Selasa, 15 Desember 2015

Relationship based on "gue kasian dia..."

Sore dan setengah cangkir teh creamer favorit ku mulai menguap panasnya. Satu hari akan segera berlalu dan malam mulai naik ke singgasananya. 

Tiba-tiba saya inget, percakapan ngehek di salah satu medsos tempo hari sama temen SMA. Singkat cerita dia minta saran gimana caranya putus sama pacarnya dengan cara yang halus dan tidak menyakitkan. Permintaan saran yang menurut saya tidak ada jalan keluarnya. Alasannya - yang menurutnya sederhana - adalah,"...yagimana gue udah gk klik lagi ul sama dia, tiba-tiba sekarang gue ketemu sama cewe yang bener-bener bisa gue sayang sesayang-sayangnya sama perempuan.." dan dengan semua alasan yang menurut saya, "ahh itu mahh emang lunya aja yang "sayang fisikli" aja".

Selesainya sebuah hubungan tidak mungkin menyakitkan ketika harus dipaksa selesai. Bahkan ketika keduanya memutuskan untuk tidak sama-sama lagi. Saya yakin, orang manapun akan ada rasa sakit; walaupun sedikit, ketika memutuskan untuk "selesai" dalam suatu hubungan. 

.................................................

Entahlah, saya cuma berpikir, bagaimana cara mereka menjalani sebuah hubungan dengan rasa kasian dan alasan "saya gk tega buat mutusin dia". Apakah ketika diawal dihubungan mereka tidak memikirkan perasaan pasangan mereka? Yang saya tahu adalah, sebuah hubungan terbentuk dari awal karena, ya memang ada rasa sayang, nyaman, dan ikhlas. Ya, ikhlas. Kenapa ikhlas? Karena buat saya hubungan harus didasari oleh sebuah keikhlasan, tanpa ada paksaan, apalagi bukan karena," yaa kasian aja sama dia, saya liat dia berharap bgt dan baik banget sama saya.." Ya, bukan karena rasa kasihan. Sebuah hubungan yang baik, adalah tentang ketulusan. Ketulusan bukan paksaan. Apalagi rasa kasihan.

Hubungan tidak untuk memaksa dan dipaksa seseorang. Hubungan tidak dibangun dengan rasa kasihan. Hubungan tidak dibangun untuk mengasihani orang yang tidak kita inginkan. Hubungan juga tidak dibangun dengan cara membuat orang lain berharap lebih, ketika yang lainnya hanya sekedarnya saja.

Jadi, teman..selamat mejalani hubungan tanpa keterpaksaan dan semoga berbahagian selalu :)


Rabu, 09 Desember 2015

Sayang..Tapi Sayang..Maka Sayang... dan Sayang..

Jadi jika diingat-ingat lagi, sudah sejauh mana hubungan ku dengan mu berjalan?
 
Hari begitu cepat berlalu ketika kita sama-sama menghabiskan waktu bersama, walau hanya sekedar duduk santai menikmati hazelnut latte kesukaan ku sambil menunggu senja - peristiwa alam yang menjadi favorit ku. Atau hanya sekedar duduk berdua bersandar diteras rumah ku, sambil menikmati angin malam dan menceritakan masing-masing hari yang sudah kita lewati. mungkin hal simple, tapi kau tau? Aku sangat menikmati itu semua. Menikmati setiap hal yang terjadi antara kita berdua.

Kau yang selalu dengan sabar mendengar keluh ku ketika pekerjaan kantor dan kampus datang bersamaan dengan jumlah yang menggunung. Kau selalu sabar menghadapi tingkah ku yang sering menjadi kekanak-kanakkan saat aku punya sebuah keinginan. Kau selalu dengan penuh sayang menghapus buliran air yang kadang tak bisa ku tahan ketika dunia sudah tak mampu lagi untuk ku hadapi. Sungguh, untuk ku Tuhan begitu baik telah menghadirkan kau di kehidupan ku yang begitu rumit, dan tanpa keluh masih mau menggenggam tangan ku ketika pijakan ku mulai goyah. Kau yang selalu dengan sabar, menahan ego mu ketika aku sama sekali tak mau mengalah, walau hanya untuk hal kecil. Kau yang selalu menjadi paling tahu ketika aku buta dengan arah jalan, yang kadang bingung membandingkan kanan-kiri.

Sayang,
Mungkin aku tak secantik kekasih mu yang lalu, mungkin aku tak pandai memasak seperti yang diinginkan ibu mu agar kesejahteraan perutmu terjamin. Tapi aku akan menjanjikan satu hal untuk mu; aku berjanji bahwa kau akan bahagia bersama ku. Hanya itu janji ku.Sebuah kebahagiaan. Ya, harus ku ulangi, sebuah kebahagiaan.

Kau selalu menjadi orang yang tahu segalanya tentang ku, tentu saja setelah ibu ku. Kau akan selalu menjadi yang tahu segala hal tentang ku. Kita sama-sama tahu, untuk memiliki hubungan kita saat ini begitu sulit diawal. Kita yang sedang jatuh cinta begitu hebat, masih harus menghadapi lingkungan sekitar yang begitu sulit, yang kita anggap begitu kuno. Tapi kita tahu, ini akan berlalu. Sampai akhirnya hubungan ini mencapai pada tahapan sekarang. Tahapan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.

Mungkin untuk mu, beberapa hari belakang ini, sikap ku sering menyulitkan mu. Aku tahu. Maaf untuk itu, Sayang, aku yakin menghadapi ku yang sering menyulitkan mu, membuat mu sering menghela napas panjag, membuat dahi mu berkerut dalam, membuat kepala mu berdenyut.

Tapi sayang,
Bersabarlah untuk aku yang sering menyulitkan mu. Bersabarlah ketika mood kusering berubah. Bersabarlah ketika aku akan lebih sering mengeluh tentang pekerjaan. Aku taumungkin kau lelah mendengar kesah ku yang melulu soal pekerjaan. Mungkin kau jengah selalu menuruti keinginan ku yang tidak jarang harus kau ikuti saat itu juga. Tapi aku yakin kita sama-sama tahu, konsep tentang "manusia yang selalu berubah ke arah yang lebik baik."

Maka Sayang,
tetaplah untuk arah mata angin yang selalu ada untuk ku ketika aku mulai berbelok dari jalan yang harusnya kita lalui bersama, tetaplah jadi lilin ketika malam ku terlalu gelap untuk aku raba.

..................

Mungkin perjalanan kita belum sejauh bila dibandingkan dengan hubungan yang masing-masing pernah kita lalui, tapi yakinlah, takdir Tuhan kali ini akan berakhir indah.

Dan Sayang,
Terimakasih untuk hal yang sudah dan akan kau lakukan :)

Senin, 07 Desember 2015

7 Hari Sebelum 7 Desember 2015

Langit dan udara disini masih saja dingin.

Bagaimana langit diatas atap rumah mu?
Atap bumi diatas rumah saat ini berwarna biru yang sangat gelap. Udara malam terasa begitu mengigit ketika aku tak sengaja membuka jendela rumah. Malam selalu mengingatkan ku padamu, tentang sakit yang begitu mengigit. Dingin. Seperti tak menyisakan apa-apa lagi untuk tetap menjadi hangat.

Bukan, lautan aksara ku kali ini bukan tentang rasa ku yang masih tertinggal untuk mu. Bukan itu. Ya, kau pasti tahu bahwa aku sudah mulai terbiasa untuk melanjutkan hidup tanpa simpul senyum dari mu, tanpa semua sticker dan emoticon aneh yang selalu kau kirimkan. Tenang saja, aku tak kan lagi mengganggu mu tentang perasaan yang melulu tak ada habisnya.

Aksara ku kali ini hanya tentang 7 Hari Sebelum 7 Desember 2015 milik mu. 7 Hari Sebelum 7 Desember 2015 yang membuat mu terlihat menjadi semakin tua. Sebuah angka milik mu yang selalu bertambah setiap tahunnya.

Kalau tidak salah ingat, 7 Hari Sebelum 7 Desember 2015, 25 tahun yang lalu, Bubu kesayangan mu sedang mempertaruhkan hidupnya untuk nyawa seorang bayi laki-laki mungil, yang ternyata harus lahir sebelum bulan yang sudah ditentukan dokter. Dengan harap cemas agar bayi laki-lakinya selamat dan dalam keadaan sehat tanpa satu kekurangan. Dan  7 Hari Sebelum 7 Desember 2015, 25 tahun yang lalu, ayah kebanggaan mu sedang dalam rasa khawatir melihat dua orang yang begitu ia cintai harus bertahan hidup; istri yang begitu ia cintai, dan calon anak laki-lakinya yang harus bertahan hidup saat harus lahir sebelum waktunya. Aku yakin ayah mu - yang sampai saat ini masih aku idolakan - yang begitu santai menghadapi segala sesuatu, tak putus melafazkan kalam-Nya untuk keselamatan kalian berdua.

Dan ya, harus aku akui, aku begitu berterimakasih kepada Bubu kesayangan mu karena 7 Hari Sebelum 7 Desember 2015, 25 tahun yang lalu sudah melahirnya seorang bayi laki-laki yang begitu hebat, seorang bayi laki-laki yang tumbuh dengan cara memandang dunia begitu berbeda, selalu ada hal yang membuat bayi laki-laki itu istimewa. Aku begitu berterimakasih kepada Bubu kesayangan mu, karena 7 Hari Sebelum 7 Desember 2015, 25 tahun yang lalu sudah membesarkan seorang bayi laki-laki yang memiliki sebuah peluk yang begitu hangat, dengan toleransi yang begitu besar. Seorang bayi laki-laki yang saat ini tumbuh menjadi laki-laki dewasa, dengan senyum hangat, tawa renyah, hati yang begitu besar, sikap yang begitu dewasa ketika masalah bertubi-tubi menghampirinya, dan tentu saja sikap yang selalu mau mendekatkan dirinya kepada-Nya.

Dan selain itu, aku berterimakasih kepada Bubu kesayangan mu, aku juga berterimakasih kepada Ayah kebanggaan mu, karena sejak 7 Hari Sebelum 7 Desember 2015, 25 tahun yang lalu, ia mau mendidik anaknya dengan tegas. Menjadikan bayi laki-laki itu seorang laki-laki dengan hati yang lapang untuk mau mengakui sebuah kesalahan.

Dan hari ini, 7 Hari Sebelum 7 Desember 2015, untuk ke 25 kalinya kau mengulang tanggal ini. Seperempat abad dan kau memiliki kehidupan yang begitu hebat. Dan aku bersyukur, pernah menjadi bagian hidup mu yang begitu hebat itu, walaupun hanya sementara.

Sekai lagi, selamat mengulang hari lahir mu yang ke dua puluh lima kalinya :)

Selasa, 24 November 2015

Mamang Tukang Sol Sepatu



Siang sekitar jam 11.20 WIB.
Kebetulan siang itu saya sedang libur kerja dan berada di rumah. Tiba-tiba Ibu yang lagi asik masak buat makan siang kami di rumah, lari kedepan rumah buat panggil mamang-mamang Tukang Sol Sepatu. Sudah lama beliau cari Tukang Sol Sepatu yang lewat depan rumah. Yaa, sepert biasa pula hal pertama ditanyakan Ibuk saya itu,"Mang mau jait keliling sandal, berapaan?". Dari hasil tawar-tawaran siang itu, akhirnya mereka sepakat kalau harganya 12ribu. Harga yang menurut saya murah untuk sebuah jasa yang tidak semua orang bisa mengerjakannya.

Kebetulan siang itu Ibuk masak dengan jumlah yang agak banyak, sambil menunggu sandal yang dijahit selesai, Ibuk saya melanjutkan kegiatannya di dapur yang hampir selesai. Ternyata saat masakkan Ibuk saya selesai, sandal yg sedang dijahit belum selesai, menurut Mamang Sol Sepatu ada alas yang harus diganti. Ibuk saya menurut saja, walaupun saya sendiri agak protes, takut harganya jadi naik. Ibuk saya cuma bilang,"udah gak apa-apa". Sembari menunggu dan selesai mengobrol dengan si Mamang, Ibuk saya masuk ke dalam rumah, dan keluar dengan membawa segelas teh hangat manis (favorit saya)  dan sekotak makan siang untuk si Mamang Sol Sepatu. Saat selesai dan membayar, ternyata bahan tambahan yang diberikan si Mamang tidak mau dibayar, akhirnya Ibuk mempersilahkan untuk minum dan memberikan sekotak makan siang sambil mengucapka terimakasih.

saat sudah masuk ke rumah, yang kebetulan siang itu hujan turun, saya tanya ke Ibuk kenapa sampai diberi makan siang. Jawaban Ibuk saya sederhana,"berbuat baik itu sama siapa aja. Hidup itu timbal baik, klo kita baik sama semua orang, pasti akan ada banyak orang yang baik sama kita. Ibuk aja seneng banget klo kamu lagi kerja, terus karena kamu ikhlas kerjanya, dikasih makan siang. Bukannya Ibuk pamrih, tapi pasti ada sisi yang sangat baik kalau kita baik ke orang lain."

...................................................


Ibuk saya sebagai single parent termasuk orang tua yang agak kolot, keras, dan sangat disiplin namun sekaligus punya hati dan perasaan paling halus dari semua orang yang pernah saya kenal. Siang itu beliau mengajarkan saya untuk bisa berbuat baik kepada semua orang. Tanpa mengenal kelas, status sosial, harta, kedudukan, dan segala hal yang berbau status sosial yang membuat sebuah jarak antara si kaya dan miskin. Kalimat yang sering Ibuk ucapkan sangat sederhana,"berbuat baik itu sama siapa aja, karena hidup itu timbal balik, jadi siapa aja pasti akan baik juga sama kita. Namanya juga hukum alam, Lan."

Ya kalimat itulah yang sering dan hampir setiap hari Ibuk ucapkan ke saya. Saya bisa dikatakan "tumbuh" dengan kalimat itu.

Jadi untuk saya, salah satu tujuan hidup itu adalah berbuat baik. Berbuat baik kepada siapa pun, kapan pun, dimana pun, dan dengan alasan apapun. Sadar atau tidak, setelah berbuat baik akan perasaan santai dan relax pada diri kita. Akan ada apprreciate untuk diri kita sendiri karena ternyata kita mampu berbuat baik bukan hanya untuk diri kita sendiri, tapi kepada orang lain juga.


Jadi selamat siang, dan selamat menebar kebaikkan ke seluruh duniaaa..

Have great day fellas :)




Selasa, 20 Oktober 2015

Cinta itu...

Cinta itu purba. Dia dimakan tahun, dihabisi oleh senja, tetapi tetap saja bertahan untuk tak menua. Cinta ada purba, temanya itu-itu saja yang terus mengabadi dalam cerita. Kau bisa menemukan cinta dalam cerita paling tua, di tiap belahan bumi mana saja. Cinta seperti terserak dan setiap orang memungutnya dengan bahagia. Dari dongen naif Cinderella, kisah yang tak sudah Rama dan Sinta, hingga cerita paling panjang tentang Paris dan Helena dalam perang Troya, kau menemukan pemicu yang sama - cinta. Mitologi dari seuruh dunia, cerita raykat dari seluruh pelosok tak bernama, semua mengirimkan kisah yang sama purbanya. Cinta.

Namun kau juga tahu itu benar - yang dikatakan orang-orang - bahwa cinta tak melulu tentang langit biru dan matahari teduh atau melihat senja yang begitu cantik sambil berjalan bersisian dan seirama. Cinta bukan hanya gula-gla manis dan mimpi kanak-kanak. Dan, tak sekedar tentang berjalan bersisian dengan hati yang berirama bersahutan. Walau mugkin tak dipungkiri kalau cinta memang sangat bisa untuk membuat semua terasa benar, indah, dan bahagia. 
 
Namun cinta bisa menjelma menjadi gulita dalam gelap, sampai kau tak bisa menebak arahnya. Dan tentu saja, cinta sering kali malah membuat mu menyesali akan keberadaannya. Cinta dapat membuat hati mu patah berkeping-keping, hingga melihat warnanya saja kau akan terasa susah.

Lalu bagaimana kau akan melewatkan hari saat cinta mu tak juga sampai? Saat hati mu memilih untuk terus patah? Apakah kau akan tetap memaksa memiliki cinta mu dengan cara apapun.? Mungkin kau menginginkan dirimu menjelma sebagai batang pohon, yang menyetia sepanjang musim, menunggu cinta mu kembali untuk sekedar menyapa. Seperti cinta, hati bisa juga membuatmu bergerak ke segala arah. Melakukan hal-hal yang selama ini tak pernah kau sangka.

Dan, hati yang patah, jantung yang berdebar dengan rasa nyeri, dengan kenangan yang menerormu setiap hari, dan rindu yang ingin terus kau gerus karena terus memanipulasi hati; adalah paket yang kau terima saat kau berani jatuh cinta.


Rabu, 08 Juli 2015

Persimpangan..

Persimpangan..

Disebuah persimpangan. Apa yang ada dibenak mu ketika seseorang mengucap sebuah kata "persimpangan" ? Untuk ku, persimpangan adalah ketika kita ada di sebuah situasi, suatu tempat dimana kau harus membuat keputusan, memilih, mengambil yang satu dan meninggalkan yang lainnya.

Persimpangan dalam dimensi ku, adalah keadaan rumit.
Apa yang terjadi ketika sedang berada di sebuah persimpangan? Bagaimana caramu untuk membuat keputusan ketika ada disebuah persimpangan? Diam berdiri sampai ada yang datang menjemput? Mencoba untuk mencari jalan, memilh sebuah hal dan meninggalkan hal lain, atau kau akan berteriak memberitahu orang lain sehingga mereka tahu bahwa ada dipersimpangan?

Namun ini akan semakin sulit ketika, persimpangan itu melibatkan banyak pihak. Persimpangan yang selalu membuat pihak lain menang, namun menjadi kalah dipihak lain.

Persimpangan.
Mungkin ini cara Tuhan untuk membuat umatnya menjadi lebih baik. Belajar lebih menjadi bijak ketika harus membuat sebuah keputusan. Kadang kau harus merelakan yang sudah lama bertahan, untuk mendapat yang lebih baik. Walaupun itu sebenernya sulit, tapi bagaimana pun kau harus memilih.

Membuat pilihan bukanlah hal yang simple. Walaupun itu hanya hal sepele atau mungkin tidak penting. Tapi mungkin kau tak tahu, hal yang kau buat pilihannya mempengaruhi kehidupan orang lain, yang kau pikir itu bukanlah apa-apa.

Itu mengapa persimpangan, kadang bisa membuat sebuah hubungan menjadi tidak baik. Tapi ingatlah, Tuhan tidak pernah tidur, tidak pernah menutup matanya, tidak pernah berhenti mendengar dengan keputusan yang kau buat pada sebuah persimpangan. Persimpangan yang dulu pernah kau takutkan untuk memilih jalan. Persimpangan yang selalu kau takutkan. Akan selalu ada hal indah yang menantimu di ujung jalan persimpangan yang kau pilih.

Persimpangan..semoga berhasil teman ketika kalian menemukan sebuah persimpangan :)

Sabtu, 20 Juni 2015

Menjadi Dewasa..

Semua orang pasti akan menjadi dewasa. Semua manusia pasti akan ada dimasa ketika ia akan disebut dewasa. Menjadi dewasa adalah sebuah proses. Ya seperti proses menetasnya sebuah penyu. Sebelumnya kau ada di dalam sebuah cangkang, semua sudah terpenuhi kebutuhannya, terjaga, aman. Kemudian tiba pada saatnya telur itu akan pecah dan menetaslah seekor penyu mungil, kecil, dan rapuh. Untuk keluar dari zona amannya pun, ia harus berusaha merangkak naik dari sarangnya, naik merangkak ke atas. Mereka akan belajar bagaimana caranya bertahan hidup, untuk bisa bagaimana beradaptasi dengan lingkungan. Untuk ku sama seperti menjadi dewasa. Proses dewasa itu bagaimana kita bisa beradaptasi dan bersikap.

Sering kita mendengar  ungkapan “Menjadi tua itu adalah pasti hukumnya, namun menjadi dewasa adalah suatu pilihan sifatnya”. Tapi, ya! Memang itu adanya. Seorang dengan usia 20, 30, atau bahkan 50 tahunan yang kita anggap tua, ternyata banyak yang belum dapat bersikap dewasa. Padahal usia semakin tahun semakin berkurang, namun jalan fikiran untuk memperbaiki kehidupan ini ternyata belum cukup berkembang.
Sehingga, tidak perlu menunggu tua untuk menjadi dewasa.

Kedewasaan tidak selalu beriringan dengan berkurangnya usia. Secara umum, seorang dapat dikatakan dewasa apabila ia telah mampu membedakan mana yang baik dan mana yang jelek (atau benar salahnya sesuatu). Mungkin memang tampaknya begitu mudah mencap diri sebagai seorang yang dewasa, namun dalam proses bukan hal yang mudah untuk menjadi dewasa, ada masa transisi yang panjang, perlu ilmu, ada latihan, dan sebagainya.

Menjadi dewasa bukan sebuah pilihan, menjadi dewasa adalah sebuah keharusan. Keharusan seseorang untuk dapat tahu bagaimana harus bersikap dalam hal-hal tertentu.

Menjadi dewasa juga tak berarti kita harus melulu mempunyai kehidupan yang serius. Kehidupan yang berjalan untuk mengurusi hal-hal serius. Menjadi dewasa adalah salah satu bagian dari banyak bagian dalam kehidupan yang harus dinikmati prosesnya.

Nikmati proses menjadi dewasa seperti kita sedang menikmati es krim di kala senja. Jangan terburu-buru, nikmati rasa manisnya. Sensasi dinginnya. Rasa nyaman ketika meleleh didalam mulut. Nikmati proses dewasa mu. Menjadi dewasa adalah jalan untuk kau dapat mengenal dirimu lebih jauh. Sehingga kau mampu memaafkan dirimu sendiri.

Selamat Menikmati Menjadi Dewasa, teman :)