kamu mungkin bosan ketika aku mulai memuji mu saat kebersamaan kita. Kamu begitu manis dalam beberapa peristiwa. Genggaman tangan mu begitu mantap tapi lembut, ketika aku berusaha menahan sakit saat infus menjadi jalan terakhir agar aku sembuh. Aku merindukannya.. :')
Aku
mencintaimu karena begitulah kamu. Kamu yang sulit kutebak tapi begitu
manis dalam beberapa peristiwa. Kamu yang menggemaskan dalam keadaan
yang bahkan sulit kujelaskan. Aku sangat mencintaimu dan sekarang pun
masih begitu. Sadarkah kamu?
Hari-hari kulewati dengan banyak pertanyaan. Apakah perasaanmu sedalam
yang kuharapkan? Aku sedikit menangkap isyarat itu. Kamu mengajakku
bicara dalam percakapan manis kita di pesan singkat. Kamu
menghangatkanku di tengah dinginnya malam dengan candaan kecilmu.
Bagaimana mungkin aku bisa begitu mudah melupakan hal-hal spesial yang
sempat kulewati bersamamu?
Kamu bisa dengan mudah melupakan segalanya. Kebersamaanmu dengannya
sudah cukup menjawab semuanya. Aku bukanlah sosok yang kauinginkan. Aku
bukan sosok yang kauharapkan. Menyakitkan bukan jika keberadaanku tak
pernah kauanggap meskipun aku selalu hadir dalam tatapanmu? Aku berusaha
semampuku untuk membahagiakanmu, namun nampaknya usahaku tak begitu
terlihat di matamu. Tak sadarkah kamu, Mas?
Dulu, kita yang banyak berbincang, kini jadi banyak diam. Setiap hari
aku berusaha menerima kenyataan dan perubahan itu. Setiap hari aku
mencoba meyakinkan diriku bahwa suatu saat pasti aku bisa melupakanmu.
Ketika melihatmu dengannya, ada luka yang tergores lagi. Kamu belum
benar-benar kumiliki, tapi mengapa aku bisa sakit begini?
Pertemuan kita tadi seperti semangat yang kembali menemukanku di sudut
yang dingin dan gelap. Aku tahu berlebihan.
Kamu tersenyum. Sederhana sekali. Ternyata, dari banyaknya pengabaian
dan rasa sakit yang kauberikan; aku masih bisa mencintaimu.
Kamis, 09 Februari 2017
Sabtu, 28 Januari 2017
There something are missing..
Tak ada lagi kamu yang memenuhi kotak inbox handphone-ku. Tak ada lagi sapamu sebelum tidur yang membuncah riuh di telinga ku. Tak ada lagi genggaman tanganmu yang menguatkan setiap langkah ku. Tak ada lagi peluk hangatmu yang meredam segala kecemasan. Tanpamu.. semua berbeda dan tak sama lagi.
Aku membuka mata dan berharap hari-hari ku berjalan seperti biasanya, walau tanpamu. Walau tak ada lagi kamu yaang memenuhi hari-hari ku. Sering kali aku terbiasa melirik layar handphone, namun tak ada lagi ucapan selamat pagi darimu dengan beberapa emote kiss yang memasok energi ku. Pagi yang berbeda. Ada sesuatu yang hilang.
Lalu, aku menjalani semua aktifitas ku, seperti biasa, kamu tenu tahu itu. Dulu, kamu memang selalu mengerti kegiatan dan rutinitas ku. Namun, sekarang tak ada lagi kamu yang berperan aktif dalam siang dan malam ku. Tak ada lagi pesn singkat yang mengingatkan untuk menjaga pola makan ataupun menjaga kesehatan. Bukan masalah besar memang, aku mandiri dan sangat tahu hal-hal yang seharusnya aku lakukan. Tapi..kamu tentu tahu, tak mudah mengikhlaskan perpisahan.
Rasa ini begitu absurd dan sulit dideskripsikan. Kamu membawa jiwa ku melayang ke negeri antah-berantah dan mengasingkan aku ke dunia yang bahkan aku tak kuketahui. Aku bercermin, memerhatikan setiap lekuk wajah dan tubuh yang terpantul disana. Aku tak mengenal sosok itu. Tak ada lagi sosokku dalam cermin yang ku perhatikan sejak tadi. Aku berbeda dan lagi lagi aku kenali sosok itu. Seseorang yang aku kenal didalam tubuh ini, kini menghilan secara magis setelah kepergianmu. Kamu merampas habis cinta yang aku miliki, melarikannya ke suatu tempat yang sulit kujangkau. Entah dimana aku bisa menemukan diriku yang telah hilan itu. Entah bagaimana caranya mengembalikan sosok yang ku kenal ke dalam tubuhku. Entah baagaimana aku bisa mengembalilkan sosok yang telah menghilang secara magis
Ingin rasanya aku melempari segala macam bend agar bisa memecahkan cermin itu. Agar aku tak bisa melihat diriku lagi dicermin itu. Agar aku tak bisa melihat lagi diriku yang sudah tak ku kenal lagi. Agar aku tak lagi menyadari perubaha yang begitu besar teradi setelah kehilanganmu. Aku bisa berhenti mempercayai cinta jika terlalu sering tenggalam dalam rasa frustasiseperti ini. Aku mungkin akan berhenti mempercayai lawan jenis dan segala janji-janji tololnya. Siksaan mu terlalu besar untukku, aku terlalu lemah untuk merasakan semua rasa sakit yang telah kau sebabkan.
Bagaimana mungkin aku bisa menemukan seseorang yang lebih sempurna jika aku pernah memiliki yang paling sempurna?
Aku benci pada perpisahan, Entah mengapa dalam peristiwa itu harus ada yang terluka., sementara yang lainnya bisa saja bahagia ataupun tertawa..Kamu tertawa dan aku terluka Kita seperti saling menyakiti, anpa ahu apa yang patut dibenci. Kita seperti saling saling memendam dendam, tanpa tahu apa yang harus dipermasalahkan.
Aku menangis sejadi-jadinya, sedalam-dalamnya atas dasar cinta. Naif mungkin. Tapi aku bisa apa. Kamu tertawa-tawa sekeras-kerasnya, sekencang-kencangnya, atas dasar..entah harus kusebut apa. Aku tak pernah mengerti jalan pikiranmu yang terlampau rumit. Aku merasa sagat kehilangan, sementara kamu dalam hitungan jam telah menemuka yang baru. Bagaimana mungkin aku harus menyebut ini semua adalah wujud dari sebuah kesetiaan? Bagitu sulitnya untuk ku untuk menerima ikhlas. Inikah caramu menyakiti seseorang yang sebenarnya tak pantas untuk kau sakiti.
Jam berganti hari, dan semua berputar..tetap berotasi. Aku jalani hidupku, tentu saja tanpa kamu, Kamu lanjutkan hidupmu, tentu saja dengannya. Aku tak menyangka begitu mudahnya kamu temukan pengganti ku. Begitu gampangnya kamu melupakan semua hal yang telah terjadi. Aku hanya ingin tahu isi otakmu saja apa kamu tak pernah berpikir tentang mendung yang semakin hitam di hatiku.
Tak banyak hal yang bisa kulakukan, selain berproses tentang ikhlas. Tak ada lagi hal yang mampu ku perjuangkan, selain membiarkan mu peri dan tak berharap kamu menoreh luka lagi. Aku hanya berusaha menikmati luka, hingga aku terbiasa dan akan menggapnya tak ada . Kepergiaanmu, merupakan kehilangan yang begitu menyakitkan, dan telah menjadi candu yang kunikmati sakitnya.
Aku mulai suka air mata sejak lebih dari seratus senja yang lalu, yang sering kali jatuh untuk mu. Aku mulai menikmati saat-saat napasku sesak ketika mengingatmu. Aku mulai jatuh cinta pada rasa sakit yang kau ciptakan selama ini.
Terima kasih, Mas..
Dengan luka seperti ini. Dengan rasa sakit sedalam ini, aku jadi tambah sering menulis.
Aku semakin percaya, bahwa Kahlil Gibran butuh rasa sakit agar ia bisa menulis. Lebih banyak dari biasanya.
Sama seperti ku, bahwa butuh rasa sakit agar bisa lancar menulis..terutama yang bercerita tentangmu.
Aku membuka mata dan berharap hari-hari ku berjalan seperti biasanya, walau tanpamu. Walau tak ada lagi kamu yaang memenuhi hari-hari ku. Sering kali aku terbiasa melirik layar handphone, namun tak ada lagi ucapan selamat pagi darimu dengan beberapa emote kiss yang memasok energi ku. Pagi yang berbeda. Ada sesuatu yang hilang.
Lalu, aku menjalani semua aktifitas ku, seperti biasa, kamu tenu tahu itu. Dulu, kamu memang selalu mengerti kegiatan dan rutinitas ku. Namun, sekarang tak ada lagi kamu yang berperan aktif dalam siang dan malam ku. Tak ada lagi pesn singkat yang mengingatkan untuk menjaga pola makan ataupun menjaga kesehatan. Bukan masalah besar memang, aku mandiri dan sangat tahu hal-hal yang seharusnya aku lakukan. Tapi..kamu tentu tahu, tak mudah mengikhlaskan perpisahan.
Rasa ini begitu absurd dan sulit dideskripsikan. Kamu membawa jiwa ku melayang ke negeri antah-berantah dan mengasingkan aku ke dunia yang bahkan aku tak kuketahui. Aku bercermin, memerhatikan setiap lekuk wajah dan tubuh yang terpantul disana. Aku tak mengenal sosok itu. Tak ada lagi sosokku dalam cermin yang ku perhatikan sejak tadi. Aku berbeda dan lagi lagi aku kenali sosok itu. Seseorang yang aku kenal didalam tubuh ini, kini menghilan secara magis setelah kepergianmu. Kamu merampas habis cinta yang aku miliki, melarikannya ke suatu tempat yang sulit kujangkau. Entah dimana aku bisa menemukan diriku yang telah hilan itu. Entah bagaimana caranya mengembalikan sosok yang ku kenal ke dalam tubuhku. Entah baagaimana aku bisa mengembalilkan sosok yang telah menghilang secara magis
Ingin rasanya aku melempari segala macam bend agar bisa memecahkan cermin itu. Agar aku tak bisa melihat diriku lagi dicermin itu. Agar aku tak bisa melihat lagi diriku yang sudah tak ku kenal lagi. Agar aku tak lagi menyadari perubaha yang begitu besar teradi setelah kehilanganmu. Aku bisa berhenti mempercayai cinta jika terlalu sering tenggalam dalam rasa frustasiseperti ini. Aku mungkin akan berhenti mempercayai lawan jenis dan segala janji-janji tololnya. Siksaan mu terlalu besar untukku, aku terlalu lemah untuk merasakan semua rasa sakit yang telah kau sebabkan.
Bagaimana mungkin aku bisa menemukan seseorang yang lebih sempurna jika aku pernah memiliki yang paling sempurna?
Aku benci pada perpisahan, Entah mengapa dalam peristiwa itu harus ada yang terluka., sementara yang lainnya bisa saja bahagia ataupun tertawa..Kamu tertawa dan aku terluka Kita seperti saling menyakiti, anpa ahu apa yang patut dibenci. Kita seperti saling saling memendam dendam, tanpa tahu apa yang harus dipermasalahkan.
Aku menangis sejadi-jadinya, sedalam-dalamnya atas dasar cinta. Naif mungkin. Tapi aku bisa apa. Kamu tertawa-tawa sekeras-kerasnya, sekencang-kencangnya, atas dasar..entah harus kusebut apa. Aku tak pernah mengerti jalan pikiranmu yang terlampau rumit. Aku merasa sagat kehilangan, sementara kamu dalam hitungan jam telah menemuka yang baru. Bagaimana mungkin aku harus menyebut ini semua adalah wujud dari sebuah kesetiaan? Bagitu sulitnya untuk ku untuk menerima ikhlas. Inikah caramu menyakiti seseorang yang sebenarnya tak pantas untuk kau sakiti.
Jam berganti hari, dan semua berputar..tetap berotasi. Aku jalani hidupku, tentu saja tanpa kamu, Kamu lanjutkan hidupmu, tentu saja dengannya. Aku tak menyangka begitu mudahnya kamu temukan pengganti ku. Begitu gampangnya kamu melupakan semua hal yang telah terjadi. Aku hanya ingin tahu isi otakmu saja apa kamu tak pernah berpikir tentang mendung yang semakin hitam di hatiku.
Tak banyak hal yang bisa kulakukan, selain berproses tentang ikhlas. Tak ada lagi hal yang mampu ku perjuangkan, selain membiarkan mu peri dan tak berharap kamu menoreh luka lagi. Aku hanya berusaha menikmati luka, hingga aku terbiasa dan akan menggapnya tak ada . Kepergiaanmu, merupakan kehilangan yang begitu menyakitkan, dan telah menjadi candu yang kunikmati sakitnya.
Aku mulai suka air mata sejak lebih dari seratus senja yang lalu, yang sering kali jatuh untuk mu. Aku mulai menikmati saat-saat napasku sesak ketika mengingatmu. Aku mulai jatuh cinta pada rasa sakit yang kau ciptakan selama ini.
Terima kasih, Mas..
Dengan luka seperti ini. Dengan rasa sakit sedalam ini, aku jadi tambah sering menulis.
Aku semakin percaya, bahwa Kahlil Gibran butuh rasa sakit agar ia bisa menulis. Lebih banyak dari biasanya.
Sama seperti ku, bahwa butuh rasa sakit agar bisa lancar menulis..terutama yang bercerita tentangmu.
Jumat, 27 Januari 2017
Lebih dari 100 Senja..
Selamat senja..apa kamu masih mengingat ritual ku saat senja tiba?
Ya, benar. Ritual aku suka naik ke lantai paling atas gedung kantor ku untuk menikmati senja dan jingga yang menawan. Sayangnya hari ini senja lebih mengalah untuk tidak nampak, memilih untuk bersembunyi dibalik mendung. Ah, mungkin kamu saat ini sudah membuang jauh dan menganggap untuk menikmati senja dengan dirinya yang telah bersama mu, yang mungkin saja kamu lebih bahagia selepas meninggalkanku.
Lebih dari 100 senja setelah kepergianmu, tak sama lagi. Kini aku menikmati sendirian. Tanpa kamu, tanpa kita, tanpa harpan, pun tanpa mimpi-mimpi yang dulu pernih kita ceritakan pada senja. Ya, sendirian. Tapi sekarng aku masih saja merasakan aroma mu. Aku menganggap kamu ada disampingku, menikmati senja berdua, lalu bercerita kembali tentang harapan dan mimpi yang ingin kita wujudkan. Tapi, itu hanya perasaan ku saja. Nyatanya, hanya hembusan angin menyentuh lembut kulitku ketika bendung air mata tak bisa ku tahan.
Lebih dari 100 senja setelah kepergianmu..Mungkin senja sedang menertawan ku dibalik mendung itu, melihat ku duduk sendirian tanpa kamu dibangku roof top kantor. Aku belum bisa menggantikan dirimu, sedangkan kamu? Begitu cepat menggantikan posisi ku dihati mu dengan dia. Bahagiakah kamu dengannya? Ah, tentu saja, aku melihatmu menikmati senja berdua dengannya, sedangan aku? Hanya sendirian. Lagi dan lagi sendiri. Ah, aku kesal.
Lebih dari 100 senja setelah kepergian mu, senja selalu menertawakan ku melihat aku resah duduk disudut bangku kedai kopi yang biasany kita datangi, sembari melepas lelah usai mengais rupiah, saat bersm mu dulu. Kini, hanyalah kenangan yang merusak sistem kerja otak kiri ku yan berhasil masuk. Aku pun tertawa, melihat diriku yang seolah tak bisa mengikhlaskan dirimu saat bersamanya. Bodohkah aku yang masih mengharapkanmu? Atau terlalu lemakah aku yang belum rela melihat kamu telah bahagia dengannya?
Lebih dari 100 senja setelah kepergianmu, lagi, lagi, lagi, lagi, dan lagi aku harus menguatkan hati. Lagi dan lagi, kini aku harus menguatkan mata agar ia tak cept mengeluarkan buliran air saat ia melihat dirimu yang bahagia tanpa aku. Lagi dan lagi aku harus menguatkan kaki, agat ia tak terjatuh saat berlari meninggalkan senja serta meninggalkan dirimu saat bersamanya.
Lebih dari 100 senja setelah kepergianmu, aku harap senja berikutnya aku mampu melupakanmu, tidak mengingat kembali bahwa kita pernah bersama saat menikmati senja. Semoga senja ku lebih berwarna lagi, meskipun tanpa kamu dan walaupun kenangan masih menari-nari diingatanku...
Ya, benar. Ritual aku suka naik ke lantai paling atas gedung kantor ku untuk menikmati senja dan jingga yang menawan. Sayangnya hari ini senja lebih mengalah untuk tidak nampak, memilih untuk bersembunyi dibalik mendung. Ah, mungkin kamu saat ini sudah membuang jauh dan menganggap untuk menikmati senja dengan dirinya yang telah bersama mu, yang mungkin saja kamu lebih bahagia selepas meninggalkanku.
Lebih dari 100 senja setelah kepergianmu, tak sama lagi. Kini aku menikmati sendirian. Tanpa kamu, tanpa kita, tanpa harpan, pun tanpa mimpi-mimpi yang dulu pernih kita ceritakan pada senja. Ya, sendirian. Tapi sekarng aku masih saja merasakan aroma mu. Aku menganggap kamu ada disampingku, menikmati senja berdua, lalu bercerita kembali tentang harapan dan mimpi yang ingin kita wujudkan. Tapi, itu hanya perasaan ku saja. Nyatanya, hanya hembusan angin menyentuh lembut kulitku ketika bendung air mata tak bisa ku tahan.
Lebih dari 100 senja setelah kepergianmu..Mungkin senja sedang menertawan ku dibalik mendung itu, melihat ku duduk sendirian tanpa kamu dibangku roof top kantor. Aku belum bisa menggantikan dirimu, sedangkan kamu? Begitu cepat menggantikan posisi ku dihati mu dengan dia. Bahagiakah kamu dengannya? Ah, tentu saja, aku melihatmu menikmati senja berdua dengannya, sedangan aku? Hanya sendirian. Lagi dan lagi sendiri. Ah, aku kesal.
Lebih dari 100 senja setelah kepergian mu, senja selalu menertawakan ku melihat aku resah duduk disudut bangku kedai kopi yang biasany kita datangi, sembari melepas lelah usai mengais rupiah, saat bersm mu dulu. Kini, hanyalah kenangan yang merusak sistem kerja otak kiri ku yan berhasil masuk. Aku pun tertawa, melihat diriku yang seolah tak bisa mengikhlaskan dirimu saat bersamanya. Bodohkah aku yang masih mengharapkanmu? Atau terlalu lemakah aku yang belum rela melihat kamu telah bahagia dengannya?
Lebih dari 100 senja setelah kepergianmu, lagi, lagi, lagi, lagi, dan lagi aku harus menguatkan hati. Lagi dan lagi, kini aku harus menguatkan mata agar ia tak cept mengeluarkan buliran air saat ia melihat dirimu yang bahagia tanpa aku. Lagi dan lagi aku harus menguatkan kaki, agat ia tak terjatuh saat berlari meninggalkan senja serta meninggalkan dirimu saat bersamanya.
Lebih dari 100 senja setelah kepergianmu, aku harap senja berikutnya aku mampu melupakanmu, tidak mengingat kembali bahwa kita pernah bersama saat menikmati senja. Semoga senja ku lebih berwarna lagi, meskipun tanpa kamu dan walaupun kenangan masih menari-nari diingatanku...
Minggu, 22 Januari 2017
She didn’t play games like the others
It’s
the texts you answer at your convenience.
It’s
the snaps you look at then put down your phone.
It’s
every like when you’re bored because you’re wondering what she’s up to.
It’s
every canceled plan when something better comes along.
It’s
the attention you give that’s the bare minimum. But she takes it.
Because
at least for that moment, she has your time and attention when she’s always
given you all of hers.
It’s
every surprise you take for granted. Even though, she thought a lot about it
for a while. It’s not caring enough to even consider reciprocating those
things.
It’s
the favor if you need one, that always goes answered every time. Even though
she’d never ask the same.
It’s
the nights she wishes would turn into the morning but you have some sort of
other agenda, as you say goodbye.
You
label her as easy to read. Because the truth is you know if you want her
you can have her. And where is the fun in that?
Where
is the fun in someone only caring about you?
Where
is the fun in honesty?
Where
is the fun in love when everyone is chasing after questionable likes?
But
the truth is you’re losing her and not even realizing it.
You
lose her a little more every time you don’t answer.
You
lose her a little more every time you cancel plans.
You
lose her a little more every time you choose someone else when the only person
she’s ever chosen is you.
You
lose her a little more every time you don’t appreciate her.
You
lose her a little more every time you take her for granted.
You
lose her a little more every time she goes to bed wondering, ‘why aren’t I
enough for him?’
But
what she doesn’t realize, as these feelings she has for you, blinds her of the
truth. She’s more than enough for you. It’s you that isn’t good enough for her. Because if you were worthy of her, you’d realize her
value.
.............
But
one day you’ll lose her for good. Because she’s going to get to a point where
there’s nothing more she has to offer and she’ll walk away. And it’ll hurt her
to do so. Because she looked at you with wide eyes full of faith that depleted
over time.
One
day she’ll be the one not answering.
One
day those snaps you send will be ignored and you’ll send another just in case.
It’ll irk the shit out of you, the moment she starts
treating you the way you treated her.
You’ll
ask her out and she’ll politely decline.
You’ll
blow up her newsfeed and begin to become more interested in what she is up to
but more than that who she’s with. Because
it’s not you that’s making her smile anymore.
You’ll
miss the nights when she laid beside you and all she ever wanted to do was
talk. The silence will kill you, as you wish for just one more conversation. You’ll hold onto everything she ever got you and it’ll
be a hurtful reminder of the girl who loved you just a little too much.
And
maybe you’ll look back and remember there wasn’t mystery to her. But there was
an honesty you’ve never known in someone.
She
didn’t play games like the others.
She’s the type of girl that ruins people in the best
way and you’ve become just another victim. And
as you fumble through girl after girl, you’ll find something in them all
missing. It’ll be in them you look for her but she will never be found.
Rabu, 07 Desember 2016
Merindukan kamu, Cinta Pertama ku
Hari panjang, melelahkan namun dengan banyak proses akhirnya terlewati. Ya, panjang dan lelah.
Hidung bumpet, pekerjaan menggunung dan hujan. Lengkap rasanya bila meromatisir sebuah kenangan. Rindu sebenarnya. Merindukan seseorang bukan hal menyenangkan memang. Terlebih ketika rindu tak bermuara pada temu.
Hidung bumpet, pekerjaan menggunung dan hujan. Lengkap rasanya bila meromatisir sebuah kenangan. Rindu sebenarnya. Merindukan seseorang bukan hal menyenangkan memang. Terlebih ketika rindu tak bermuara pada temu.
All I hear is raindrops
Falling on the rooftop
Falling on the rooftop
Oh baby tell me why’d you have to go
Cause this pain I feel
Cause this pain I feel
Ya, tulisan ini sepertinya salah satu cara ku untuk bercerita sedikit dengan mu, cinta pertama ku.
Kamu tahu? aksara ku kali ini ku buat berawal dari sebuah unggahan foto salah satu rekan kerja ku di salah satu media sosialku, Bertuliskan "7years". Ya, mengingatkan ku tentang kamu.
Kepada mu, cinta pertama ku..Apa kabar kamu? Aku berharap kamu selalu berada didalam lindungan-Nya. Tak kekurangan satu pun. Tenang saja, sampai saat ini kamu masih menjadi urutan teratas ketika percakapan ku dengan-Nya. Memeluk mu dalam doa masih aku pertahankan.
Sedikit ingin bercerita, semoga disana kamu tak lelah mendengarnya. Untuk ku, kamu selalu menjadi konsep cinta pertama yang begitu indah. Cinta pertama yang tak pernah lekang oleh era. Cinta pertama yang selalu indah, seindah senja yang penghujung hari.
Maafkan aku karena pernah sejenak aku melupakan cintamu. Bodohnya aku karena mencari cinta diluar sana. Dungunya aku karena mencari cinta dari orang asing, padahal cinta sebenar-benarnya cinta sudah ada pada dirimu selama ini..
Aku ingat bagaimana kening berkerut semakin dalam, ketika kita mulai berselisih pendapat. Atau bila aku tak berkabar seharian ketika aku sudah telalu lama berkegiatan diluar. Sosok mu mungkin terlihat kaku untuk seorang laki-laki yang hidup di era semua serba cepat. Tapi dari semua itu, kamu selalu tahu, apa dan bagaimana semua hal terbaik untuk ku.
...
Dan ya, malam ini aku rindu, Pak. Rindu yang tertahan, hingga akhirnya buliran kristal tak henti menerobos benteng pelupuk mata.
Menyebut namamu, mengalunkan vibrasi
dalam denyut nadiku, memenuhi rongga tubuhku dengan getaran. Jutaan
getaran yang ditimbulkan oleh perasaan-perasaan yang berbeda, menyatu,
membuatku terpekur dalam kerinduan. Rindu pada segala hal tentang mu, Pak.
Bukan waktu yang singkat untuk sebuah perasaan kehilangan, dan bukan
waktu yang terlalu lama untuk sebuah tahapan pendewasaan. Rindu pada setiap
canda dan tawa yang kau tawarkan, cerita-cerita konyol, nasihat klasikDan ketika itu, semua hanya biasa, tak pernah ada kesan istimewa.
Tapi sekarang, yang biasa itulah justru yang sangat aku rindukan.
Kamu selalu menjadi lelaki pertama yang menatapku dengan penuh bangga. Saat ini anakmu sekarang sudah berusia hampir seperempat abad. Pikiran tentang masa depan
jelas memerlukan arahan dan diskusi serius. Bapak hanya berpesan,
“Lakoni apa yang kamu cintai.” Mengerjakan hal atas dasar cinta biasanya
akan lebih memuaskan dan berharga daripada dicampuri dengan keengganan
yang berujung pada keterpaksaan. Pun tentang urusan masa depan. Aku ingat kau pernah berkata bahwa masa depan bukan melulu soal penghidupan
yang berbasis kerja, tapi juga tentang hati yang perlu hidup
berdampingan alias pasangan.
Meski tidak secara langsung kuceritakan tentang perjalanan cintaku, tapi
pada akhirnya Bapak mendengarnya dari Ibu. Kali ini, beberapa penggal
kisah cinta belum sukses terselesaikan. Ada yang kandas di tengah jalan
karena pengkhianatan, ada juga cinta yang tak kesampaian. Ah Bapak,
harus kuakui. Belum ada bahu senyaman milikmu untuk menjadi tempat
sandaran saat putus cinta. Tapi aku ingat pesanmu, “Yang meremukkan hati
anak Bapak, akan diganjar oleh Tuhan.”
Pak..rinduuu...
Dari gadis mu,
yang tergugu karena rindu
Senin, 05 Desember 2016
Juanda, 5 Desember 2016 Yaps, Now im Independent Women
Surabaya hari ini masih berteman dengan mendung dan gerimis.
Asap roko masih menari di udara. Dan aku masih saja merindukan dirimu. Padahal kamu sudah punya kebahagiaan mu sendiri. Bodoh memang aku. Tapi biarlah, aku masih menikmati masa-masa patah hati ku. Ya, mungkin tak seperti mu dengan kecepatan 1000tahun cahaya, dengan mudah mendapatkan pengganti ku, atau mungkin memang dari awal sebelum kita selesai, kamu sudah mengincarnya.
Menyedikan memang nasib hati ku yang sudah ku pasrahkan kepada mu.
Tidak, sore ini aku duduk pojok sebuah kedai kopi di Juanda bukan untuk menye-menye tentang hati ku yang belum sembuh benar. Kumpulan aksara ku kali ini tentang bagaimana saat ini aku sudah menjadi perempuan mandiri, karena sudah pernah patah hati.
......
Patah hati ku dengan mu benar-benar mengajarkan ku menjadi perempuan lebih mandiri.
.
.
.
Bicara tenang menjadi peremuan mandiri. Dewasa ini kita hidup dimana mempertimbangkan untuk bisa sejajar dengan laki-laki, dimana menjadi kebanggan tersendiri ketika wanita dalam beberapa setara dengan laki-laki, yang sungguh tabu bila konsep ini diterapkan dibeberapa abad lalu. Bayangan tersebut pada abad-abad sebelumnya bahwa perempuan harus selalu di dapur dan mengurus semua urusan rumah, bukan lagi hal mutlak ditengah perkembangan kemutakhiran saat ini. In another word it has been proven that females can perform just as well, better in some cases, as males in their occupations.
Ya, keadaan seperti inilah yang membuat ku mengerti, perempuan tak melulu memerlukan bantuan. Aku tahu, aku tidak membutuhkan seorang laki-laki hanya untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya bisa dilakukan sendiri.
Sebagai perempuan seharusnya bisa membuat sesuatu sendiri, membantu diri sendiri dengan berbekal apa yang sudah dimiliki saat ini. Dan kita sebagai perempuan punya banyak keahlian.
But, seberapapun aku berpikir bahwa aku tidak membutuhkan laki-laki dalam hidupku, but i like having one. It is nice to have someone reach the things on the top shelf. It is easier to have him kill the spiders and open jars. Hahaha. Tapi, its doesn't mean that i am dependent on him.
Asap roko masih menari di udara. Dan aku masih saja merindukan dirimu. Padahal kamu sudah punya kebahagiaan mu sendiri. Bodoh memang aku. Tapi biarlah, aku masih menikmati masa-masa patah hati ku. Ya, mungkin tak seperti mu dengan kecepatan 1000tahun cahaya, dengan mudah mendapatkan pengganti ku, atau mungkin memang dari awal sebelum kita selesai, kamu sudah mengincarnya.
Menyedikan memang nasib hati ku yang sudah ku pasrahkan kepada mu.
Tidak, sore ini aku duduk pojok sebuah kedai kopi di Juanda bukan untuk menye-menye tentang hati ku yang belum sembuh benar. Kumpulan aksara ku kali ini tentang bagaimana saat ini aku sudah menjadi perempuan mandiri, karena sudah pernah patah hati.
......
Patah hati ku dengan mu benar-benar mengajarkan ku menjadi perempuan lebih mandiri.
.
.
.
Bicara tenang menjadi peremuan mandiri. Dewasa ini kita hidup dimana mempertimbangkan untuk bisa sejajar dengan laki-laki, dimana menjadi kebanggan tersendiri ketika wanita dalam beberapa setara dengan laki-laki, yang sungguh tabu bila konsep ini diterapkan dibeberapa abad lalu. Bayangan tersebut pada abad-abad sebelumnya bahwa perempuan harus selalu di dapur dan mengurus semua urusan rumah, bukan lagi hal mutlak ditengah perkembangan kemutakhiran saat ini. In another word it has been proven that females can perform just as well, better in some cases, as males in their occupations.
Ya, keadaan seperti inilah yang membuat ku mengerti, perempuan tak melulu memerlukan bantuan. Aku tahu, aku tidak membutuhkan seorang laki-laki hanya untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya bisa dilakukan sendiri.
Sebagai perempuan seharusnya bisa membuat sesuatu sendiri, membantu diri sendiri dengan berbekal apa yang sudah dimiliki saat ini. Dan kita sebagai perempuan punya banyak keahlian.
But, seberapapun aku berpikir bahwa aku tidak membutuhkan laki-laki dalam hidupku, but i like having one. It is nice to have someone reach the things on the top shelf. It is easier to have him kill the spiders and open jars. Hahaha. Tapi, its doesn't mean that i am dependent on him.
Also, i know i would be fine without him. i’ve done it before. I know that i can survive, and even thrive, on my
own. But, i don’t want to. I don’t think this makes me any less of a
woman. I don’t think this makes me any less independent. I firmly
believe that independence isn’t doing everything for yourself all the
time. It is knowing that you can but allowing someone to help you. It is
knowing you can still be your own person while in a relationship.
Independence is different for every person. I just happen to think that you can be independent with others.
Rabu, 23 November 2016
Tak Perlu Bersumpah tentang Karma
Aku tak perlu mendoakanmu mendapatkan karma. Aku cukup menyadari, Tuhan akan melakukan sesuatu yang adil. Sama sepertimu, aku hanyalah makhluk tak sempurna, yang bisa saja melakuka kesalahan. Maka dari itu, aku tidak ingin melempar sumpah kedapamu agar kamu mendapat karma.
Aku hanya percaya di dunia ini ada sistem tabur-tuai, dimana kamu akan memetik sendiri buah dari apa yang kamu tanam.
Dan sekarang aku lebih memilih untuk melanjutkan hidupku.
Aku hanya percaya di dunia ini ada sistem tabur-tuai, dimana kamu akan memetik sendiri buah dari apa yang kamu tanam.
Dan sekarang aku lebih memilih untuk melanjutkan hidupku.
Tak terlihatkah dulu aku begitu tersakiti dengan sikapmu?
Aku tak habis pikir, sadarkah kamu dulu aku begitu terluka?
Dengan semua perlakuanmu, tak sadarkah kamu bahwa aku juga manusia yang punya hati, bisa merasa tersakiti dan terluka.
Jika kamu dulu dengan sengaja menyakitiku, dimana perasaanmu, sayang? Sudah matikah hatimu?
ini bukan karena aku tak bisa mencari orang lain yang lebih bisa mencintaiku
ini karena aku tak cukup mengerti, mengapa aku layak kamu
tak pelu bersumpah akan ada karma, Sayang..
Aku cukup sadar ada Tuhan yang melihat segalanya. Dan aku tahu Dia tak pernah tidur dan meninggalkan aku sekalipun sering menyakitinya (mungkin hati) Dia. Ia Maha Adil, aku meyakini itu. Akan ada saat dimana yang bersedih akan dihibur.
Bagaimana, senyum ku masih indah kan? Meski sudah terluka..
Kamu yang sudah mendatangkan hujan dan angin di hatiku. Membuat sebuah lubang disana dan mengacaukan isinya, semoga kamu bahagia. Memang hingga saat ini aku masih berusaha untuk meletakkan kembali semua pecahan itu ke tempatnya semula. Ya seperti lukisan puzzle ku yang pernah lepas dari papannya. Berantakan. Semoga senyumku tak terlihat palsu.
Bagaimana senyum ku sekarang? Masih terlihat baguskan? Ya, benar. Aku menampilkan sisi terbaikku pada orang lain meski hati hampir menyerah untuk melajutkan ini semua.
aku memaksa diriku,
untuk menyadari bahwa aku bukanlah pribadi yang sebenarnya kamu inginkan
Btw, terimakasih untuk pelajaran hidup yang sudah kamu berikan. Aku tidak menyesali semua proses yang pernah terjadi. Kalau saja kamu tak menyakitiku terlalu jauh seperti ini, mungkin aku tak akan menjadi pribadi yang sekuat ini.
Terima kasih untuk pelajaran yang telah kamu berikan dengan cara seperti ini. Semoga kamu cepat disandingkan dengan dia yang kamu anggap pantas mendampingimu.
akan tiba masanya dimana tawa berubaha menjadi air mata, pun dengan sebaliknya
akan selalu ada harga seimbang yang akan Dia bayar sesuai dengan apa yang kamu lakukan
Langganan:
Postingan (Atom)
