Malam semakin larut, gerimis kembali menyapa rumput di halaman ku.
Mengingat mu punya rasa tersendiri untuk ku. Bahagia. Menyengkan. Tenang. Perih. Rindu. Terlalu banyak perasaan yang mungkin bila dibuat rinciannya, tak kan habis dalam 1 posting ku.
Aku rindu.
Masih terlalu merindukan mu.
Seperti air di sepetak sawah pada saat musim penghujan dengan sistem irigasi yang kurang baik. Membludak airnya, pun seperti rindu ini.
Aku punya kesenangan baru kali ini. Tergugu. Ya, menangis hingga mengugu. Hampir setiap malam aku masih mengugu pilu hanya ketika tak sengaja mengingatmu, kemudian mengenang mu, lalu berujung dengan merindukan mu. Tuhan...
Tak bisakah kita menghabiskan waktu bersama barang sebentar?
Tak bisakah kita menghabiskan satu malam lagi untuk bertukar cerita tentang hari yang sudah masing-masing kita lewati (lagi) ?
Tak bisakah sosok mu datang dengan seulas senyum, ketika tiba-tiba aku berlari seraya melompat kceil untuk memeluk mu.
Ya, sungguh aku merindukan masa-masa itu.
Kau benar, aku cengeng. Bahkan untuk usia ku, aku memang terlalu cengeng, Sayang.
Biarlah, jangan kau suruh aku untuk berhenti menangis, biar air ini mengalir bersama rindu yang tak terbendung ini, biar mereka lari keluar agar aku tidak tidur dalam guguan.
Selasa, 26 Januari 2016
Minggu, 24 Januari 2016
Berkisah Tentang Hujan
Maaf,
Jika kali ini aku sedang tak
membicarakan hati. Aku cuma mau ngobrol soal hujan yang kerap akrab
dengan suasana hati. Sudah pernah kan aku bilang kalau aku suka hujan?
Ketika kebanyakan orang menggerutu kala hujan jatuh, tapi tidak dengan aku. Malah aku mengharapkan jika durasi hujan yang bergulir bisa lebih panjang. Kalau bisa turun sejak pagi, siang hingga malam. menyetia tanpa jeda.
Lalu..
Biasanya aku betah berlama-lama duduk diambang jendela sibuk menghitung gegas tetes hujan yang jatuh. Pernahkah kubilang jika pada tiap tetes hujan yang menghujam bumi masing-masing membawa cerita? Tentang bagaimana cara ia mengada hingga kemudian merinai tak terhingga?
Tapi senja ini aku tidak sedang menyaksikan hujan dari balik kaca jendela. Justru saat ini aku sedang melangkah di bawah arsirannya. Mendengarkan hujan berkisah langsung sambil menyertai gegasku.
Tak kuhiraukan cipratan genangan membasahi ujung-ujung celanaku akibat aku melangkah terlalu cepat, bagiku mendengarkan obrolan hujan lebih menyenangkan. Kami layaknya dua sahabat yang akrab, walau dia lebih sering diam dan hanya mendengar ocehan ku yang kadang merancau. Sambil bercerita, hujan sesekali mencoba menggoda dengan menjatuhkan tetes-tetesnya disebagian kemejaku meski aku telah berusaha menutupi tubuhku rapat-rapat dibawah lengkung payung.
Baru saja hujan bilang padaku jika ia kerap bersedih hati karena kehadirannya dianggap sebagai biang masalah karena membuyarkan rencana. Bahkan tak jarang orang menganggapnya sebagai pembawa suasana hati jadi kelabu dan mendadak mendung seketika seiring kehadirannya. Mendengar itu, aku pun tak lagi bisa membedakan mana air hujan mana air mata.
Hingga jam segini hujan belum menunjukan tanda-tanda pamit.
Hemm.. baiklah, bagaimana jika aku ingin mengajakmu? Barangkali kau mau ikut denganku bercengkrama dengan hujan sore ini? Jangan kau takut kalau nanti hujan akan menghadirkan kenangan tentang kita, justru hujan akan menghapus jejaknya.
Oia, sebelum aku lupa, bawa serta payung dan mantelmu karena aku tak tau, apakah hujan akan turun makin lebat atau justru berangin dingin.
Dan kalau sudah siap, temui aku di tempat biasa–
....
Matahari dan Bulan pada Suatu Subuh
Hai, kamu! Iya, kamu…
Sudah lama kan aku tak berkisah padamu? Sini. Kemarilah! Duduk di sini,
di sampingku. Tinggalkan dahulu pekerjaanmu sejenak. Akan kuceritakan
sepenggal kisah tentang cinta sepasang kekasih kepadamu. Mereka adalah
bulan sahabatku dengan matahari kekasihnya. Dan mereka adalah pasangan
yang saling mencinta.
Boleh kumulai kisahku?
Baiklah, begini…
Kisah ini dimulai pada jaman dahulu kala, saat bumi belum lagi berbentuk
bulat. Saat itu, bumi hanya berbentuk sebuah daratan yang membujur dari
kanan ke kiri. Luasnya pun tak lebih besar dari sebuah pulau kecil yang
kini selalu menjadi tujuan utama wisata para turis mancanegara.
Keindahan negeri itu pun jangan ditanya, persis keindahan surga seperti yang selalu dikisahkan dalam kitab2. Disana tak pernah ada siang dan malam. Karenanya bila kita menengadahkan kepala, kita bisa melihat matahari dan bulan menghiasi langit negeri itu bersama2.
Siapa pun yang hidup di kala itu paham jika matahari dan bulan sesungguhnya adalah pasangan kekasih yang saling mencinta dan tak dapat terpisahkan. Siapa pun yang hidup di jaman itu pasti akan iri melihat kemesraan mereka berdua.
Hingga suatu masa kekuatan maha dasyat melanda negeri tersebut. Hujan deras turun tak henti2. Petir menyambar apapun yang ia mau. Angin kencang menerjang. Meluluhlantakan apa saja yang ada di sana. Memporakporanda keindahan negeri tersebut dalam sekejap mata.
Kehidupan damai dan tentram negeri itu sontak menjadi kelabu. Tak satupun orang yang berani keluar rumah. Alangkah berdukanya semua penduduk negeri. Tak terkecuali matahari dan bulan. Turunnya hujan membuat mereka tak dapat saling pandang karena tertutup kelabunya awan.
Setelah lebih dari ratusan hari negeri tersebut dimurka hujan, dibentak petir berkali2 serta tak jemu2nya angin mencerca, maka kekacauan negeri tersebut akhirnya pun berakhir. Hujan tak lagi turun. Petir dan halilintar pun tak lagi menyambar. Serta angin pun kini hanya bertiup sepoi saja.
Akan tetapi ada yang berbeda. Bumi yang tadi hanya daratan yang mendatar, kini tak lagi nampak ujungnya. Orang yang dahulu tinggal di ujung kiri negeri tersebut kini tlah bersebelahan dengan orang yang tinggal di kanan daratan. Dari situ mereka menyimpulkan bahwa dataran tempat tinggal mereka kini tlah berbentuk bulat.
Tak hanya itu, akibat peristiwa maha dasyat tersebut matahari dan bulan kini harus terpisah jauh. Matahari terpisahkan oleh dua kutub yang membagi dua bumi. Saat matahari menyinari sebelah kiri sisi bumi, bulan bersinar menerangi malam di sisi bumi yang lain. Begitu terus bergantian. Dan kini penduduk negeri tersebut harus merasakan hari yang gelap kala malam dan hari yang terang kala siang. Bulan dan matahari berputar dalam rotasinya masing2.
Sejak mereka terpisah, bulan selalu merindukan matahari. Hampir setiap waktu kala bulan usai melaksanakan tugasnya untuk memberi cahaya bumi pada malam hari, ia selalu memperlambat rotasinya. Ia ingin menyempatkan diri menyambut sang fajar yang mulai terbit di ufuk timur dari kejauhan.
Karenanya tak heran jika bayangan bulan yang pucat keperakan masih bisa ditemui meski matahari tlah muncul dari kaki langit ketika pernah aku menyaksikan matahari terbit di suatu subuh.
“Karena bisa menangkap bayangan matahari dari kejauhan, bagiku itu sudah cukup” jawab bulan ketika suatu ketika aku bertanya padanya.
Bulan sungguh tercekik rindu, itu kesimpulanku. Ia amat mencintai matahari. Namun semesta seakan menghukumnya. Andai ia tak harus berotasi. Andai waktu berhenti detik itu juga, demikian ia pernah berkesah. Gelisah jelas terbaca di wajah bulan.
Mari, sayang! Kubisikkan satu rahasia tentang bulan padamu. Apa kau tau alasan bulan menampakan dirinya tak utuh pada malam2 tertentu? Itu karena dia berusaha mengintip matahari yang sedang bersinar di sisi bumi yang lain. Bulan kemudian akan tersenyum lebar jika ia berhasil mengintip matahari. Nah, saat bulan sedang tersenyum itulah kita sering menyebutnya bulan sabit.
Sejak aku dan bulan berteman, aku selalu bangun pagi2 sekali bahkan ketika langit masih gelap dan bulan masih bersinar terang. Kemudian, sambil bulan menantikan matahari muncul dari balik cakrawala, aku menemani bulan yang wajahnya terlihat dirajam gelisah itu berbincang untuk sekedar membuang waktunya.
Sebenarnya bukan hanya itu alasanku sengaja bangun pagi2 sekali, sesungguhnya aku tak ingin melewatkan pertemuan sejenak antara bulan dan matahari yang kuanggap sangat romantis itu. Mengapa kusebut begitu, karena saat senja, kau tak akan bisa menemukan kejadian unik seperti ini, kala bulan dan matahari muncul di langit yang sama secara bersamaan meski hanya beberapa menit saja.
Pernah, aku sengaja mencuri dengar percakapan mereka di suatu subuh.
“Selamat pagi, matahari. Aku tak pernah heran mengapa Tuhan menganugerahkanmu kehangatan, karena bagiku, sinarmu selalu mampu membakar rinduku tak berkesudahan”
“Bulan, kehangatan sinarku bahkan terkalahkan oleh cahaya senyummu yang mampu mencairkan es di kedua kutub”.
“Bagaimana mungkin senyumku mampu melumerkan es di kedua kutub, nyatanya aku hanya sanggup melelehkan air mata dan meninggalkan jejak basah di kedua pipiku”
“Sejak kapan hujan senang bertandang di kejora matamu, bulan? Bukankah kita masih berada di bentang langit yang sama?”
“Duhai, mentari, semenjak semesta memisahkan kita, rupamu selalu menempati tiap sudut di hatiku, jadi bagaimana mungkin aku tidak merindu”.
“Rembulan, diam2 tanpa kau tahu, aku selalu menunggu setiap langkah kakimu saat menujuku”.
“Tapi kau menunggu dalam jarak yang begitu jauh. Kapan kau akan benar2 berlayar ke hatiku untuk berlabuh? Hingga kita dapat menyingkat jarak dan aku dapat memelukmu dalam sekali rengkuh”
“Rembulan, matikanlah rasa itu. Rasamu yang mencintaiku”.
Bulan tersentak. Bagaimana bisa ia tak mencinta. Kata2 matahari itu menusuk hingga relug hatinya.
“Apa kau bilang, mentari? Kau ingin agar aku membunuh cinta kita? Membunuhnya kemudian menguburkannya di bawah sebatang pohon yang rindang di atas bukit sana? Lalu kau ingin aku mengukir namaku dan namamu dengan gambar hati di tengah2nya di atas nisan itu, begitu?”
Matahari terdiam.
“Mengapa tidak? Tanpa kukatakan pun kau tahu mengapa kuminta kau untuk mematikan rasa cintamu itu”
“Ya, aku tahu. Karena telah ada awan yang menemani disetiap harimu. Karena tlah ada bintang yang setia menyertaiku, benar kan?”
Hening sesaat.
“Tidurlah, rembulan. Kutahu kau lelah setelah menerangi bumi dengan cahayamu semalaman. Istirahatlah. Berbaringlah di peraduanmu”.
“Tidak, aku tidak lelah. Aku belum ingin tidur. Oh, matahari, sesungguhnya aku rindu berbaring di sisimu. Terlalu dingin tidur tanpa terikmu yang meninabobokanku”.
“Cobalah mengerti, rembulan, aku pun begitu merindukanmu. Aku ingin kembali pada masa itu, masa dimana aku bisa menyinari bumi bersanding denganmu”.
Kata2 matahari berhasil menghangatkan bulan yang menggigil rindu.
Matahari melanjutkan,
“Tak tahu kah kau, bulan, jika cahaya yang kau miliki sesungguhnya berasal dari sinarku? Maka yakinlah, bahwa aku akan terus menyala dalam hidupmu. Percayalah bahwa cintaku abadi walau semesta selau berusaha menjadi pembatasnya”.
Gerimis menggenang di pelupuk mata bulan.
“Terima kasih, mentari, terima kasih. Kini kurasakan nadiku kembali berdenyut. Kata2mu mampu meniupkan ruh dalam hatiku. Tak mengapa bila semesta berdiri di tengah2 kita. Sudah cukup bagiku mengetahui kau masih tetap merindu dan mencinta”.
Bulan tersenyum. Bahagia.
Matahari menatap mesra kekasihnya. Lalu kudengar matahari berbisik, “Selamat tidur, rembulan”.
Diikuti bayangan bulan yang perlahan kian memudar, matahari pun bersiap memulai hari.
Begitulah, sayang, kisah matahari dan bulan yang berjanji akan tetap saling mencinta. Meski semesta menengahi mereka. Meskipun kini mereka hanya bisa bersenggama kala gerhana~
Tergugu
Di sini aku masih tergugu begitu hebat ketika mengingatmu. Entah sudah berapa kali air ini selalu menguak ketika mengingat mu.
Siang ini kota ku hujan tak kunjung reda, semakin membuat ku tenggelam lebih dalam sebuah ingatan bahagia, yang malah membuat ku perih.
Ketika tulisan ini ku buat, linangan ini tak juga kunjung reda.
Sugguhlah rindu ini masih dalam kadar yang sama, bahkan bertambah. Aku sudah tak tahu harus berbuat apa ketika sudah seperti ini. Hanya dapat berteriak dalam diam. Menggugu dalam keperihan.
Tak bisakah kita bertemu barang satu menit. Hanya untuk dapat memeluk mu hingga guguan ini mereda. Setelahnya kau bisa pergi meninggalkan ku lagi. Tak apa bila tak ingin menengok kembali ke belakang.
Sungguh ini perih..
.........
Siang ini kota ku hujan tak kunjung reda, semakin membuat ku tenggelam lebih dalam sebuah ingatan bahagia, yang malah membuat ku perih.
Ketika tulisan ini ku buat, linangan ini tak juga kunjung reda.
Sugguhlah rindu ini masih dalam kadar yang sama, bahkan bertambah. Aku sudah tak tahu harus berbuat apa ketika sudah seperti ini. Hanya dapat berteriak dalam diam. Menggugu dalam keperihan.
Tak bisakah kita bertemu barang satu menit. Hanya untuk dapat memeluk mu hingga guguan ini mereda. Setelahnya kau bisa pergi meninggalkan ku lagi. Tak apa bila tak ingin menengok kembali ke belakang.
Sungguh ini perih..
.........
Senin, 18 Januari 2016
Reading Room
Kemang di guyur hujan siang ini. Menyisakan tanah basah yang cukup membuat sandal jepit anak diseberang sana kotor.
Reading Room, sebuah cafe dibilangin Kemang Timur yang menyuguhkan suasana berbeda untuk sebuah cafe di Jakarta. Tak banyak pengunjung siang ini.
Pekerjaan kampus yang menggunung dan suasan rumah yang berantakan memaksa saya (re: pengen main sebenernya) untuk cari tempat baru sembari menikmati wifi gratis. Saya tahu tempat ini tak sengaja dari browsing internet.
Sembari menyelesaikan pekerjaan yang menggunung, diseberang saya, duduk seorang laki-laki berusia sekitar 25 tahun dengan kaos coklat caramel. Berwajah putih sedikit oriental dengan bibir tipis dengan sebatang rokok terselip dibibirnya. Rambutnya tertata rapi. Matanya masih terpaku pada gadget bermerk.
Hampir 1 jam saya memperhatikan, wajah teduhnya cukup membuat saya lupa dengan tugas yang harus dikerjakan.
Sudah 9 bulan terakhir ini, laki-laki inilah yang masih sabar bergumul dengan saya, dengan semua rutinitas saya, dengan segala mood swings yang sungguh bisa membuat orag sakit kepala.
9 bulan terakhir yang cukup membuat hari saya seperti Faber Castel Water Coloue isi 36 yang ada di rumah saya. Dia laki-laki yang saat mengaku menyayagi saya dengan apa adanya saya, walau sesekali dia mengehela napas ketika saya tak bisa membedakan kanan dan kiri ketika harus mencari sebuah jalan. Dia laki-laki yang sampai saat selalu meng-iya-kan keinginan saya, yang kadang tidak tahu waktu.
Dan, by the way terimakasih sudah mau repot-repot sekedar menemani siang ini haya untuk duduk manis menunggu selesainya tugas ku.
Have a good day fellas.
Kalian dapat salah dari Om Richard Oh di seberang saya.
Kamis, 14 Januari 2016
Rindu yang Tertahan
Kali ini tentang rindu yang tertahan.
Tentang rasa yang masih tersimpan rapi di tempat terbelakang kenangan yang sudah tak pernah tertengok lagi.
Tentang sentuh yang masih berharap temu.
Tentang tubuh yang masih harap hangat sebuah lengan.
Tentang bibir yang masih harap kecup lembut.
Tentang pilu yang kadang masih terasa ngilu ketika sekelebat kenangan mencuat tanpa sengaja.
Ini semua semua masih tentang rindu yang tertahan.
Kepadanya hati menjadi perih.
Kepadanya mata terlalu sering mengeluarkan bulir air.
Kepadanya dunia menjadi tempat yang memuakkan.
Iya, karena hal aneh yang disebut rindu, yang kemudian tak tersampaikan, maka dunia mu menjadi berantakan.
Tentang rasa yang masih tersimpan rapi di tempat terbelakang kenangan yang sudah tak pernah tertengok lagi.
Tentang sentuh yang masih berharap temu.
Tentang tubuh yang masih harap hangat sebuah lengan.
Tentang bibir yang masih harap kecup lembut.
Tentang pilu yang kadang masih terasa ngilu ketika sekelebat kenangan mencuat tanpa sengaja.
Ini semua semua masih tentang rindu yang tertahan.
Kepadanya hati menjadi perih.
Kepadanya mata terlalu sering mengeluarkan bulir air.
Kepadanya dunia menjadi tempat yang memuakkan.
Iya, karena hal aneh yang disebut rindu, yang kemudian tak tersampaikan, maka dunia mu menjadi berantakan.
Selamat berjuang melawan rindu, teman.
Rindu yang Tertahan
Kali ini tentang rindu yang tertahan.
Tentang rasa yang masih tersimpan rapi di tempat terbelakang kenangan yang sudah tak pernah tertengok lagi.
Tentang sentuh yang masih berharap temu.
Tentang tubuh yang masih harap hangat sebuah lengan.
Tentang bibir yang masih harap kecup lembut.
Tentang pilu yang kadang masih terasa ngilu ketika sekelebat kenangan mencuat tanpa sengaja.
Ini semua semua masih tentang rindu yang tertahan.
Kepadanya hati menjadi perih.
Kepadanya mata terlalu sering mengeluarkan bulir air.
Kepadanya dunia menjadi tempat yang memuakkan.
Iya, karena hal aneh yang disebut rindu. Kemudian tak tersampaikan, maka dunia mu menjadi berantakan.
Selamat berjuang melawan rindu, teman.
Tentang rasa yang masih tersimpan rapi di tempat terbelakang kenangan yang sudah tak pernah tertengok lagi.
Tentang sentuh yang masih berharap temu.
Tentang tubuh yang masih harap hangat sebuah lengan.
Tentang bibir yang masih harap kecup lembut.
Tentang pilu yang kadang masih terasa ngilu ketika sekelebat kenangan mencuat tanpa sengaja.
Ini semua semua masih tentang rindu yang tertahan.
Kepadanya hati menjadi perih.
Kepadanya mata terlalu sering mengeluarkan bulir air.
Kepadanya dunia menjadi tempat yang memuakkan.
Iya, karena hal aneh yang disebut rindu. Kemudian tak tersampaikan, maka dunia mu menjadi berantakan.
Selamat berjuang melawan rindu, teman.
Langganan:
Postingan (Atom)