Matahari dan Bulan pada Suatu Subuh
Hai, kamu! Iya, kamu…
Sudah lama kan aku tak berkisah padamu? Sini. Kemarilah! Duduk di sini,
di sampingku. Tinggalkan dahulu pekerjaanmu sejenak. Akan kuceritakan
sepenggal kisah tentang cinta sepasang kekasih kepadamu. Mereka adalah
bulan sahabatku dengan matahari kekasihnya. Dan mereka adalah pasangan
yang saling mencinta.
Boleh kumulai kisahku?
Baiklah, begini…
Kisah ini dimulai pada jaman dahulu kala, saat bumi belum lagi berbentuk
bulat. Saat itu, bumi hanya berbentuk sebuah daratan yang membujur dari
kanan ke kiri. Luasnya pun tak lebih besar dari sebuah pulau kecil yang
kini selalu menjadi tujuan utama wisata para turis mancanegara.
Keindahan negeri itu pun jangan ditanya, persis keindahan surga
seperti yang selalu dikisahkan dalam kitab2. Disana tak pernah ada siang
dan malam. Karenanya bila kita menengadahkan kepala, kita bisa melihat
matahari dan bulan menghiasi langit negeri itu bersama2.
Siapa pun yang hidup di kala itu paham jika matahari dan bulan
sesungguhnya adalah pasangan kekasih yang saling mencinta dan tak dapat
terpisahkan. Siapa pun yang hidup di jaman itu pasti akan iri melihat
kemesraan mereka berdua.
Hingga suatu masa kekuatan maha dasyat melanda negeri tersebut.
Hujan deras turun tak henti2. Petir menyambar apapun yang ia mau. Angin
kencang menerjang. Meluluhlantakan apa saja yang ada di sana.
Memporakporanda keindahan negeri tersebut dalam sekejap mata.
Kehidupan damai dan tentram negeri itu sontak menjadi kelabu. Tak
satupun orang yang berani keluar rumah. Alangkah berdukanya semua
penduduk negeri. Tak terkecuali matahari dan bulan. Turunnya hujan
membuat mereka tak dapat saling pandang karena tertutup kelabunya awan.
Setelah lebih dari ratusan hari negeri tersebut dimurka hujan,
dibentak petir berkali2 serta tak jemu2nya angin mencerca, maka
kekacauan negeri tersebut akhirnya pun berakhir. Hujan tak lagi turun.
Petir dan halilintar pun tak lagi menyambar. Serta angin pun kini hanya
bertiup sepoi saja.
Akan tetapi ada yang berbeda. Bumi yang tadi hanya daratan yang
mendatar, kini tak lagi nampak ujungnya. Orang yang dahulu tinggal di
ujung kiri negeri tersebut kini tlah bersebelahan dengan orang yang
tinggal di kanan daratan. Dari situ mereka menyimpulkan bahwa dataran
tempat tinggal mereka kini tlah berbentuk bulat.
Tak hanya itu, akibat peristiwa maha dasyat tersebut matahari dan
bulan kini harus terpisah jauh. Matahari terpisahkan oleh dua kutub yang
membagi dua bumi. Saat matahari menyinari sebelah kiri sisi bumi, bulan
bersinar menerangi malam di sisi bumi yang lain. Begitu terus
bergantian. Dan kini penduduk negeri tersebut harus merasakan hari yang
gelap kala malam dan hari yang terang kala siang. Bulan dan matahari
berputar dalam rotasinya masing2.
Sejak mereka terpisah, bulan selalu merindukan matahari. Hampir
setiap waktu kala bulan usai melaksanakan tugasnya untuk memberi cahaya
bumi pada malam hari, ia selalu memperlambat rotasinya. Ia ingin
menyempatkan diri menyambut sang fajar yang mulai terbit di ufuk timur
dari kejauhan.
Karenanya tak heran jika bayangan bulan yang pucat keperakan masih
bisa ditemui meski matahari tlah muncul dari kaki langit ketika pernah
aku menyaksikan matahari terbit di suatu subuh.
“Karena bisa menangkap bayangan matahari dari kejauhan, bagiku itu sudah cukup” jawab bulan ketika suatu ketika aku bertanya padanya.
Bulan sungguh tercekik rindu, itu kesimpulanku. Ia amat mencintai
matahari. Namun semesta seakan menghukumnya. Andai ia tak harus
berotasi. Andai waktu berhenti detik itu juga, demikian ia pernah
berkesah. Gelisah jelas terbaca di wajah bulan.
Mari, sayang! Kubisikkan satu rahasia tentang bulan padamu. Apa kau
tau alasan bulan menampakan dirinya tak utuh pada malam2 tertentu? Itu
karena dia berusaha mengintip matahari yang sedang bersinar di sisi bumi
yang lain. Bulan kemudian akan tersenyum lebar jika ia berhasil
mengintip matahari. Nah, saat bulan sedang tersenyum itulah kita sering
menyebutnya bulan sabit.
Sejak aku dan bulan berteman, aku selalu bangun pagi2 sekali bahkan
ketika langit masih gelap dan bulan masih bersinar terang. Kemudian,
sambil bulan menantikan matahari muncul dari balik cakrawala, aku
menemani bulan yang wajahnya terlihat dirajam gelisah itu berbincang
untuk sekedar membuang waktunya.
Sebenarnya bukan hanya itu alasanku sengaja bangun pagi2 sekali,
sesungguhnya aku tak ingin melewatkan pertemuan sejenak antara bulan dan
matahari yang kuanggap sangat romantis itu. Mengapa kusebut begitu,
karena saat senja, kau tak akan bisa menemukan kejadian unik seperti
ini, kala bulan dan matahari muncul di langit yang sama secara bersamaan
meski hanya beberapa menit saja.
Pernah, aku sengaja mencuri dengar percakapan mereka di suatu subuh.
“Selamat pagi, matahari. Aku tak
pernah heran mengapa Tuhan menganugerahkanmu kehangatan, karena bagiku,
sinarmu selalu mampu membakar rinduku tak berkesudahan”
“Bulan, kehangatan sinarku bahkan terkalahkan oleh cahaya senyummu yang mampu mencairkan es di kedua kutub”.
“Bagaimana mungkin senyumku mampu
melumerkan es di kedua kutub, nyatanya aku hanya sanggup melelehkan air
mata dan meninggalkan jejak basah di kedua pipiku”
“Sejak kapan hujan senang bertandang di kejora matamu, bulan? Bukankah kita masih berada di bentang langit yang sama?”
“Duhai, mentari, semenjak semesta
memisahkan kita, rupamu selalu menempati tiap sudut di hatiku, jadi
bagaimana mungkin aku tidak merindu”.
“Rembulan, diam2 tanpa kau tahu, aku selalu menunggu setiap langkah kakimu saat menujuku”.
“Tapi kau menunggu dalam jarak yang
begitu jauh. Kapan kau akan benar2 berlayar ke hatiku untuk berlabuh?
Hingga kita dapat menyingkat jarak dan aku dapat memelukmu dalam sekali
rengkuh”
“Rembulan, matikanlah rasa itu. Rasamu yang mencintaiku”.
Bulan tersentak. Bagaimana bisa ia tak mencinta. Kata2 matahari itu menusuk hingga relug hatinya.
“Apa kau bilang, mentari? Kau ingin
agar aku membunuh cinta kita? Membunuhnya kemudian menguburkannya di
bawah sebatang pohon yang rindang di atas bukit sana? Lalu kau ingin aku
mengukir namaku dan namamu dengan gambar hati di tengah2nya di atas
nisan itu, begitu?”
Matahari terdiam.
“Mengapa tidak? Tanpa kukatakan pun kau tahu mengapa kuminta kau untuk mematikan rasa cintamu itu”
“Ya, aku tahu. Karena telah ada awan yang menemani disetiap harimu. Karena tlah ada bintang yang setia menyertaiku, benar kan?”
Hening sesaat.
“Tidurlah, rembulan. Kutahu kau lelah
setelah menerangi bumi dengan cahayamu semalaman. Istirahatlah.
Berbaringlah di peraduanmu”.
“Tidak, aku tidak lelah. Aku belum
ingin tidur. Oh, matahari, sesungguhnya aku rindu berbaring di sisimu.
Terlalu dingin tidur tanpa terikmu yang meninabobokanku”.
“Cobalah mengerti, rembulan, aku pun
begitu merindukanmu. Aku ingin kembali pada masa itu, masa dimana aku
bisa menyinari bumi bersanding denganmu”.
Kata2 matahari berhasil menghangatkan bulan yang menggigil rindu.
Matahari melanjutkan,
“Tak tahu kah kau, bulan, jika cahaya
yang kau miliki sesungguhnya berasal dari sinarku? Maka yakinlah, bahwa
aku akan terus menyala dalam hidupmu. Percayalah bahwa cintaku abadi
walau semesta selau berusaha menjadi pembatasnya”.
Gerimis menggenang di pelupuk mata bulan.
“Terima kasih, mentari, terima kasih.
Kini kurasakan nadiku kembali berdenyut. Kata2mu mampu meniupkan ruh
dalam hatiku. Tak mengapa bila semesta berdiri di tengah2 kita. Sudah
cukup bagiku mengetahui kau masih tetap merindu dan mencinta”.
Bulan tersenyum. Bahagia.
Matahari menatap mesra kekasihnya. Lalu kudengar matahari berbisik, “Selamat tidur, rembulan”.
Diikuti bayangan bulan yang perlahan kian memudar, matahari pun bersiap memulai hari.
Begitulah, sayang, kisah matahari dan bulan yang berjanji akan tetap
saling mencinta. Meski semesta menengahi mereka. Meskipun kini mereka
hanya bisa bersenggama kala gerhana~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar