Sabtu, 30 Januari 2016

Secangkir Kopi dan Hujan

Selamat sore untuk manusia-manusia yang setengah jiwanya ada di secangkir kopi.

Adalah sore terakhir pada bulan awal di 2016. Aku menyeduh segelas kopi. Rasa manis kadang membuat ku tersenyum dan pahitnya samar. Dan aku tersadar, di setiap kepahitan, Tuhan tidak pernah lupa menyisipkan sesuatu yang manis.

Lama-lama aku berpikir, kopi membuatku ketergantungan. Suatu pagi di bulan November, aku sengaja tidak minum kopi. Aku sengaja, supaya tidak ketergantungan dengan kopi, juga kamu. Karena kamu seperti kopi, membuatku ketergantungan.

Namun, berjuta detik setelahnya. Aku menulis tentang kopi dan menyelipkan kamu didalamnya. Bagiku, kopi selalu punya sisi menarik untuk ditulis, sama halnya dengan kamu. Menarik.

Hingga kini, kopi masih menjadi bagian dari hidupku. Juga kamu. Bahwa terkadang aku suka bermimpi terlalu tinggi, maka aku membutuhkanmu untuk mengingatkanku. Juga kopi untuk menghempaskan lelahku.

Memang banyak hal tidak harus kita mengerti, ada saatnya kita tidak harus mengerti apa-apa, tidak perlu memaklumi apa-apa, dan tidak perlu menyesali apa-apa. Kecuali hanya merasa, bergerak, dan menjelma. Aku suka ketika kamu menjelma kopi dan ketika kopi menjelma kamu.

Menakar kopi adalah keahlianmu. Punyamu; sesendok penuh kopi, dan dua sendok gula. Punyaku; kopi tak berampas yang kadang hanya menyisakan sedikit pahit. Di sana selalu ada sepotong rindu, terselip di cangkir-cangkir kopi, yang tak pernah selesai kita sesap bersama. Ada pula sepasang mata, menatapmu dengan penuh do'a.

Bukankah kita cukup bahagia meskipun hanya saling bertanya, apakah kita masih punya arti, dalam ukuran tahun cahaya? Ah, tidak. Terkadang, kamu lupa. Kopi mana yang aku suka. Kopi mana yang takarannya cukup untuk membuatku bahagia. Aku suka kopi, dan pahit sebagai canda di sela-selanya. Dan samar-samar manis sebagai akhirnya. Bukan pahit pada seluruh cangkirnya.

Hujan; "Dengan apa aku harus mempercayaimu?"
Kopi; "Dengan janjiku yang telah menggetarkan 'arsynya."
Hujan; "Pada siapa aku harus menagih janjimu?"
Kopi; "Allah. Emm, kamu nggak percaya sama aku?"
Hujan; "Percaya. Aku hanya sedang meyakinkan hatiku."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar