Rabu, 23 November 2016

Malam Tak Pernah Cocok Untuk ku

Kamu tahu betul aku membenci gelap, pun dengan malam

Rasanya semakin sulit untuk bertemu malam. Malam merenggut segalanya. Malam datang tanpa pernah permisi. Siklus alam yang tak pernah bisa disanggah.

Malam pantas untuk dibenci. Malam selalu merenggut indahnya hari, cerahnya cuaca, menyenangkannya udara pagi, dan tentu saja indahnya senja.

Nyatanya malam itu busuk, kejam dan seenaknya sendiri. Malam memisahkan matahari dan embun pagi.

Malam pun menghapus relief langit tanpa gundah dengan balutan awan putih. Malam itu kejam bukan?

Karena kau, aku membenci malam. Karena kau, aku tak menyukai malam. Siklus alam yang sebagian orang menantikannya. Siklus alam yang membuat manusia lainnya merasa tenang. Tapi tidak dengan ku. Kau tahu, (sekali lagi) karena kau aku membenci malam.

Malam selalu membuat ku lelah, membuat ingin segera beranjak untuk istirahat. Tapi dengan aku yang terlelap, kau selalu datang. Ya, selalu datang ketika aku terlelap, dan saat aku sudah lelah dan ingin terlelap kau selalu datang membawa mimipi buruk.

Dan kali seperti biasanya, malam selalu datang dan menjadi larut.

Mungkin memang malam tak pernah cocok untuk ku.

Senin, 14 November 2016

Tiba-Tiba Kamu Datang (1)

Tiba-tiba kamu datang..

Ya, mungkin judul itu sudah sangat menggambarkan sebuah situasi ku saat ini. Hampir 1 bulan aku sedang mengumpulka beberapa pecahan hati yang berhamburan entah kemana untuk sembuh. Dan proses itu tidak mudah. Proses dimana aku harus mengikhlaskan dia yang tiba-tiba pergi tanpa aba-aba.

Hati hancur, sudah pasti. Hari berantakan, tentu saja. Jadwal dan rutinitas ku kacau, sudah jelas. Hingga di siang yang cukup sendu, akhirnya aku menangis sejadi-jadinya. Disampingku, kamu hanya melihat ku dengan iba.

Lelah aku menangis. Kemudian random mulai mengajak mu sebuah percakan acak. Mulai dari bagaimana keadaan kekasih mu. Bagaimana pendapatmu tentang beberapa hal. Memperbincangkan tentang sebuah rasa yang ditinggal. Mendengarkan mu membahas banyak hal. Menyenangkan rasanya bagaimana kamu bisa bercerita tentang banyak hal. Dan aku menikmati cerita menarik mu :)


Hingga akhirnya aku meracau tentang pupusnya kisah ku dengan teman mu. Kamu dengan sabar mendengar semua keluhku, menepuk halus punggungku saat akhirnya beberapa bulir air di ujung pelupuk mata ku.


..


..

dan kamu menawarkan pundak mu saat aku tak sanggup mengangkat kepala..


Minggu, 13 November 2016

terima kasih, kamu!

Untuk ku, hari ini sebagai penikmat senja, ia masih datang dengan setiap rona merah dan jingganya yang indah. Pun dengan pagi masih setia datang tepat pada waktunya. Selepas hujan semalam, bau embun masih wangi. Mungkin yang berbeda, dingin agaknya terlalu mengigit membuat gigil ditubuh ku. Mungkin memang sudah musimnya, pagi mulai menjadi terlalu dingin - pikir ku. Atau memang aku yang terlalu meromantisir sebuah kejadian.

Ya, beberapa hari sejak kamu memilih untuk pergi dari ku, aku membiarkan diri ku patah hati. Menangis hingga aku merasa air mata ku tak ada. Membiarkan pikiran ku menyusuri setiap jejak memori yang pernah kita buat. Menikmati semua warnanya yang kemudian kelamaan menjadi kelabu, hingga ku pikir itu menjadi 1 warna - abu-abu. Rasanya seakan dunia ku runtuh. Ya, aku memang cengeng dan kamu tahu benar tentang itu. Menangisi mu, kalau aku pikir lagi yang mungkin sebenarnya tak perlu. Ya, tapi aku yakin kamu tahu rasanya saat pegangan mu menghilang, tapi disaat yang sama perjalanan mu sedang goyah.


-


Dan pada akhirnya, aku tahu, diri ku masih harus bangkit. Masih banyak keperluan yang harus aku kerjakan, ketimbang menangisi kamu. Masih ada kartu kredit yang harus ku bayar tagihannya. Hahaha. Tawa ku terasa aneh, kamu tahu.

Rutinitas ku kembali normal, sama persis seperti saat kamu masih disini. Semua masih sama. Hanya saja, tak ada lagi sapa selamat pagi dari kamu, untuk ku memulai sebuah hari. Tak ada lagi tatapan hangat mu ketika tak sengaja saling tatap. Tak ada lagi tawa renyah kita, saat bercerita dimakan malam kita sepulang mengais rupiah. Dan ya, tak ada lagi peluk hangat selepas hari yang cukup panjang dilalui, dan tak ada lagisenyum yang selalu ku lihat setiap malam saat kamu mengatarkan ku pulang. Ada yang hilang memang, harus ku akui itu.


.

.


Dan, kamu. Sungguh aku mengumbar aksara saat ini bukan karena aku merindukan mu atau mengharapkan kamu kembali dalam peluk ku. Percayalah, aku sudah menerima ini semua. Sesuai keinginan mu. Berdiri diatas kaki ku sendiri, tanpa beban, tanpa terpaksa. Mungkin memang waktu yang menyembuhkan ku. Rindu ku seakan sudah pergi tanpa jejak. Harapan-harapan yang dulu pernah membuncah juga sudah terbang entah kemana. Rasa yang pernah meluber juga sudah menguap dan menghilang begitu saja. Mata ku sudah terbiasa melihat tanpa mu. Telinga ku sudah lebih nyaman tanpa ucap mu. Hidungku sudah tak lagi mencari aroma tubuh mu. Bibir ku sudah tak tertarik lagi menyebut namamu. Kulitku menjadi lebih halus tanpa sentuhan tanganmu. Kamu tahu apa artinya? Ya, mungkin aku sudah bisa berpijak sendiri diatas bumi ku.

Dengan kenyaman yang aku dapatkan sekarang (dg tidak kehadiran mu), maka aku berterima kasih untuk kamu. Terima kasih karena sudah pernah sedekat urat nadi dan kulit. Terimakasih karena atas setiap jengkal hari yang sudah berlalu. Terima kasih untuk tawa yang selalu kamu hadirkan pada setiap kebersamaan kita. Terima kasih untuk pelukan hangat yang selalu kamu berikan setiap aku merasa dunia terlalu berat untuk aku hadapi.


...

..

Terima kasih karena sudah pernah menawarkan masa depan padaku.


-

Sungguh tak ada sedikitpun menyesal di hati ku pernah bertemu dan punya cerita hidup denganmu. Mengenalmu, mejalani sebagian hari-hari ku dengan mu. Belajar dari mu bagaimana kita harus memandang hidup dengan berbagai sudut pandang. Belajar menerima konsekuensi dari setipa perbuatan kita. Ya, banyak hal yang bisa aku pelajari dari hubungan kita.

.
..
...
Terimakasih kamu :)

Mungkin saat ini hidup mu jauh lebih bahagia tanpa aku, karena tidak ada lagi suara cempreng nan bawel yang selalu mengingatkan mu tentang ini itu.

..

Hidupku sekarang tentu lebih bahagia karena tak ada lagi laki-laki yang menawarkan kebahagiaan semu untukku. Kamu sudah pernah memilih bahagiamu bersama ku, dan aku pun menerimanya. Dan sekarang kamu sudah memilih bahagia mu sendiri dengan mundur dari penawaran menjalani masa depan dengan ku. Aku harap, berharap sekali, kamu tak salah jalan memilih bahagiamu untuk mundur dari cerita kita.



Kepergianmu di hidupku juga sudah membuat aku belajar banyak hal, terutama tentang tanggungjawab, komitmen dan sebuah konsistensi. Terima kasih sudah mengajarkanku tertawa saat menangis. Terima kasih sudah membuatku merasa dihargai sebagai wanita. Terima kasih sudah menjagaku dengan penuh rasa sabar. Terima kasih sudah selalu ada setiap aku membutuhkanmu.


..

..

Berbahagialah. Semoga memang dia satu-satunya yang kamu cari, hingga kamu bersedia untuk menyakiti hati dan menginjak-injak harga diri seorang gadis. Terima kasih sudah memilihkan jalan ini untuk ku. Terima kasih sudah memberikan kesempatan untuk aku bisa mendapatkan cinta yang lebih besar dari cintamu di masa depan ku nanti.


Terimakasih sudah memberikan pengalaman berharga ini, yang nantinya bisa aku ceritakan pada anak laki-lakiku nanti tentang bagaimana seharusnya seorang laki-laki bersikap.

Terimakasih untuk kamu, karena kepergian mu, itu artinya kamu memberikan aku kesempatan mendapatkan seorang yang bisa menerima ku dengan semua kondisi ku dan tidak pernah berpikir tentang sebuah tuntutan, menuntut dan dituntut.


Selasa, 04 Oktober 2016

Tentang Rencana Kepergian mu :') (1)


Beberapa waktu yg lalu aku mendengar kabar kalau kamu akan meninggalkan ku. Ku beritahu kamu lewat aksara ku ini, kalau  aku membenci sebuah perpisahan. Aku membenci sebuah kepergian. Maka kabar itu aku anggap sebagai angin aneh dengan hawa menggigit belulang ku, yang hanya numpang lewat. Tanpa ku gubris sepenuhnya.

Jadi aku tetap menyayangi mu seperti biasanya. Tetap mengagumi mu dalam senyum ku. Tetap menyisipkan namamu disela-sela percakapan ku dengan-Nya. Dan tetap menyemogakan kamu agar tetap dalam lindungannya, dilingkupi kebahagiaan yang berlimpa bersama orang-orang yang mencintaimu.

Hingga pada siang itu tangis ku pecah. Mendengar pengakuan mu tentang rencana kepergian mu yang pernah ku dengar sebelumnya. Dada ku sesak, ku tahan tangis ku berharap kamu akan berkata,"tidak, aku tak akan pergi kemana-mana. Kita akan tetap bersama". Walau aku tahu harapan ku hanya akan menjadi abu-abu. Aku memberanikan diri untuk membuka mulut walau rasanya sakit di dada menahan isak. Kepala ku pening seketika saat kamu meng-IYA-kan pertanyaan tersebut. Isak ku semakin dalam. Dada ku semakin sakit. Sungguh saat itu aku merasa terhianati. Aku yang mati-matian menyayangi mu, tapi kamu memilih untuk pergi.

Bagaimana aku akan belajar tetang ikhlas dari sebuah kepergian?
Seberapa akan sakitkah dada ketika kepergian mu terjadi?

Sampai saat ini yang aku pelajari dari sebuah kepergian, seperti yang suda-sudah hanyalah sebuah sakit yang akan mengajarkan bagaimana menabahkan hati lalu mengikhlaskan seseorang. Sunggulah aku mencintai mu dengan teramat. Mungkin aku salah satu yang tidak begitu dekat dengan mu. Tapi percayalah aku sungguh menyayangi mu.

Maka mungkin dengan mengikhlaskan kepergian mu - nanti - aku menyemogakan akan sama dengan proses ku mengikhlas kepergian dan kehilangan seperti sebelumnya. Sebab apakah kamu tahu, kalau cinta dan sayang selalu memberi ruang kebebasan kepada yang dicintainya. Dan itu yang sedang aku lakukan saat ini.

Dari ku yang masih berharap kamu untuk tetap tinggal.
Semoga esok hari mu tetap menyenangkan :)
Loveyou!

Minggu, 21 Agustus 2016

Jarak (dengan tanda kutip)

dua puluh satu agustus dua ribu enam belas,
jam sebelas lewat dua puluh lima menit.

Mungkin ini rasanya menjadi "anak rantau", jauh dari rumah dan harus berjuang.

Malam merangkak naik. Purnama mengintip malu dibalik awan. 15 purnama sudah terlewat. Ya rasanya seperti baru kemarin bukan, kita saling mengenal tanpa ada maksud untuk lebih dekat dari sekedar rekan kerja?

Dengan sangat terpaksa, akhir pekan ini tak bisa kita habiskan bersama. Aku yang harus mengurus beberapa keperluan di luar kota dan kamu yang masih dalam proses pemulihan dari - yang dokter sebut sebagai - terkena bakteri. 1 minggu yang cukup panjang bukan?
 
Ya, malam ini aku akan berceloteh tentang jarak. karena kebetulan kita sedang ada dalam sebuah jarak.

aku sungguh benci jarak. Apa yang menyenangkan dari sebuah jarak? Untuk ku tak ada, jarak hanya membuat ku frustasi.Jarak hanya membuat seseorang tidak bisa berdekatan. Jarak membuat ku tak bisa menatap wajah. Jarak membuat ku tak bisa menyentuh. Jarak membuat ku harus berpikir dua kali lebih sering dari yang seharusnya. Membuat ku jauh lebih sulit untuk memahami.

Berjarak membuat sebuah hubungan tak menjadi sehat. Untuk ku omong kosong, jika hubungan akan baik-baik saja jika itu berjarak.

Apa bagusnya sebuah jarak, tidakkah itu menyakitkan ketika rindu menggebu tapi kau tak ada disini? Kalau sejauh ini kita semua masih bertahan, entah apa yang kita pertahankan. Karena saat ini semua lebih terlihat seperti bayang-bayang. Ku lakukan semua seakan baik-baik saja, begitu aku meyakinkan mu - mungkin lebih tepatnya aku. Seakan aku tidak sedang terluka, seakan-akan tak ada air mata. Aku meyakinkan bahwa tak ada yang salah di antara kita.

Aku lelah,

Bisakah kita pulang(?)

Selasa, 17 Mei 2016

Tahunan, dan Happy Wedding Kamu !!

Tahunan.

Ya aku menyebut seperti itu. Atau menahun? Entahlah.

Hubungan yang berjalan selama bertahun-tahun. Perjalanan yang cukup panjang untuk mengenal satu sama lain. Hubungan yang membuat orang lain iri. Ya, kau selalu menyebutnya seperti itu. Hubungan dengan intensitas kebahagiaan yang tinggi. Mungkin kita sering tak sejalan namun kita bisa saling menahan ego. Hubungan dewasa dengan bumbu manis yang selalu kita banggakan.

Ya, aku banggakan. Bahkan sangat aku banggakan. Pun dengan dirimu. Kamu tak segan memperkenalkan ku dengan semua orang yang dalam hidupmu, mengatakan kepada mereka, aku adalah satu-satunya, wanita terakhir untuk berlabuh. Mungkin awalnya aku mendengar itu, seperti berlebihan dan hanya untuk menyenangkan ku saja, bahkan aku sempat berpikir pengakuan itu hanya untuk memperkenalkan eksistensi mu saja. Tapi kelamaan aku tahu, sebegitunya kamu bangga dengan hubungan ini.

Tahun pertama berjalan dengan semua ketidak sesuaian. Dengan semua perasaan aneh, bingung. Dengan semua ego ku yang tak mau mengalah. Dengan sikap mu yang tanpa kompromi. Dengan semua perdebatan yang kadang tak pernah ada jalan keluar. Tapi kita sama-sama bisa melewati itu semua. Tuhan Maha Baik bukan?

Memasuki tahun ke dua, kita mulai bisa menyelaraskan langkah. Mulai terbiasa dengan sikap masing-masing. Tahun tahun berlalu dengan cepat. Kita menyamakan persepsi hidup. Membangun visi bersama. Mempertahankan apa yang sudah kita bangun. Terimakasih banyak untuk tahun-tahun indah yang lalu.

Tapi ternyata tahun-tahun harus bertemu dengan hal menyakitkan. Kejadian yang membuat kita berdua sakit. Perih.

Dan untuk ku, itu menyisakan sebuah lubang hitam besar. Kemana visi yang kita bangun bersama? Kemana komunikasi yang dulu bangun? Semua hancur. Dinding yang dulu kita bangun, tiba-tiba hancur. Berserakan. Rata dengan tanah. Tak bersisa sama sekali. Dulu aku selalu berharap, bahwa dinding itu bisa kita bangun kembali. Tapi usaha ku seperti sia-sia. Hancur tak bersisa.

Menurut mereka yang melihat ku; aku seperti mayat hidup.

Kamu hilang. Tiba-tiba cahaya ku redup. Redup seketika. Hingga akhirnya mati sama sekali.


Dan aku benar-benar kehilangan mu.


Lagi-lagi hati ku hancur, hancur berkeping-keping. Menjadi serpihan kecil yang tak bisa disatukan lagi.

Setelah kejadian itu, aku benar-benar harus belajar hidup tanpa diri mu. Sulit memang. Tapi aku tahu, aku tidak boleh terpuruk sejauh itu.

Ku sibukkan diri ku. Bekerja tanpa kenal waktu.

Kamu tahu? Ini bukan seperti diriku.
Aku menangis ketika malam mulai beranjak naik. Aku benci malam. Malam selalu mengingatkan pada mu. Ketika harus mengingat mu, artinya ada luka yang belum benar-benar sembuh. Ada luka yang mugkin tak ada obatnya.

Kamu tahu, mungkin Tuhan jengah ketika namamu selalu muncul ketika percakapan ku dengan-Nya dimulai.

Tuhan, Kau tahu doa ku selalu sama. Tak bisakah Kau berbaik hati ku sekali lagi?

Kehilangan Ayah untuk ku sudah sangat sakit. Apakah aku harus merasakan kehilangan untuk kedua kalinya? Tak bisa aku memiliki salah satunya?


Selalin kedua orang tua ku. Kamu pernah menjadi salah satu hadiah dari Tuhan yang sangat aku syukur.

Dengan semua perih ini, aku tahu akan ada hal indah yang sedang disiapkan Tuhan.

Tapi, kamu tahu, aku berterimakasih untuk perasaan kehilangan ini. Aku belajar untuk bertahan, belajar untuk berdiri sendiri, belajar untuk dapat berjalan tanpa menengok ke belakang.

Hingga akhirnya aku kuat seperti sekarang. Kuat diatas kaki dan perasaan ku sendiri. Tanpa kamu disisi ku. Tanpa cinta yang dulu mati-matian aku pertahankan. Tanpa kamu. Terimakasih sudah pernah membuang waktu untuk menuruti ego ku. Terimakasih pernah merelakan sakit kepala dengan moody ku yang tak karuan. Aku ikut berbahagian untuk kamu yang saat ini sudah memiliki dia yang benar-benar bisa mengerti kamu. Aku ikut berbahagia untuk hari mu kemarin. :)



Semoga kalian berdua selalu dalam intensitas kebahagian tanpa putus. Memiliki sebuah keluarga kecil yang bahagia.

Happy Wedding, kamu!! :)


Jumat, 18 Maret 2016

Sepertinya Menyenangkan Hidup Seperti Kamu

Hujan turun dan saat ini aku sedang didepan netbook ditemani secangkir coklat panas, dan artinya malam ini akan menjadi malam mengenang yang entah sudah masuk episode keberapa.

Pernahkah suatu hari kau merasa dunia sedang sangat tidak bersahabat dengan mu? Pernahkah suatu ketika kamu merasa segala hal dalam hidup mu tiba-tiba menjadi tidak baik-baik saja? Walau seharusnya semua tak apa.

Pernahkah suatu ketika, kamu merasa sedang dikepung serangkaian masalah yang kamu saja terlalu lelah memikirkannya, dan merasa takkan mampu menyelesaika. Ah, mungkin kamu tak pernah merasakan perasaan seperti itu. Ku lihat kamu selalu baik-baik saja. Atau mungkin aku yang belum mengenal mu. Atau memang aku sama sekali tak mengenal mu. Entahlah.

Sepertinya menyenangkan sekali bisa hidup seperti mu. Kamu bisa melupakan masalah seperti seseorang yang sedang mencoba membersihkan debu di tumpukan buku lama. Hanya sekali tiup kemudian hilang.